Muncul di Publik, Pemimpin Al-Qaidah Kritisi Perjalanan Revolusi Arab

KIBLAT.NET, Kabul – Pemimpin Al-Qaidah dr. Aiman Al-Zawahiri dalam rilis terbaru pesan audionya menyinggung masalah kegagalan revolusi Arab atau yang dikenal sebagai Arab Spring. Pesan audio berdurasi 12 menit tersebut diproduksi oleh sayap media Al-Qaidah, As-Sahab, pada hari Jumat (26/01/2018) pekan lalu.

Al-Zawahiri menguraikan pandangannya ini bertepatan dengan peringatan 7 tahun gelombang revolusi rakyat yang melanda sejumlah negara Arab di akhir 2010 dan awal 2011. Dalam pesan politik bertajuk “Tujuh Tahun Telah Berlalu, Di Manakah Pembebasan itu?”, ia memaparkan bahwa “semua revolusi berhasil dipadamkan, kecuali Suriah yang telah memasuki fase penyelesaian internasional”. Hal itu berarti negara-negara kuat dunia sedang mendikte arah berbagai peristiwa di Suriah.

Rezim-rezim diktator yang berhasil dilengserkan di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya semuanya telah kembali berkuasa dan bahkan lebih “jahat dan korup” dari penguasa sebelumnya. Lebih lanjut, kata dia, para jihadis harus belajar dari “pengalaman pahit” tersebut. Pelajaran pertama yang ingin beliau sampaikan bahwa jihadis tidak boleh mengkompromikan ideologi mereka sebagaimana yang dilakukan partai-partai Islam lainnya.

Al-Zawahiri lalu mengkritisi kelompok-kelompok Islamis seperti Partai An-Nahdhoh di Tunisia dan Ikhwanul Muslimin Mesir atas kegagalan revolusi Arab dalam rangka penegakan Syariat Islam di sejumlah negara. Pemimpin Al-Qaidah itu mengklaim “masyarakat Muslim” menuntut diterapkannya Syariah, tetapi kelompok dan partai-partai Islamis itu hanya tertarik dengan kekuasaan, lalu mereka membuat “berbagai konsesi” dengan kompromi yang mempertaruhkan ideologi mereka. Ia berpendapat bahwa An-Nahdhoh dan Ikhwanul Muslimin ingin supaya Barat dan Amerika tidak murka, padahal langkah keinginan semacam itu hanya akan membuat rezim penjahat yang sama akan kembali berkuasa setelah berhasil dilengserkan.

Pesan terbaru Al-Zawahiri ini tidak banyak berbeda dengan pesan sebelumnya yang dirilis pada bulan Agustus 2016. Saat itu, pemimpin Al-Qaidah pengganti Usamah bin Ladin ini komplain bahwa kekuatan “people power” telah gagal di Mesir, Tunisia, dan Yaman. Ia menyamakan Ikhwanul Muslimin Mesir seperti sebuah “peternakan unggas” yang menumbuhkan “ayam” dengan memberikan semua pakan dan lain-lain yang diinginkan ayam-ayam itu. Namun di sisi lain, membiarkan ayam-ayam tersebut “lengah” terhadap ancaman musang predator di sekitar mereka. Di pertengahan 2016, Al-Zawahiri belum yakin akan keberhasilan “proyek Islam” di Libya, namun harapannya saat itu ada di Suriah.

Namun demikian, di antara negara-negara yang gagal melakukan revolusi “Arab Spring”, Al-Zawahiri saat ini (kembali) menengok ke Libya. Ia menyesalkan bahwa sejumlah negara saat ini mampu mengendalikan konflik Suriah melalui uang, demikian juga sejumlah kelompok oposisi takut dilabeli sebagai teroris. Terkait labelisasi ini kita bisa melihat bagaimana upaya internasional yang dimotori AS menetapkan secara khusus individu dan kelompok-kelompok jihadis tertentu sebagai organisasi teroris.

Salah satu alasan misi penyatuan kelompok-kelompok oposisi oleh Al-Qaidah di Suriah menghadapi banyak kendala bahwa dengan labelisasi sebagai “teroris” sejumlah faksi khawatir akan berdampak buruk pada mereka. Meskipun Al-Zawahiri tidak menyebutkan secara eksplisit, Al-Qaidah sendiri awalnya berusaha “menutupi” kehadiran elemen-elemen dan jaringan mereka di Suriah untuk menghindari kecurigaan internasional.

Pesan terbaru Al-Zawahiri ini -termasuk pesan sebelumnya pada bulan Agustus 2016- dinilai sangat berbeda dengan respon awal Al-Qaidah terhadap gelombang revolusi Arab. Dalam prespektif Usamah bin Ladin, terdapat elemen-elemen di tubuh Ikhwanul Muslimin yang secara kuantitas cukup signifikan telah ber-metamorfosis ke jalur jihadis. Bin Ladin juga pernah menulis dalam kumpulan jurnal pribadinya sebelum gugur oleh pasukan Navy SEAL, bahwa gelombang revolusi Arab merupakan sebuah peluang yang unik untuk mewujudkan visinya.

Di samping itu, Al-Qaidah juga memerintahkan anggota-anggotanya untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok Islamis di negara-negara Arab dalam rangka mengarahkan mereka ke manhaj dan jalur jihadis. Di antaranya di Suriah sebagai contoh, anggota-anggota Al-Qaidah bekerja sama dengan berbagai macam kelompok oposisi Islamis dan Salafi, bahkan juga dengan kelompok-kelompok yang didukung oleh Barat.

Pernyataan sikap Al-Zawahiri yang menyesalkan kegagalan “peluang” revolusi Arab di sejumlah negara untuk mewujudkan sistem pemerintahan berbasis Syariat Islam tidak berarti bahwa hal itu gagal secara keseluruhan. Meskipun penegakan Syariat Islam di level negara belum berhasil secara masif, Al-Qaidah memiliki rekam jejak yang kuat dalam menyalakan api perlawanan di berbagai tempat di negara-negara tersebut.

Walau sempat mengalami kemunduran akibat tekanan yang begitu besar dan masif, unit-unit pasukan Al-Qaidah saat ini terus bertempur dan melancarkan gerilya di banyak negara, jauh lebih banyak daripada sebelum 11 September 2001. Dan satu fakta menarik, anak Usamah bin Ladin, yaitu Hamzah bin Ladin, mulai tampil ke publik setelah berlalu waktu yang tidak begitu lama semenjak kepergian ayahnya.

Sumber: Long War Journal
Redaktur: Yasin Muslim

The post Muncul di Publik, Pemimpin Al-Qaidah Kritisi Perjalanan Revolusi Arab appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Muncul di Publik, Pemimpin Al-Qaidah Kritisi Perjalanan Revolusi Arab"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close