Menandai Jalan Pulang Amerika dari Afghanistan

KIBLAT.NET – Media-media corong propaganda Amerika terus berusaha dan memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan gambaran atau imej bahwa misi militer AS di Afghanistan sukses. Namun apabila kita melihat realita di lapangan, situasinya sungguh sangat bertolak belakang. Demikian juga, jika kita merujuk ke sejumlah indikator, akan dipahami bahwa sebenarnya “bumi sedang berguncang di bawah telapak kaki mereka”. Cepat atau lambat, AS akan menarik mundur pasukannya dari bumi jihad Afghanistan.

Beberapa indikator di antaranya:

Pertama: Di setiap pertempuran, masing-masing pihak akan selalu mengklaim akan kehebatan strategi mereka, termasuk juga akan ada laporan yang berbeda-beda mengenai jumlah korban. Ketika mereka (AS) mengatakan akan menghancurkan musuh, tetapi di hari berikutnya mereka meminta negosiasi/perundingan damai, itu adalah indikasi bahwa perang telah membuat mereka bingung dan linglung. Sebagaimana ketika Presiden Trump dengan arogan menolak kemungkinan bernegosiasi dengan Taliban, tetapi di hari berikutnya wakil Menteri Luar Negeri John Sullivan mengundang Taliban untuk hadir di meja perundingan, dan bahkan meminta Pakistan untuk membantu memfasilitasi.

Seorang analis tentang Afghanistan, Waheed Muzhda, mengatakan ketika itu negara bekas Uni Soviet berada dalam situasi yang sulit di akhir masa pendudukannya di Afghanistan, persis seperti yang dialami Amerika hari ini. Mereka mengintensifkan serangan demi serangan di suatu hari, tetapi tak lama kemudian di hari yang lain mereka menyebarkan opini akan pentingnya negosiasi dan upaya untuk mencapai kesepahaman. Seperti orang yang sudah lelah dan tersesat bolak-balik di lintasan labirin mencoba mencari jalan keluar namun ujung-ujungnya selalu buntu, dan mereka tidak tahu harus bagaimana. Ini adalah indikasi kekalahan mereka (AS) yang tidak lama lagi akan terjadi, dan akan diikuti dengan penarikan mundur secara besar-besaran pasukan mereka. Inilah situasi yang mencerminkan keadaan Amerika hari ini.

Kedua: Di setiap medan perang dan pertempuran, pihak mana saja (diam-diam) akan melancarkan serangan mematikan untuk menekan musuh semaksimal mungkin tanpa harus banyak membual dan unjuk kekuatan seolah musuh telah dikalahkan, untuk kemudian mengumumkan secara riil kemenangan dan berhasil mencapai tujuan. Sementara, pihak yang merasa akan kalah karena sudah mulai kelelahan dan berfikir telah melakukan banyak kesalahan, selanjutnya akan memainkan kartu pencitraan dengan cara pamer kekuatan. Termasuk, mereka akan membuat laporan hoax dengan melebih-lebihkan kerugian musuh dan sebaliknya, dan menebar ancaman demi ancaman untuk menutupi kegagalan mereka.

Beberapa tahun sebelum ini, tidak pernah ada Presiden Amerika yang berbicara memamerkan kekuatan militer, termasuk kemampuan nuklir negaranya, apalagi mengusulkan acara seremonial parade militer sebagai sarana unjuk kekuatan. Hal itu karena semua orang sudah tahu tentang kekuatan militer AS, sehingga tidak perlu lagi dipamer-pamerkan. Meskipun demikian, hari ini AS merasa telah kehilangan status sebagai “kekuatan yang hebat” tersebut akibat kegagalan demi kegagalan dan kekalahan beruntun di medan perang. Oleh karena itu, Trump berupaya sekuat tenaga menutupi kekalahan Amerika dengan menebar ancaman dan sikap arogan.

Pekan lalu, Trump meminta agar militer dan para komandan militer menggelar parade. Di waktu yang sama, media-media corong propaganda yang sudah terbeli independensi mereka terus menebar opini tentang serangan udara Amerika, tentang superioritas teknologi Amerika, demi menebar ketakutan. Langkah-langkah sporadis semacam itu justru semakin menguatkan argumentasi bahwa Amerika sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan perang, dan saatnya menutupi kekalahan dengan unjuk kekuatan dan menebar ancaman kosong.

Ketiga: Jika anda ingin tahu apakah pemerintah itu berhasil atau gagal, jangan lihat pernyataan resmi para pejabat tinggi mereka karena sudah menjadi tugas bahwa mereka menerima gaji sebagai pejabat aktif untuk selalu berbicara tentang kesuksesan dan kesuksesan walaupun sebenarnya mereka gagal. Mereka bekerja dan digaji untuk menyatakan bahwa semuanya bagus dan berjalan baik-baik saja. Maka, standar atau cara mengetahui secara benar apakah strategi yang diterapkan pemerintah itu berhasil adalah dengan melihat pernyataan dari pihak independen yang tidak punya kepentingan, dan juga pernyataan para pejabat tingkat rendah.

Sedikit contoh tentang strategi perang Amerika di Afghanistan dapat dilihat sebagai berikut:

Dalam sebuah wawancara dengan Defence News, mantan Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan bahwa Amerika telah gagal mengakhiri perang di Afghanistan. Ini merupakan situasi terburuk yang pernah terjadi dan di saat yang sama Amerika sedang menuju kekalahan, walaupun sudah menghabiskan uang miliaran dolar selama tujuh belas tahun terakhir.

Beberapa hari sebelumnya, Menteri Pertahanan AS saat ini, James Mattis, duduk di kursi panas di hadapan Komite Dinas Militer DPR AS. Saat itu, senator Partai Republik Waltor Jones telah membuat telinga Mattis memerah dengan mengatakan bahwa Afghanistan adalah kuburan bagi imperium-imperium dunia, dan kita harus menerima kenyataan itu. Jones kembali menambahkan bahwa mantan komandan Korps Marinir (USMC), Jenderal Chuck Krulak pernah menulis email kepada dirinya bahwa, “ Tidak ada yang pernah berhasil menaklukkan Afghanistan, dan sudah banyak yang mencobanya. Kita akan masuk daftar negara-negara yang pernah mencoba dan (akhirnya) gagal”.

Berbagai kasak-kusuk yang terjadi hanya akan semakin menguatkan kesimpulan bahwa Amerika sudah mulai linglung di Afghanistan, dan bumi sedang mengguncang di bawah kaki mereka. Jika seandainya Taliban mau sedikit saja bertahan, mereka akan mendapat kemuliaan dengan mengalahkan imperium abad 21 ini sebagaimana bangsa Afghan sebelumnya yang juga telah gemilang meraih medali kemenangan abad 20 dengan menumbangkan superpower Uni Soviet.

Penulis: Yasin Muslim

The post Menandai Jalan Pulang Amerika dari Afghanistan appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Menandai Jalan Pulang Amerika dari Afghanistan"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close