“Teaterikal Penanganan Kasus Kondensat”

Oleh: Wenry Anshory Putra*

Setelah Kabareskrim Polri Komjen (Pol) Ari Dono Sukmanto menyatakan pihaknya telah mengirimkan red notice kepada Interpol atas tersangka Honggo Wendratmo, kini tersangka yang awalnya diduga melarikan diri ke Singapura tidak diketemukan jejaknya di negara tersebut.

Pada hari Senin 22 Januari 2018, Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Atase Polri di Singapura perihal hilangnya jejak tersangka di negara tersebut. Lanjut, Irjen (Pol) Setyo Wasisto menyatakan tidak menutup kemungkinan tersangka menggunakan identitas lain.

Kami menilai, Bareskrim Polri sangat perlu memaksimalkan instrumen dan jaringan yang dimilikinya sebagai aparat penegak hukum untuk secepatnya menangkap tersangka Honggo Wendratmo. Hal ini sangat diperlukan, misalnya sebagaimana Polri menangani kasus terorisme.

Bila kita membaca berbagai sumber pemberitaan di Media Massa, Polri dalam kasus terorisme mampu mengurai dan membongkar berbagai kasus. Misalnya, ketika Polri membongkar pelatihan ala militer di Pegunungan Jalin Jantho di Aceh. Polri menangkap perencana, peserta, dan pihak-pihak yang melindungi atau memfasilitasi pelatihan ala militer tersebut. Bahkan, Polri juga bekerjasama dengan PPATK dalam mengungkap aliran dana dalam berbagai kasus terorisme.

*Dalam pemaparan “Hasil Kinerja Polri Tahun 2017” di Gedung Rupatama Mabes Polri pada 29 Desember 2017, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menyatakan pihaknya berhasil membekuk 172 pelaku tindak pidana terorisme selama tahun 2017.*

*Dengan fakta yang disampaikan oleh Jenderal (Pol) Tito Karnavian tersebut, maka bukanlah sesuatu yang teramat sulit bagi Bareskrim Polri melacak jejak Honggo Wendratmo di dalam maupun luar negeri.*

Apabila Bareskrim Polri tidak memaksimalkan instrumen dan jaringan yang dimilikinya, maka ada indikasi para tersangka (Raden Priyono, Djoko Harsono, dan Honggo Wendratmo) akan menghilangkan barang bukti. Dikhawatirkan penanganan kasus Kondensat tidak transparan dan ada upaya diskriminasi, sehingga Bareskrim Polri tidak mampu membongkar pihak-pihak yang mendalangi kasus ini.

Oleh karena itu, kasus Kondensat yang dalam sejarahnya merupakan kasus terbesar kedua setelah kasus BLBI ini menjadi pertaruhan bagi Polri. Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian harus memastikan kepada jajarannya di Bareskrim Polri untuk benar-benar fokus menemukan jejak dan menangkap tersangka Honggo Wendratmo. Bila tidak, maka dipastikan masyarakat akan sangat pesimis Polri mampu menangani kasus-kasus korupsi yang nilainya fantastis.

*Demi penegakan hukum yang profesional, akuntabel, dan non diskriminasi, maka Polri dan Kejaksaan Agung harus melakukan upaya-upaya fundamental. Kami tidak ingin kasus Kondensat menjadi teaterikal dan “ATM Bersama” berbagai pihak.[***]

*Koordinator – Pergerakan Pemuda Merah Putih (PP Merah Putih)

Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/%E2%80%9Cteaterikal-penanganan-kasus-kondensat%E2%80%9D
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "“Teaterikal Penanganan Kasus Kondensat”"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close