Remaja Brutal, Tanggung Jawab Siapa?

KIBLAT.NET – Definisi remaja menurut Wikipedia adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa, tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa, antara umur 11 tahun sampai 21 tahun.

Banyak yang mengatakan bahwa masa ini adalah masa pencarian identitas diri. Ditandai dengan besarnya rasa ingin tahu dan mencoba hal-hal yang baru. Karena masa remaja adalah masa peralihan, maka masa ini adalah masa yang sangat sensitif. Artinya bila masa ini dilalui dengan penuh bimbingan yang baik dari orang tua ataupun lingkungan, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang penuh tanggung jawab dan lurus. Sebaliknya bila pada masa ini anak di biarkan tanpa bimbingan yang baik, maka bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi nakal bahkan brutal.

Seperti kejadian penjarahan oleh sekelompok remaja beberapa waktu yang lalu di sebuah toko pakaian atau distro Fernando Store di Jalan Sentosa Raya, Depok Tengah, Sukmajaya, Kota Depok, Minggu (24/12/2017) pagi sekira pukul 04.42 WIB. Dalam aksinya, mereka melengkapi diri dengan senjata tajam sehingga membuat penjaga toko dan warga sekitar tak berkutik. Ironisnya, dalam aksi pencurian yang terekam CCTV itu, pelaku tampak masih berusia belasan tahun. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah perempuan.

Secara membabi buta, kelompok remaja itu langsung menjarah sejumlah pakaian, mulai dari baju hingga celana. Tampak pula remaja lain mengacungkan senjata tajam untuk menakuti penjaga toko. (Okezone.com/ 24-12-2017)

Siapapun pastinya merasa miris saat mendengar atau membaca berita tersebut. Khususnya para orang tua. Tapi itulah kenyataan remaja saat ini. Sungguh kelakuan mereka sudah sangat mengkawatirkan. Mereka berani mengumbar kemaksiatan dan kejahatan tanpa rasa malu. Kejadian penjarahan  yang dilakukan oleh remaja adalah salah satu dari sekian banyak kelakuan remaja yang  menyimpang dari norma dan agama.

Fakta di atas adalah sekelumit realita yang tak lain merupakan buah dari penerapan sistem sekular. Nilai-nilai agama tidak lagi menjadi pijakan dalam berbuat, bahkan dimarjinalkan.  Agama hanya ada di ranah masjid dan pesantren. Agama di pakai saat aqad nikah dan proses kematian. Sedangkan dalam aspek kehidupan lain, agama dianggap tidak ada. Manusia bebas berbuat sesuai kemauannya. Padahal ketika agama ini terpisah dari kehidupan maka kerusakan akan bermunculan.

Di dunia pendidikan, bisa kita lihat untuk pelajaran agama jumlahnya sangat sedikit. Saking sedikitnya sehingga tidak memberikan efek pada tingkah laku anak. Ditambah paradigma pendidikan saat ini yang hanya mengejar nilai semata. Sehingga siswa belajar hanya untuk mendapatkan nilai tinggi saja, bukan untuk mengubah perilaku. Selain itu, paham islamofobia juga tengah merambah ke negeri mayoritas muslim ini. Sehingga kegiatan seperti Rohis yang ada di sekolah-sekolah dianggap sebagai gembong teroris.

Ciri khas yang lain dari sistem sekuler adalah memakai kebahagiaan hanya dengan materi. Maka tak heran manusia disibukkan hanya dengan urusan materi, baik uang, karier dan jabatan. Termasuk para ibu yang berbondong-bondong keluar untuk bekerja. Akhirnya banyak ibu yang meninggalkan tugas utamanya yaitu ummu warobbatul bait ( ibu dan pengatur rumah tangga) dan mengasuh serta mendidik anak-anak. Efeknya luar biasa, di antaranya adalah kenakalan remaja terus meningkat. Inilah akibat dari  anak kehilangan kasih sayang dan bimbingan dari ibu. Sehingga mereka menjadi anak-anak yang nakal bahkan brutal.

Islam melahirkan generasi shalih dan muslih melalui peran 3 pilar, yakni keluarga, kontrol masyarakat dan negara .

Pilar pertama keluarga. Tugas mendidik yang pertama dan utama itu ada pada orang tuanya, khususnya ibu. Maka sudah selayaknya ibu menjalankan fungsi utamanya. Yaitu mendidik dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Memberikan perhatiannya secara penuh dan menjadi teladan untuk anak-anaknya. Orang tua menjadi tempat mereka bertanya dan mencurahkan perasaan mereka. Kalau fungsi orang tua berjalan dengan baik, khususnya ibu, maka bisa dipastikan kondisi anak-anak akan baik. Apalagi di dukung oleh masyarakat dan negara yang baik.

Namun bila fungsi orang tua, khususnya ibu itu hilang, maka anak-anak akan tumbuh menjadi remaja yang tidak malu berbuat maksiat. Mereka menjadi liar dan brutal. Bahkan hidup di jalanan. Bukan mereka kekurangan materi, tapi mereka kekurangan kasih sayang dan teladan dari orang tua.

“Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa yang tidak memperoleh tatakrama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orangtua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengejarnya.” (Ibnu Khaldun)

Saat pengasuhan dan pendidikan anak diserahkan kepada orang lain. Atau anak dibiarkan tapa pengarahan dan pantauan orang tua maka anak akan menjadi anak yang terdidik oleh zaman.  Maka bukan tidak mungkin, ketika zaman rusak tentu akan menggilas merek.

Pilar yang kedua adalah kontrol masyarakat. Selain pendidikan dalam keluarga, Islam mendorong untuk saling mengingatkan dan menasehati. Jadi bila ada yang melakukan tindakan kemaksiatan maka siapapun harus menegurnya. Dengan begitu, siapapun termasuk para remaja  akan sungkan untuk melakukan tindak kejahatan atau kemaksiatan. Karena setiap orang akan berusaha untuk mencegahnya dari berbuat maksiat dan kejahatan.

Sebagaimana hadist Nabi SAW ‘‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Pilar yang ketiga adalah negara. Sehebat apapun penjagaan  oleh orang tua kepada anak-anaknya tidak akan mampu tanpa didukung oleh negara. Dalam Islam negara bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian remaja yang tangguh, melalui pendidikan berbasis aqidah. Dengan itu, remaja memiliki benteng dari tindakan brutal, karena akidah Islam akan menuntunnya selalu melakukan hal yang baik. Negara Islam akan memberlakukan pencegahan yaitu dilarangnya khomr, narkoba dan tempat-tempat kemaksiatan termasuk situs-situs porno. Kemudian juga  akan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan. Tidakkah kita rindu pada penerapan syariah Islam  secara kaffah? Wallahu a’lam bis shawab

Penulis: Verawati (Ibu rumah tangga)

The post Remaja Brutal, Tanggung Jawab Siapa? appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Remaja Brutal, Tanggung Jawab Siapa?"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close