Perlukah Kurikulum Pranikah untuk SMA?

KIBLAT.NET, Jakarta – Pendidikan Pranikah tak dipungkiri sangat dibutuhkan dewasa ini. Pasalnya, tingkat perceraian meningkat hingga 400% sejak 2008, salah satu hal yang mendasar adalah kurangnya ilmu terkait kerumah tanggaan.

Jika orangtua tidak mampu mendampingi buah hati untuk mempersiapkan posisinya di masa depan dalam keluarga, maka secara tidak langsung tanggung jawab pendidikan itu diserahkan kepada guru yang ada di sekolah. Pertanyaanya, apakah setingkat Sekolah Menegah ke Atas sudah dinilai perlu dibekali konsep pranikah.

Psikolog perkembangan anak di Yayasan Kita & Buah Hati, Rahmi Dahnan Psi mengungkapkan bahwa ada urgensi di tingkat dini untuk pembekalan pranikah, karena dari beberapa poin pihak yang mengajukan gugatan cerai adalah pasangan nikah dini.

“Pembekalan pranikah penting untuk memberi kan arahan kepada remaja bahwa menikah membutuhkan pemahamann yang jelas,” ungkap Rahmi saat dihubungi Kiblat.net, Sabtu (20/01/2018).

“Ilmu nikah mumpuni itu baik dari hukum atau fikih munakahat, hak dan kewajiban suami istri, Kesehatan reproduksi, pendidikan anak dan lain lain,” lanjutnya.

Ia kembali menekankan pentingnya pendidikan pranikah di masa remaja, karena jika tidak diajarkan, maka akan cenderung kepada terjadinya seks bebas. Ia pun tak memungkiri bahwa di Pondok pesantren sudah diajarkan bab pranikah, namun perbandingan antara di Pondok Pesantren dengan di SMA adalah terkait pembahasannya.

“Kalau di pesantren kan terkait fikih. Di SMA masuk di kurikulum biologi tentang reproduksi tapi bukan fikih menikah,” ungkapnya.

Sedangkan tingkat perceraian disebutnya paling tinggi karena masalah pengasuhan yang tidak jelas, Aqidah yang kurang kuat, dan Degradasi Moral.

“Iya itu sebenarnya bagus bahwa di pondok pesantren sudah dimasukkan menjadi kurikulum (bekal nikah), bahwa halal seks adalah bagian dari pengetahuan bagian remaja. Jadi artinya pendidikan bekal nikah ini menjadi tanggung jawab orang tua dalam menerapkan pendidikan seperti apa kepada anaknya,” ungkapnya saat ditemui Kiblat.net di Kantor Kementrian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (19/01/2018).

Pendidikan pranikah disebut Rahmi merupakan bekal penting yang harus diajarkan kepada anak didik minimal sejak jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), karena ini adalah bekal penting agar ketahanan rumah tangga tetap solid, dan tingkat perceraian di Indonesia tidak makin tinggi.

“Ini adalah kewajiban orang tua, dan tujuan pendidikan adalah diantaranya menjadikan seorang anak menjadi hamba Allah yang bertakwa, dan menyiapkan laki-laki menjadi calon suami dan menyiapkan seorang perempuan menjadi seorang istri dan keduanya menjadi ayah dan ibu yang baik,” ungkapnya.

Selama ini, tingkat perceraian di Indonesia naik yang lalu hingga saat ini, dan diantara penyebab hancurnya institusi rumah tangga, sebut Rahmi, karena kurangnya pemahaman berkeluarga yang baik, dan tidak bisanya saling menjaga emosi.

“Kalau dulu para orang-orang tua kita yang menikah karena dijodohkan, meskipun awalnya tidak mengenal calon pasangannya, tapi tetap langgeng, bahkan sampai beranak banyak. Hal itu karena pendidikan dari orang tuanya dan juga kedekatan pribadinya kepada Allah, jika setiap yang dipermasalahkan dapat di komunikasikan dan diadukan kepada Allah, semua insyaAllah akan beres,” tukasnya.

Tidak dipungkiri, di beberapa pondok pesantren sudah menerapkan kurikulum yang mengandung bekal untuk kehidupan berumah tangga di kemudian hari. Sebut saja Pondok Pesantren Darusy Syahadah di Boyolali, Jawa Tengah, mereka menerapkan kurikulum untuk kelas akhir – setara dengan kelas 3 SMA yang mengandung bekal berumah tangga.

Lulusannya yang sudah mendapat pekerjaan ketika tak berselang lama setelah wisuda dan berkehendak menikah pun sudah memiliki ilmunya, dan di berbagai tempat dirasakan pernikahan mereka pun tidak terdengar kabar perceraian yang tinggi.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Hunef Ibrahim

The post Perlukah Kurikulum Pranikah untuk SMA? appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Perlukah Kurikulum Pranikah untuk SMA?"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close