Output Sistem Demokrasi Liberal, Prosedural, Kriminal dan Brutal

Output Sistem Demokrasi Liberal, Prosedural, Kriminal dan Brutal. ( Sebutan utk demokrasi tsb semua berasal dari intelektual Indonesia).

Misalnya :
Jabatan Presiden
1. Dipilih utk 2 x 5 tahun.
2. Tahun Pertama : sibuk konsolidasi kekuasaan, sibuk mengeliminir potensi yg akan ganggu kekuasaan.
Akibatnya belum bisa fokus memikir nasib rakyat. Fokus atur barisan pengaman kekuasaan.

3. Tahun kedua. Mulai mencoba kerjakan program program yg dijanjikan. Mulai diseleksi mana yg dampaknya lbh cepat dirasa oleh rakyat pemilih. Program atau rencana yg idealis seperti : Revolusi Mental, Trisakti, Nawacita dll yg kurang praktis, dikerjakan apa adanya.

Program Pemerintah yang lalu meskipun bagus dicoret atau dimodifikasi meskipun masuk RPJM rezim lalu.

Infrastruktur dipilih karena secara pisik lebih cepat tampak nyata hasilnya dimata rakyat.

Akibatnya : apapun caranya ditempuh utk cari dana demi infrastruktur( tambah hutang, jual aset strategis, menghilangkan subsidi buat rakyat, naikkan harga listrik, impor demi dapat “pembagian laba”, genjot pajak dll ditempuh dg nekad).

4.Tahun Ketiga. Mulai ngeceng, mulai pasang aksi, mencoba mengulangi cara lama misalnya blusukan yg dimodifikasi, kampanye terbuka atau terselubung. Berita berita yg kira kira negatif, mulai disensor lewat tekanan ke medsos atau media online. Potensi yg akan ganggu atau menjadi saingan diganggu atau dipojokkan. Rekayasa opini atau survei mulai diatur. Pemetaan partai yg akan dukung atau tidak dilakukan secara intensif.Bila perlu dilakukan tekanan.

Akibatnya : perhatian terhadap masalah rakyat berkurang.

5. Tahun keempat dan kelima. Masuk tahun politik. Konsolidasi pemenangan utk jabatan kedua kali dilakukan intensif. Kelompok pendukung pendanaan dikonsolidasi. Instrumen pemenangan seperti : intelijen, birokrasi, tokoh parpol, tokoh media, tokoh LSM dan Tim Pendukung, Tokoh survei, Tokoh KPU/ KPUD, MK dan KPK kalau msh bisa dipengaruhi dilibatkan, TNI, Polisi, Kejaksaan di kondolidasi. Jaringan internasional diintensifkan. Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat didekati.

Akibatnya dana dan fasilitas dan “pengorbanan negara” diperlukan banyak sekali. Dana Negara sungguh banyak harus di korbankan.

Kesimpulan : Sistem liberal ini banyak menghabiskan waktu utk mengkosolidasi kekuasaan demi terpilih utk periode berikutnya. Hanya sedikit waktu utk berbuat optimal buat rakyat. Program utk memajukan bangsa dan negara yg bersifat mendasar, terabaikan demi meraih kekuasaan berikutnya.
——————————
Pertanyaannya : Dengan segala cara dan pengorbanan sebesar itu, apa yg didapat oleh bangsa dan rakyat.

Apakah rakyat menjadi lbh makmur dan sejahtera? Apakah IPM kita lbh meningkat dibanding negara tetangga? Apakah hutang makin berkurang? Apakah harkat dan martabat rakyat Indonesia makin meningkat di mata Internasional? Apakah kemiskinan makin berkurang? Apakah pengangguran berkurang? Apakah indeks kesenjangan ( gini ratio menurun)? Apakah kualitas pemimpin terpilih makin baik? Apakah mental dan moral rakyat makin maju? Apakah manusia baik, jujur, berintegritas dan cerdas terpakai optimal? Apakah penguasaan SDA dan Sumber Daya Financial dan Ekonomi makin dlm kendali negara ? Apakah rakyat makin banyak yg hidup dari bisnis produktif atau hidup dari ekonomi gelapn( back office economy ?).

Perlu dipikirkan sistem ketatanegaraan yg tidak terlalu sibuk berat ke proses dan prosedur meraih kekuasaan, tetapi bagaimana kekuasaan bisa mengabdi optimal utk rakyat, bangsa dan negara.

M.Hatta Taliwang/23/1/2018.

Tags: 
Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/output-sistem-demokrasi-liberal-prosedural-kriminal-dan-brutal
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Output Sistem Demokrasi Liberal, Prosedural, Kriminal dan Brutal"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close