Memilih tinggal di pinggiran, pengungsi Rohingya menolak kembali ke Myanmar

Arif Ahmad merasa agak lega saat dia duduk di samping sebuah perairan berlumpur di tanah tak bertuan yang berada di sepanjang perbatasan Bangladesh dan Myanmar.

Nasib pengungsi Rohingya tergantung pada ketetapan pekan ini ketika rencana untuk memulangkan anggota minoritas Muslim yang teraniaya dari Bangladesh ke negara bagian Rakhine, Myanmar.

Rencana itu sekarang telah ditunda, tapi Ahmad dan pengungsi lainnya yang tinggal di kamp informal dekat desa Gundum, kurang dari satu kilometer dari Myanmar, tidak dapat berhenti memikirkan kemungkinan kembalinya mereka.

“Bangladesh bukan tanah airku, Myanmar adalah tanah airku,” ujar Ahmad.

“Jika situasi tenang, aku akan kembali ke rumah, dan dengan harapan tersebut, aku tetap berada di sini.”

Layanan telepon di kamp tersebut naik turun, namun para pengungsi sering mendaki bukit terdekat untuk mendapatkan konektivitas yang lebih baik. Di sana, mereka tetap mengetahui kabar terbaru terkait pemulangan oleh pemerintah Bangladesh dan Myanmar di media sosial.

“Setiap hari setelah sholat Isya, kami pergi ke puncak bukit dan mencari tahu apa yang terjadi melalui Facebook,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Para pengungsi di kamp ini hanyalah sebagian kecil dari 650.000 orang Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar selama lima bulan terakhir setelah tindakan keras brutal militer Myanmar terhadap komunitas mereka.

Tapi banyak di sini yang mengetahui bahwa mereka bisa menjadi orang pertama yang dipulangkan karena mereka tinggal di wilayah yang ambigu, tanah tak bertuan.

Sangat Ironis. Meskipun telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi, banyak Muslim Rohingya yang ditolak pengakuan hukumnya di sana dan umumnya dipandang sebagai imigran ilegal asal Bangladesh. Dan meskipun pemerintah Bangladesh mengatakan sekarang ada lebih dari satu juta orang Rohingya yang tinggal di dalam wilayahnya, namun mereka juga tidak mengakui Rohingya sebagai miliknya. Ketika menyangkut kewarganegaran, orang-orang yang tinggal di kamp ini secara harfiah tidak memiliki kebangsaan.

Lokasi kamp sangat sulit dicapai. Lembaga bantuan tidak dapat mengakses kamp secara langsung dan keterlibatan Bangladesh juga sangat terbatas.

Tapi tetap saja, mereka memilih untuk terus tinggal di tanah tak bertuan. Dan ragu untuk pindah ke Bangladesh karena mereka masih memiliki ikatan ke Myanmar-satu-satunya negara yang pernah mereka sebut sebagai rumah-meskipun ada penganiayaan yang mereka hadapi di sana.

Ahmad adalah seorang pria yang terjebak di antara keduanya, baik dari segi tempat tinggalnya saat ini dan harapannya untuk pergi kemana. PBB telah menyebut tindakan keras Myanmar sebagai pembersihan etnis, dan Ahmad sangat menyadari kenyataan ini dan bagaimanapun hal itu membuat pulang ke rumah menjadi gagasan yang jauh dari pikirannya.

“Mereka membunuh dan menembaki orang-orang, melempar anak-anak ke dalam api hidup-hidup, memperkosa wanita. Ini bukan tempat yang cocok bagi siapa saja untuk hidup.”

Masalah dokumentasi

Meskipun sekarang tidak jelas kapan operasi pemulangan dimulai, baik Myanmar dan Bangladesh mengatakan bahwa mereka bekerja untuk hal itu. Pemerintah menandatangani sebuah kesepakatan mengenai masalah ini pada November lalu dan laporan mengindikasikan bahwa 1.500 orang akan dipindahkan melintasi perbatasan per minggu.

Tapi organisasi kemanusiaan telah menyatakan keraguan besar atas rencana tersebut dan khawatir bahwa tidak ada perlindungan yang cukup untuk komunitas Rohingya begitu mereka kembali.

Seorang rohingya berbicara kepada Al Jazeera mengatakan pemimpin komunitas di kamp terdekat lainnya menyuarakan keprihatinan serupa pada akhir pekan lalu, mengeluarkan daftar tuntutan untuk Myanmar untuk melakukan pertemuan sebelum mereka secara rela kembali ke negara tersebut.

Ini termasuk pemberian kewarganegaraan, pengakuan hukum atas komunitas mereka dan kembalinya tanah mereka.

Myanmar telah mengaakan bahwa mereka yang dapat membuktikan bahwa mereka adalah warga di negara tersebut, dapat kembali. Namun, itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, karena sejarah panjang membuktikan orang Rohingya selalu ditolak mendapatkan dokumentasi resmi.

Ahmad dan pengungsi lainnya yang tinggal di tanah tak bertuan menunjukkan kepada Al Jazeera sebuah daftar kartu resmi dan surat-surat yang dikeluarkan oleh Myanmar. Tapi saat mereka bersemangat meletakkannya di atas meja, semakin jelas dokumen tersebut kemungkinan akan berpengaruh kecil jika terjadi pemulangan. Tidak ada yang memberi mereka hak kewarganegaraan yang mereka katakan pantas mereka dapatkan.

Seorang pengungsi, Muhammad, mengatakan ia memiliki kartu identitas yang dikenal sebagai Kartu Registrasi Nasional (NRC) yang dia yakni akan memberinya pengkuan hukum jika dia kembali ke Myanmar.

Tapi dia masih takut untuk kemali, apalagi setelah ia menerima pesan awal bulan ini. Menunjukkan sebuah foto wajahnya yang dipublikasikan online oleh pemerintah Myanmar dan ia dituduh sebagai anggota ARSA, kelompok perlawanan Rohingya.

“Itu sangat sangat buruk, saya terkejut. Saya tidak tahu menahu soal ARSA. Mengapa pemerintah Myanmar menuduh saya berada di ARSA?”  (haninmazaya/arrahmah.com)

The post Memilih tinggal di pinggiran, pengungsi Rohingya menolak kembali ke Myanmar appeared first on Arrahmah.com.



from Arrahmah.com https://www.arrahmah.com/2018/01/26/memilih-tinggal-di-pinggiran-pengungsi-rohingya-menolak-kembali-ke-myanmar/
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Memilih tinggal di pinggiran, pengungsi Rohingya menolak kembali ke Myanmar"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close