LGBT: Aku Orang Indonesia atau Bukan?

Oleh: Asp Syam

Sejak Indonesia merdeka  tidak pernah ada ribut-ribut soal LGBT. Orang-orang LGBT bukan tidak ada. Mereka tidak pernah diusik atau dimasalahkan oleh masyarakat Indonesia. Tidak pernah ada LGBT yang dianiaya.  Damai-damai saja. Sangat penuh toleransi.

Tapi kenapa sekarang, tiba-tiba  kita orang Indonesia seperti  diajarin soal LGBT?

Para agen-agen  liberal berpura-pura mengalihkan masalah LGBT sebagai issu politik saja, karena musim Pilkada.

Masalah sesungguhnya adalah perang budaya , segmen dari konflik peradaban.Mulai tahun 2000-an pemikiran liberalisasi mulai dihembuskan. Semua mau diberalkan termasuk faham agama. Sejak itu pula masalah  LGBT muncul dipermukaan.

Masalah LGBT bukan soal kecil, tapi berangkat dari gagasan untuk melibaralkan kehidupan masyarakat Indonesia. Agen-agen liberal ditempatkan untuk mempromosikan liberalisme. Hanya ada satu budaya didunia yaitu liberalisme. John Naisbitt, futurolog menyebutnya “one single global  culture” (hanya satu budaya global).Jutaan dollar    untuk misi ini. Dana mengalir dari Rockefeller (Yahudi) kepada institusi PBB dan LSM-LSM lokal sebagai agen pendukung liberalisme.

Tujuan liberalisasi untuk mencabut akar budaya masyarakat Indonesia. Agar masyarakat Indonesia tidak lagi menjadikan agama dan adat istiadat sebagai nilai-nilai yang menjadi panduan kehidupkannya. Agar masyarakat Indonesia mengikuti kehidupan yang bebas seperti masyarakat Barat.

Agen-agen liberal akan terus bekerja. Tuntutan melibaralkan masyarakat Indonesia akan terus berjalan dengan alasan HAM(individualisme).Semua nilai-nilai kehidupan ingin di liberalkan termasuk syariah agama agar makin longgar dalam masalah haram.Kalau LGBT sudah dilegalkan, kelak akan disusul permintaan untuk melegalkan kumpul kebo (samen leven). Sesudah itu mereka akan memperjuangkan liberalisasi penjualan minuman keras, liberalisasi aborsi dan dan seterusnya. Perjuangan ini tidak akan berhenti sampai semunya diliberalkan dalam masyarakat Indonesian, tercabut dari akar budayanya.

Agen-agen liberal  berusaha keras melegalkan semua yang buruk mengancam memaslahatan masyarakat Indonesia. Sedangkan masyarakat Amerika sendiri mulai sadar dan merasa bersalah melegalkan aborsi. Baru-baru ini ada demo anti aborsi.

Padahal , bangsa Indonesia memiliki Pancasila. Soekarno menyebut Pancasila digali dari bumi Indonesia, sehingga sesuai nilai-nilai (agama dan adat-istiadat)  masyarakat Indonesia. Semua sila-sila dari Pancasila terutama Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan akar budaya masyarakat Indonesia.

Para pendiri negara sejak awal sudah menolak faham individualisme -liberalisme. Indonesia merdeka dan didirikan bukan  atas dasar faham individualisme-liberalisme, tetapi atas dasar faham kolektivisme- kebersamaan- kegotong royongan- musyawarah sesuai Pancasila. Kepentingan umum (bersama) diatas kepentingan individu. Kepentingan individu (HAM) mesti tunduk pada kemaslahatan bersama (umnat)

Jadi mari bersama bermuhasabah (introspeksi) apakah aku ini bagian dari masyarakat Indonesia?. Kenapa mesti aku berjuang ingin merubah/mencabut nilai-nilai (agama dan adat istiadat) masyarakat Indonesia? . Kenapa aku harus bikin kegaduhan dalam masyarakat Indonesia yang selama ini telah hidup penuh toleransi dan damai.

Salam damai Indonesia.

Tags: 
Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/lgbt-aku-orang-indonesia-atau-bukan
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "LGBT: Aku Orang Indonesia atau Bukan?"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close