Kuda Hitam Pilgub Jawa Timur

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

Memasuki medio Januari 2018, iklim politik Indonesia kembali menggeliat seiring dengan bakal berlangsungnya Pilgub secara serentak di 17 provinsi, dinegeri ini pada pertengahan tahun 2018 nanti.

Masa pendaftaran untuk pilkada serentak 2018 tinggal hitungan detik saja. Nama-nama Cagub dan Cawagub yang ingin meramaikan pilgub jatim sudah disiapkan oleh mesin-mesin partai politik yang akan maju dalam kontestasi pilgub jatim, untuk memperebutkan kursi panas jatim yang merupakan basis warga nahdliyin.

Pendaftaran bagi Cagub/Cawagub akan dibuka pada 8-10 Januari 2018. Tentunya, masih ada waktu hingga menit-menit terakhir pendaftaran bagi Cagub dan Cawagub yang ingin maju, *untuk memperebutkan jabatan orang nomer 1 dan nomer 2 di jawa timur*.

Kontestasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur utamanya di ranah Jawa sangat menarik untuk disimak intensitas kompetisinya. Beberapa partai politik saling menjajaki dan terpolarisasi dalam setidaknya menjadi 3 kelompok koalisi demi memenangkan jagoan masing-masing di jawa-timur ini.

“Telaah Dalam Persaingan di PilGub Jatim”

Sebagai provinsi dengan atribut jumlah penduduk terbesar kedua setelah Jawa Barat, wilayah Jawa Timur menjadi sangat sexy karena merupakam salah satu barometer menuju kontestasi Pilpres 2019. Esensinya, *koalisi yang sukses merebut kursi Jatim 1 nantinya, koalisi itu pulalah yang kedepan akan memiliki kans untuk memenangkan kontestasi politik RI 1 di 2019 nantinya*.

Secara polarisatif, saat ini dalam Pilgub Jawa Timur, ada 3 paket calon gubernur dan wakil gubernur yang hendak berkontestasi, yakni pasangan Khofifah-Emil Dardak (koalisi partai Demokrat, Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP) Gus Ipul dan pendampingnya (Koalisi PDI dan PKB), dan satu kandidat lain (Koalisi Gerindra, PKS, dan PAN) yang hingga saat ini belum menentukan sikap politiknya terhadap siapa kandidat yang akan diusungnya.

Yang menarik untuk saya elaborasi kepada para pembaca adalah calon kandidat yang akan menjadi *Kuda Hitam* dalam kontestasi pilgub jatim dari Koalisi permanen antara Gerindra, PKS, dan PAN. Kemudian dalam pilgub jatim semakin menarik ketika Cawagub koalisi PDIP dan PKB Abdullah Azwar Annas mengundurkan diri di detik-detik terakhir karena faktor *Character Assasination dalam pilgub jawa timur*.

Setelah beberapa calon dikedepankan pada beberapa hari yang lalu dari beberapa nama yang sempat mewarnai dinamika politik di jawa-timur yaitu; *(Lanyala Mataliti, Mahfud MD, Mukhlas Siddiq, Yenny Wahid, dan Moreno Suprapto)*, dan mereka pun tidak mengerucut menjadi calon yang akan diusung oleh koalisi permanen tersebut, saya akan mencoba mengeksposisi calon terbaik yang sesuai dengan kebutuhan aktual di Jatim untuk masa lima tahun yang akan datang.

Kombinasi purnawiran TNI dan Sipil untuk Jatim

Kejelian strategis politik sebagai mantan prajurit komando, Prabowo Subiyanto dalam memformulasi platform calon Gubernur di Jabar dan Sumut bisa menjadi preferensi utama untuk pemformulasian duet calon yang sama di Jatim dan kembali akan mengejutkan panggung politik di jawa timur.

Ketika Letjend. Eddy Rahmayadi dan Mayjend Purn Sudrajat menjadi andalan Prabowo untuk memenangkan kontestasi Sumut dan Jabar, siapakah yang layak untuk menjadi andalan strategis Prabowo dalam kontestasi pilgub Jatim nantinya bersama dengan koalisi partainya?

Salah satu figur calon yang layak dan kapabel untuk dapat  dipertimbangkan dan dikedepankan untuk mengikuti pilgub jawa timur adalah nama *Mayjend. Purn. Suwarno*. Setidaknya ada 3 atribut ultima yang dimilikinya untuk menduduki posisi Jatim 1.

*Pertama*, secara historis, Suwarno pernah menduduki jabatan sebagai Pangdam Brawijaya di era pemerintahan SBY. Pengalaman teritorial yang pernah diembannya menjadi pelengkap kualitatif baginya untuk dapat menduduki jabatan sebagai Gubernur Jatim. Di masa kepemimpinannya, Suwarno mampu menciptakan iklim kondusif di Jatim dari beragam ancaman teritorial yang berkaitan dengan dimensi pertahanan dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik diberbagai  pondok pesantren di jawa timur.

*Kedua*, Suwarno mempunyai sense of flexibility dalam menjalankan tugas dan bergandengan erat dengan stakeholder pemerintahan daerah di Jatim. Ketika mantan Presiden Gus Dur wafat, Suwarno dengan begitu sigap ikut mempersiapkan prosesi pemakaman, sekaligus pengkoordinasian kedatangan para pejabat tinggi negara. Dalam kelancaran prosesi pemakaman tidak terlepas dari kesigapan Suwarno dan kesatuan yang dipimpinnya. Implikasinya, kalangan Nahdiyin semakin amat karib dengan Suwarno.

*Ketiga*, saat ini Suwarno mengemban tugas sebagai Wakil Ketua KONI Pusat. Kapasitas dan kapabilitasnya dalam menjalankan tugas sebagai petinggi induk organisasi olah raga tersebut mendapat pengakuan yang proper dan kualitatif dari para stakeholder di dalamnya. Ketajaman visi dalam memimpin dan leadership style yang dimilikinya menjadi modal ultima untuk mengemban tugas sebagai calon Gubernur Jatim nantinya.

Jika Suwarno nantinya dapat dijadikan figur alternatif dalam pilgub jawa timur,  maka dibutuhkan pendamping yang mumpuni untuk bisa membangun jawa timur dan menyatukan kembali warga jawa timur pasca digelarnya pilgub nanti.

Dari sekuen deskripsi tersebut, sosok Suwarno sangat layak untuk dikedepankan oleh Gerindra dan koalisinya yakni PKS dan PAN sebagai calon Gubernur Jatim karena memiliki modal sosial yang cukup untuk dapat dicalonkan sebagai Cagub. Suwarno yang merupakan Putra asli Jawa Timur dan pemegang Adhi Makayasa (Lulusan Terbaik) Akmil tahun 1977 tersebut tinggal disandingkan dengan calon Wakil Gubernur dari kalangan sipil.

Jika elektabilitas dan kapabilitas objektif yang jadi parameternya, maka ada dua calon terbaik yang bisa dikedepankan, yakni Anang Hermansyah yang kini menjabat sebagai anggota dpr ri dari partai amanat nasional atau dengan Cak Yoto (Suyoto) Bupati Bojonegoro sebagai pendamping Suwarno dalam pilgub jawa timur.

Kecermatan dan kejelian seorang Prabowo Subianto yang sudah beberapa kali membuat kejutan beserta partner koalisi permanen dalam memformulasikan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, dan sekaligus memenangkannya, akan menentukan kesuksesan Prabowo Subiyanto menjadi RI 1 pada 2019 nantinya.

Akankah pilgub jawa timur yang merupakan basis terbesar warga nahdliyin nantinya diramaikan oleh satu kandidat yang sangat memahami teritorial seperti sosok Mayjen.Purn. Suwarno yang notabene merupakan sosok militer yang humanis, dan ahli strategi ini ???

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq, Wassalamuallaikum Wr, Wb.

Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/kuda-hitam-pilgub-jawa-timur
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Kuda Hitam Pilgub Jawa Timur"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close