Beras Oh Beras, Swasembada kok Lewat Impor..!

Oleh: Erros Djarot

Heboh soal beras impor, menyusul garam impor, kedelai impor, jagung impor, tepung gandum impor, dan masih sederet lagi daftar impor, ternyata terus berlanjut dan terpelihara dengan baik. Impor produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan masyarakat ini, jelas dan sangat mudah dibaca, bahwa program swasembada pangan kita gagal total, titik!!! Tidak perlu diperdebatkan dan pemerintah pun tidak perlu menutup-nutupi kegagalan ini.

Toh Presiden Jokowi di awal pemerintahannya (2014) sudah memperingatkan kepada menteri terkait bahwa bila dalam tiga tahun gagal swasembada pangan, menteri terkait akan dicopot! Kenyataannya, justru banyak petani-buruh tani yang malah ‘copot’ jabatan dan ganti profesi. Mereka lakukan itu saking tidak kondusifnya dunia pertanian untuk dijadikan lahan kerja yang secara ekonomis masih bisa dijadikan sumber penghasilan untuk menghidupi mereka. Jangankan untuk hidup lumayan, untuk hidup sehari-hari saja, para petani, terutama buruh tani kita, sudah babak belur. Apalagi untuk meningkatkan taraf dan kualitas hidup..?!

Dari mulai masalah benih yang selalu impor, masalah pupuk, masalah harga jual yang disetir para bos kartel lewat jaringan tengkulak yang tersebar di mana-mana, merupakan hal yang menggerogoti pikiran, hati, dan tenaga para petani kita. Belum lagi anomali musim seringkali menjadi kendala alam yang menambah runyam dunia usaha pertanian, khususnya bagi para petani di tingkat paling bawah dari struktur perdagangan hasil produk pertanian kita.

Di dunia pertanian, para importir benih dan produser pupuk lah yang selalu diuntungkan dan tak pernah mengenal kata rugi. Mulai dari benih beras hingga benih unggas ternak untuk produksi, semua diimpor dan dikuasai oleh kartel tertentu. Hidup para petani kita sangat tergantung pada ulah para importir ini. Ketergantungan pada impor benih ini terus dipertahankan dari tahun ke tahun. Mungkin keuntungan besar lah yang membuat para pengusaha ini bisa terus beroperasi karena kongkalingkong dengan para pejabat di bidang terkait, serta sudah begitu terstruktur rapi dan menggurita.

Nah kalau dari bahan paling dasar untuk berproduksi yang namanya ‘benih’ ini kita sudah begitu tergantung, sangat bodohnya kita jika percaya bahwa swasembada pangan akan terjadi! Contoh kecil saja, Mbah Rono pegiat pertanian yang berhasil menciptakan jenis padi MSP yang bila dipanen sebagian padi bisa dijadikan benih untuk ditanam kembali, sampai hari ini tak mendapat sertifikasi. Padahal, sudah hampir 3 tahun diurus. Dengan model regulator begini ini, masihkah berharap terjadi swasembada pangan? Janji tinggal janji, yang ada hanya mimpi!

Sangat berbeda dengan janji Presiden menyangkut masalah infrastuktur. Gerak pembangunannya terencana, terasa ada, dan nyata terbaca. Lho kok di pertanian situasinya menyuguhkan bacaan terbalik? Sehingga Presiden pun ikut larut salah baca dan cenderung percaya pada angka-angka indah yang berbanding terbalik dengan realita lapangan.

Jadi bila ditarik kesimpulan, memang yang tidak ada itu niatnya. Program swasembada pangannya sendiri itu ada. Niat itu memang sengaja dimatikan. Karena menumbuhkan niat melakukan dan melaksanakan program swasembada dengan sungguh-sungguh merupakan ancaman serius bagi ekonomi para calo, bos kartel, dan oknum 'bos' departemen terkait pemegang kendali regulasi. Telusuri saja siapa-siapa importir dan pemegang lisensi di berbagai bidang usaha pertanian ini. Niscaya banyak hal yang mencengangkan ketika mimpi berswasembada pangan begitu lantang dicanangkan Presiden dengan penuh percaya diri yang tinggi.

Dalam tulisan ini sengaja dan tak merasa perlu untuk menyertakan data-data lapangan, karena masalah yang diuraikan sudah menjadi rahasia (sangat) umum. Para pegiat pertanian--petani dan para pengamat pertanian, sangat mengetahui hal ini. Sebagaimana korupsi yang terjadi di mana-mana, tak perlu disuguhkan dengan data karena telah begitu nyata dan terasa. Hanya masalahnya, kapan tertangkap dan bagaimana agar tak tertangkap. Di dua kutub itulah negeri ini terjepit oleh perilaku para musuh rakyat yang bertengger di kursi-kursi pejabat negara yang berkolusi dengan para cukong dan para bandar dalam permainan kotor ini.

Soal menterinya mau diganti atau diberi pujian, sepenuhnya menjadi kewenangan Presiden. Yang bisa kita lakukan sebagai rakyat hanya menagih janji. Karena rakyat hanya bisa mencatat dan ingin melihat Presiden sukses memimpin negeri ini. Satunya kata dan perbuatan pun menjadi doa seluruh rakyat negeri ini!.[watyutink.com]

Tags: 
Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/beras-oh-beras-swasembada-kok-lewat-impor
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Beras Oh Beras, Swasembada kok Lewat Impor..!"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close