Bagai Tikus Mati di Lumbung Padi

(Panjimas.com) – Bagaikan tikus yang mati diumbung padi, pepatah ini mungkin pernah anda ucapkan atau pernah anda dengarkan. Bagaimana mungkin seorang tikus bisa mati di tempat yang merupakan sumber makanan sehari-hari? Andai saja tikus bisa bercerita atau minimal menuliskan perasaannya, kira-kira apa dan bagaimana perasaannya di saat menghadapi ajalnya di lumbung padi, yang penuh dengan “sumber penghidupan” baginya. Namun sayangnya tikus tidak dapat bercerita atau menuliskan pengalamannya.

Samahalnya dengan berita yang saat ini banyak beredar di surat kabar maupun media sosial. Tentang terjadinya wabah campak dan gizi buruk di Asmat, dikutip dari (viva.com) “Puluhan anak suku Asmat di Kabupaten Asmat, Papua, dilaporkan meninggal dunia akibat wabah campak menyerang wilayah itu. Sejumlah warga pada distrik di wilayah itu juga mengalami gizi buruk yang telah ditetapkan berstatus kejadian luar biasa. Berdasarkan data yang dirilis Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, sebanyak 29 anak di sejumlah kampung di Distrik Pulau Tiga dilaporkan meninggal dunia akibat terpapar campak. Kepala Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, Steven Langi, mengatakan pendataan empat tim terpadu penanggulangan campak dan gizi buruk mencatat setidaknya sudah 63 anak meninggal sejak September 2017 hingga saat ini. Laporan sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Papua, 471 orang terkena campak dan gizi buruk.  Wabah campak dan bencana gizi buruk itu terjadi di beberapa kampung di Distrik Pulau Tiga, Distrik Jetsey, dan Distrik Sirets.

Banyaknya korban yang berjatuhan terutama anak kecil yang terkena wabah campak dan gizi buruk bahkan sampai meninggal dunia. Gizi buruk yang terjadi di asmat ini kemungkinan diakibatkan karena kurangnya asupan gizi yang dikonsumsi sehari-hari. Mengingat hal ini terjadi karena bisa jadi mahalnya harga bahan pangan yang mengandung gizi untuk dikonsumsi  serta medan yang menjual kebutuhan bahan pangan jauh dari pemukiman mengakibatkan makanan yang dikonsumsiseadnyanya tanpa memperhatikan keseimbangan dan kandungan gizinya. Selain itu, menurut tim dokter juga diakibatkan karena masalah mutu kesehatan yang rendah. Sehingga kekebalan tubuh menjadi berkurang dan menurun. Adanya berita ini memunculkan berbagai pertanyaan, bagaimana bisa daerah yang terkenal dengan tambang emasnya yang sangat berlimpah ruah tetapi masyarakatnya tak dapat memanfaatkannya. Bahkan tambang itu sampai saat ini dikuasai oleh asing karena sudah tertandatangani kontrak kerjasama.

Ironi bak di Negeri dongeng, inilah yang terjadi pada saat ini. Bagaikan kisah di sebuah Negeri dongeng yang amat subur dan makmur dengan kekayaan alam yang berlimpah banyak, tapi seakan-akan semua itu tak ada gunanya karena banyak rakyatnya yang mati kelaparan akibat kekayaan alam telah dimiliki oleh raja yang berkuasa. Tatkala hidup pada zaman yang penuh dengan kekuasaan, maka sang pemilik modal terbesar dan sang rajalah yang berhak untuk berkuasa. Dan yang hanya menjadi rakyat kecil biasa tak dapat berbuat apa-apa, jangankan memberontak untuk bersuara saja kita tak mampu mengutarakannya. Andaikan alam dapat berbicara, Alam yang seharusnya menjadi hak bagi kita semua, yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh kita semua, yang seharusnya dapat kita gunakan untuk kepentingan bersama kini berubah menjadi hak milik perorangan.

Wahai saudaraku, Padahal Allah menciptakan alam semeta ini adalah untuk penghidupan hambanya, untuk  kelangsungan hidup, dan untuk bertahan hidup didunia. Yang dapat kita manfaatkan dan kita jaga, sera kita rawat dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman yang artinya :

“Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan. Dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan” (Al-Mu’minun : 19-21)

Dan Allah mengingatkan kita untuk dapat memanfaatkan kekayaan alam ini dengan baik,

“Janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Baqarah : 190)

Saudariku, dari firman Allah inilah kita diingatkan untuk tidak melampaui batas baik dalam hal apapun, hendaklah kita saling mengintropeksi diri kita. Janganlah kita berambisi untuk menjadi hebat sedangkan dalam raganya masih terdapat kekurangan. Janganlah kita berambisi untuk menjadi negara yang tanguh, sedangkan rakyatnya sendiri masih banyak yang rapuh. Hendaklah kejadian ini menjadikan pukulan dan pembelajaran kita, dimana negeri yang amat kaya subur ini masih banyak rakyatnya yang mengalami penyakit gizi buruk karena tak mampu untuk pemenuhuhan gizi seimbang. Sejatinya kekayaan ini dapat dimanfaatkan untuk seluruh rakyat bahkan juga mampu untuk memakmurkan kesejahteraan rakyat diseluruh daerah apabila semua ini dikelola dengan baik dan sesuai.

Wahai para peimpin, janganlah kedudukanmu saat ini melalikan tugasmu untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang pemimpin. Jangan sampai kedudukan ini menjadikan kau lupa akan kehidupan rakyatmu, karena segala sesuatu yang dilakukan didunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Segala sesuatu akan dapat dilaksanakan dengan baik tatkala kita berlandaska pada islam, karena islam merupakan Rahmatan Lil Alamin, rakmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam biashawab.[RN]

 

Penulis, Ilma Kurnia P 

Mahasiswa

 


From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Bagai Tikus Mati di Lumbung Padi"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close