Antara Penyair Penghina Nabi dan Comic Pengolok Islam

KIBLAT.NET – Para penghibur yang menjadikan Islam sebagai bahan olokan sudah ada sejak dahulu. Jika fenomena itu terjadi lagi, maka itu adalah pola yang berulang dan akan terus berulang. Menjadikan agama sebagai bahan olokan di dalam Al-Quran disebutkan sebagai ciri khas orang kafir dan munafik.

Di dalam surat Al-Muthoffifin Allah SWT berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

Artinya, “Dan hari ini (di dunia) orang-orang yang berbuat dosa menertawai orang-orang yang beriman.”

Begitu juga orang munafik, pernah suatu ketika Rasulullah SAW memotivasi para sahabat untuk berinfak, datanglah Abdurrahman bin Auf dengan membawa harta yang cukup banyak, orang munafik mengejeknya dengan mengatakan infaknya karena riya’. Sebaliknya, ada orang miskin dari kaum Anshor yang hanya bisa berinfak satu Sho’ kurma. Kaum munafik juga mencelanya dengan berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak butuh infakmu.”

Begitu juga dengan para penghibur. Dahulu para penghibur (baca penyair) kerap melakukan hinaan dan olokan terhadap agama. oleh karenanya ketika Rasulullah SAW memberikan amnesti bagi penduduk Mekkah saat Fath Mekkah, para panyair penghina Nabi SAW tidak temasuk yang mendapatkan amnesti tersebut.

Sebut saja Abdullah bin Khotol, dia termasuk orang yang tidak diberi amnesti oleh Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuhnya meski dia berlindung dibalik tirai Ka’bah. Hal itu karena dia pernah masuk Islam dan murtad, membunuh seorang muslim dan membikin syair yang berisi hinaan dan ejekan terhadap agama Islam.

Selain membuat syair yang mengolok agama, dia juga mendatangkan dua orang penyanyi wanita. Kedua wanita ini melantunkan syair yang berisi hinaan terhadap Rasulullah SAW. Kedua wanita tersebut juga diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk dibunuh. Meskipun salah satunya mendapat amnesti khusus dari Nabi SAW, akan tetapi ini menjelaskan bahwa menjadikan Islam sebagai bahan olokan bukanlah perkara sepele.

Ada juga Ka’ab bin Zuhair, dia merupakan pujangga kenamaan di kota Mekkah. Syair-syair gubahannya kerap menghina Nabi dan Islam. Sehingga namanya masuk dalam daftar orang-orang yang tidak mendapatkan amnesti. Mengetahui hal tersebut akhirnya dia melarikan diri dari Kota Mekkah.

Adalah saudaranya yang bernama Bujair bin Zuhair menulis surat untuknya agar mendatangi Nabi, meminta maaf dan masuk Islam. Akhirnya Ka’ab masuk Islam dan meminta maaf kepada Rasulullah dan Rasulullah SAW memaafkannya.

14 abad pasca peristiwa Fath Mekkah kejadian itu terulang lagi. Kalau dahulu dilakukan oleh seniman syair, maka hari ini dilakukan oleh dua orang seniman komedi (comic). Beruntung bagi Ge Pamungkas dan Joshua Suherman  karena mereka tidak berada di zaman Fathu Mekkah. Bisa saja mereka masuk dalam daftar yang orang yang tidak diberi amnesti oleh Nabi.

Mereka beruntung karena mereka hidup di Indonesia. Dimana bagi sebagian orang kebebasan berekspresi itu ditolerir bahkan diizinkan walaupun menjadikan Islam sebagai bahan olokan. Kalau beruntung, penistaan agama berakhir hanya dengan permintaan maaf. Kalau apes, cuma dihukum kurungan 2 tahunan. Sebuah hukuman yang ringan dibanding dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap para penyair yang menghina Islam saat Fath Mekkah. Wallahu a’lam bissowab

Penulis : Arju

 

The post Antara Penyair Penghina Nabi dan Comic Pengolok Islam appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Antara Penyair Penghina Nabi dan Comic Pengolok Islam"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close