Uang Rp 15.000 Membawamu ke Surga atau ke Neraka?

InfaqDakwahCenter.com –  Gegap gempita tahun baru masehi ada di depan mata. Hari itu, seakan menjadi hari wajib dirayakan dengan penuh suka cita.

Kawula muda, keluar sejak sore hari, keluyuran di jalan, bersama pacar atau teman-teman. Tak lain dan tak bukan, hanya untuk hura-hura.

Kemudian, seolah ada satu kewajiban di tengah mereka, saat perayaan tahun baru selalu ada ritual tiup terompet dan petasan atau kembang api.

Padahal, tahukah kita bahwa meniup terompet kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah budaya Yahudi.

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar,

عَنْ أَبِى عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ الأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِلصَّلاَةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلاَةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ – يَعْنِى الشَّبُّورَ – وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورَ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ». قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ». فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ

“Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, lantas beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud no. 498. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Demikian pula dengan mercon/petasan dan kembang api, juga merupakan budaya jahiliyah. Di Persia yang beragama Majusi (penyembah api), tanggal 1 Januari juga dijadikan sebagai hari raya yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus. Dalam perayaan itu, mereka menyalakan api dan mengagungkannya, kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan minuman keras (khamr). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.

Abdullâh bin ’Amr radhiyallâhu ’anhumâ berkata :

من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة

“Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz dan mihrajan mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan al-Baihaqî IX/234].

Memperhatikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas, maka sudah seyogyanya seorang Muslim, menjauhi perayaan tahun baru yang identik dengan budaya jahiliyah.

Satu hal lagi, ingat harta kita kelak akan dihisab, dari mana di dapat dan dibelanjakan untuk apa?

Jangan sampai kita menghambur-hamburkan harta, beli terompet atau kembang api untuk merayakan Tahun Baru, seharga Rp 15.000,- misalnya, justru nantinya bisa menjerumuskan ke dalam neraka.

Lebih baik bila uang sebesar itu (Rp 15.000,-) digunakan untuk berwakaf untuk para muallaf melalui Infaq Dakwah Center. Harta kita akan kekal dan pahalanya mengalir meski jasad sudah ditanam di liang kubur.

————————————————————————-
http://www.infaqdakwahcenter.com/…/ayo-wakaf-tanah-rp-1500…/
————————————————————————-

Rasulullah SAW bersabda:

اِذَا مَاتَ ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga (macam), yaitu: sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim).

Wakaf produktif untuk muallaf Sulawesi Utara bisa disalurkan ke Rekening Waqaf IDC:

1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3007
a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center (IDC)

2. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.696.4037
a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center (IDC)

#Info: 08122700020 (sms/whatsapp)


From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Uang Rp 15.000 Membawamu ke Surga atau ke Neraka?"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close