Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (15

Episode  15

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

15

 

Perseteruan kesultanan  Aceh dan Belanda  dimulai  pada titimangsa abad ke 17 pertengahan.   Hal itu terjadi disebabkan  perebutan pengaruh wilayah kekuasaan Aceh yang dirampok Belanda. Belanda mula-mula merampok wilayah kekuasaan Aceh di pesisir pulau Sumatera serta juga di penanjung  Malaya. Dengan melupakan segala jasa-jasa Aceh di masa lalu, saat  masa-masa pahit Belanda dijajah Spanyol dan Portugis.  DI era sultanat (sultan dijabat raja perempuan) Safiatudin Tajul Alam, anak Sultan Iskandar Muda, Belanda mencaplok Malaka dari Portugis yang lari tunggang-langgang karena kekalahannya melawan duet  tentara Aceh di Johor dan kerajaan Melayu lainnya yang dikoordinir Belanda. Setelah kumpulan kerajaan Muslim itu merangsek Portugis, nasibnya sama juga dengan Sultan Baabullah dariTernate.  Rakyat Ternate dan Tidore yang mememangkan peperangan, tapi Belanda yang mengaut segala hasilnya.  Di Malaka pun demikian, Belanda tidak bekerja terlalu keras,sebagaimana kerja kerasnya tentara Aceh dan Johor serta kerajaan Muslim lainnya. Tapi begitu kemenangan direbut kaum Muslim dari Portugis, tampuk kekuasaan langsung dipegang Belanda.Johor, kerjaan-kerajaan Melayu kecil-kecil dan Aceh tinggal gigit jari. Itulah hebatnya oenjajah Belanda.

Setelah sempurna Malaka dikuasai Belanda, kecuali Perak yang masih dikuasai Aceh, maka di pulau Sumatera Aceh pun kehilangan Padang dan Painan di pesisirbarat Sumatera.

Belanda di bawah kekuasaan VOC juga merampok Deli di pesisir Timur pulau Sumatera pada titimangsa  1669. Kali ini tidak ada dalam kepala Belanda jasa-jasa Aceh. Tidak ada lagi pergaulan baik antara Aceh dan Belanda. Melihat kekayaan negeri Aceh yang sedemikian kayaraya, mata orang-orang Belanda menjadi hijau, maka segala kebaikan, segala jasa dan segala masa lalu harus dilupakan dan dihapus. Masa lalu adalah masa lalu, sekarang zaman kekinian yang tiada hubungannya dengan masa lalu. Demikian prinsip kaphe-kaphe Belanda terhadap posisi Aceh terkini. Karena itu, Belanda tak segan-segan menyerang Aceh walaupun gagal. Belanda kembali menyerang Aceh dengan menerapkan pola blockade serta memaksakan monopoli perdagangan terhadap sultanan Safiatuddin sebagai sultan Aceh.  Usaha inipun tak memberi hasil.

****************

Pengajian ke 401 dimulai di Dayah Lambaro, Banda Aceh. Yang menyampaikan tausiyah keagamaan untuk mengisi  amunisi Perang Sabilkali ini adalah Syekh Mujab.Dengan semangat berapi-api Sykeh Mujab mengutip satu hadits sangat terkenal dengan setiap santri Aceh yang tak pernah lelah berjihad. Sykeh Mujab membacakan hadits tersebut: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”

Mengapa Aceh sebegitu alot ditaklukkan Portugis di masa lalu, dan begitu liat dikuasai kaphe-kaphe Belanda. Sesungguhnya, rahasianya adalah ada pada diri kalian semua. Apakah kalian mau mengamalkan ilmu-ilmu para wali-waliullah pada masa lalu.Jika kalian mau, nanti kalian syahid akan mendapat titel sebagai wali, mujahid atau jundullah yang tiada bandingnya dengan jundu al-dunya (tentara dunia) yang pelindungnya adalah Iblis dan setan-setan laknatullah. Untuk kali ini, selama nyawa masih dikandung badan janganlah kalian mengaku sebagai wali Allah.

Jamaah yang mendengar dengan serius semakin khusyuk mendengar ceramah Syekh Mujab yang sangat menarik hati para pejuang alias mujahidin Aceh itu.  Syekh ath-Thûfi rahimahullah menerangkan, “Hadits diatas adalah dasar-dasar  bagiorang yang mencita-citakan Allah sebagai kekasihnya  yaitu Allah Swt. Hadits tersebut juga memuat  metode (system) bagaimana kita  bisa mengenal dan meraih cinta-Nya. Saat ini,  bagi setiap Muslim di negeri ini dalam keadaan perang dan kaphe-kaphe Belanda sedang memerangi kita,  oleh sebab itu, kalian perlu melaksanakan  kewajiban batin yaitu iman, kewajiban zhahir yaitu Islam dan jika digabungkan antara  keduanya agama akan mencapai puncaknya yaitu ihsân. Dengan predikat seperti ini ,  ihsân menghimpun kedudukan orang-orang yang mencintai Allah  yang dihiasi pribadinya dengan sifat-sifat  zuhud, ikhlas, muraqabah, meletakkan dunia di tangannya – bukan di dalam hatinya. Karena jika dunia kalian letakkan di hati, makakalian akan dihinggapi penyakit wahn. Penyakit yang sangat berbahaya bagi bangsa Aceh yang sedang  semangat-semangatnya yang tak pernah padam guna melawan kaphe-kaphe Belanda.
apa itu penyakit wahn, kalian tahu? Tanya Sykeh Mujab berapi-api, dan seluruh para mujahid dan mujahidah bersemangat ingin menjawab. Akan tetapi suasana tenang , dan tak ingin mendahului  guru mursyidnya, yaitu Syekh Mujab.

Agar kalian dapat berada dalam bimbingan Allah, berperang dalam bimbingan Allah, berjuang dalam bimbingan Allah, dan beribadah dalam keseluruhan aktifitas kehidupan mulai dari bangun pagijam 03.00 sampaijam 03 .00 dinihari lagi,  kalian harus dibimbing oleh seorang Mursyid.Bayangkan bila sebuah kelompok sepakbola ingin berlomba menjadi juara, maka kelompok / grup sepakbola itu harus memiliki seorang Mursyid (orang yang cerdas dan tahu seluk-beluk ilmu sepakbola). Sehingga ia mampu melihat kelemahan-kelemahan anak-anak asuhnya dalam melatih anak-anak asuhnya dalam latihan dan dalam pertandingan sepakbola.

Begitu pula kalian yang ingin berjuang dalam sebuah perang fi sabilillah,kalian harus dibimbing oleh seorang Mursyid. Sekarang di Libya tengah berkecamuk perang antara Italia dan murid-murid Syekh Ahmad Ali al-Sanusi.  Syekh Ahmad Ali al-Sanusi itulah guru Mursyid jamaah Gerakan Sanusiyyah di Libya. Sehingga setiap muridnya berjuang tanpa mengenal lelah, tak mengenal takut dan tak mengenal gentar kepada siapapun, selama musuhnya adalah makhluk Allah yang sama dengan mereka.

Syekh Mujab kemudian melanjuutkan : Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya penolong (wali)mu hanyalah Allâh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allâh). Dan barangsiapa menjadikan Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allâh itulah yang menang.” [al-Mâidah/5:55-56]

Nah, bagaimana kalian menemukan guru Mursyid yang wali Allah. Seorang wali yang mursyid adalahterlihat dari amalan sehari-harinya yang  berpegang teguh pada Qu’ran dan Hadist, ia  tak pernah meninggalkan syariah serta sunnah. Tiada thariqah tanpa syariah, seandainya syariah diibaratkan senter yang menerangi  jalan tariqah agar tak tersesat dan menuju hakikat. Camkanlah oleh kalian kata-kata Imam Malik berikut  ini: Syariat tanpa tasawuf adalah zindik,  tasawuf tanpa syariat  sesat.

Satu  ciri para wali lazimnya  mereka tersembunyi (tak terlihat oleh orang kebanyakan), akan tetapi mereka sangat terkenal diantara para kekasih Allah baikyang di langit maupun yang dibumi.

Bangsa Aceh ini tak akan melawan kepada kaphe-kaphe Belanda, jika di tano Aceh ini tak terdapat wali Mursyid. Kalian hamper seluruh rakyat Aceh di zaman perang ini percaya kepada Wali Mursyid, maka Allah memelihara mereka dari kehancuran.

Mengapa  Aceh yang ditakuti  Portugis  kaphe-kaphe Belanda sangat mengalami kesulitan menaklukkan negerikita? Ujar Sykeh Mujab.  Semua ini karena tanah Aceh ini adalah tanah waliullah, entah di masa depan, apakah Aceh tetap menjadi tanah waliullah? Hanya Allah swt yang tahu. Tetapi untuk saat ini,  seseorang yang berguru Mursyid dengan Wali yang Shadiq (Wali yang benar), maka seluruh murid-muridnya yang  berada di bawah bimbingannya merasakan bahwa  kematian adalah sebuah anugerah dan hadiah dari Allah. Seperti setiap orang Aceh hari ini, bila mereka mendengar  ceramah dari Guru Mursyid , maka murid-muridnya akan mendapatkan ilmu sekaligus Hikmah. Mencintai atau mengimani  wali Allah  adalah salah satu  simpul iman terkuat. Karena waliyullah terpercaya itu berasal dari ruh (semangat) Rasulullah. Berarti mengimani Waliyullah (Guru Mursyid), berartimmengimani Rasulullah – bahwa beliau (Nabi Muhammad) tetap hidup sampaihari ini, walaupun jasadnya sudah lama terkubur. Selain itu,ciri waliyullah, bila dibacakan ayat-ayat Allah kepada para murid-muridnya, maka “bergetar”lah hati yang ada dalam dada setiap muridnya.

Namun bila seseorang belajar kepada seorang Mursyid, tetapi ia merasa takut mati, tinggalkanlah dia, carilah  mursyid yang akan membawa kalian  mencintai Allah dan Rasulnya. Bila seorang Guru Mursyid mengajarkan kalian menyia-nyiakan harta (merokok), maka jangan percaya akan ke-Mursyidan”nya.Karena seorang Mursyhid terpercaya, tak akan pernah menyia-nyiakan harta yang dititipkan Allah kepadanya. Kalian saksikan sendiri,  sampai diproklamirkannya kemerdekaan RI di Jakarta, Aceh tak pernah bisa dikuasai kaphe-kaphe Belanda  secara merata. Terlebih lagi menguasai hati serta pikiran orang-orang Aceh.

Sangat banyak cara serta siasat  perang yang dilakukan kaphe-kpahe Belanda di sini, namun mereka  tak mampu  menguasai Aceh. Ada apa?  Inilah rahasia mengapa Aceh sulit ditaklukkan, karena Allah Swt menjaga negeri Aceh dengan perantaan wali-wali-Nya yang tersembunyi di negeri Aceh ini. Perang Sabil di Aceh merupakan sebuah perang  paling lama,  paling banyak memakan biaya, paling alot dan juga meminta korban jiwa yang tak sedikit dari  penjajah itu sendiri. Syekh Mujab menutup pengajian malam itu dengan diakhiri doa,  lalu shalat tahajud bersama. Jam menunjukkan pukul 01.00 waktu Aceh. Malam yang penuh dengan kerinduan kepada Tuhan, sebagian meneruskan shalatnya, sebagian meneruskan wiridanya. Apakah wirid melafalkan zikir atau membaca al-Quran. Dan sebagian lagi beristirahat dengan meneruskan zikir yang terkandung dalam lidah dan hati sanubarinya. Sehingga getaran zikir yang tersimpan di lidah dan hati itu, terbawa ke dalam tidur. Dan itu dipandang sebagai zikir (ibadah) yang tiada henti bagi seorang wali. Dalam tidur ia masih saja berzikir, meneruskan zikirnya disaat belum tidur .(Bdersambung)

 

Category: 


from Khazanah http://www.konfrontasi.com/content/khazanah/semangat-jihad-semakin-membara-1890-%E2%80%93-1895-15
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (15"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close