Refleksi Setahun Aksi 212: Hendak Kemana dan Dengan Siapa?  

KIBLAT.NET – Sampai kapan kita bertikai? Sebuah pertanyaan klasik bagi umat Islam, namun sepertinya tidak bisa dijawab hanya dengan satu dua patah kata saja. Bahkan jawabannya memang bukan berupa kata-kata, namun lebih merupakan kesadaran jiwa yang ditanamkan sedalam-dalamnya, sambil merenungi kembali sebuah pertanyaan lain, “Kenapa kita bertikai?”

Melepaskan diri dari pertikaian berarti harus mengubur semua sebab yang menciptakan pertikaian tersebut. Baru dengan kesadaran tulus, kita kembali ke khittah awal kita sebagai umat Islam, yakni mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan Islam sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya.

Hari ini umat sangat butuh terhadap sebuah ketukan, yang bisa membekas di hati-hati mereka, agar bisa sama-sama segera bangun dari ‘perkelahian’ yang seolah tak pernah usai diantara sesama mereka. Baru kemudian menatap dengan lebih mawas diri musuh sebenarnya yang tengah menanti di depan mata.

Virus Berbahaya, Tapi Membudaya

Semenjak mula pertama pilar-pilar dakwah Islam digelembungkan dan pokok-pokok dasar ajaran Islam dimasyarakatkan, Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas, “Berpegang teguhlah pada tali ajaran Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” (QS. Ali Imron: 102).

Peringatan tersebut bukan sekedar wacana etika, tapi lebih merupakan pemberitaan terhadap bencana besar yang pasti akan menimpa umat Islam di akhir-akhir perjalanan sejarahnya; yaitu perpecahan dan persengketaan yang seolah tak berujung. Peringatan di atas, Nabi sampaikan kepada para sahabatnya kala itu. Saat mendengarnya, mereka langsung bisa menangkap substansi peringatan dan sinyal bahaya yang harus mereka hadapi dengan kesiagaan penuh; perpecahan umat.

Seiring bergulirnya waktu, apa yang Allah firmankan dan ditindaklanjuti dengan hadits-hadits shahih, mulai terlihat jelas. Persoalan kecil, hari ini bisa meletup menjadi ledakan permusuhan yang berkepanjangan. Sebenarnya, para ulama sedari dulu sudah berusaha memberikan bimbingan etis dan ideologis, agar kaum muslimin mewaspadai bahaya laten perpecahan umat. Mereka memperingatkan pengikutnya agar tak bersikap fanatik serta arif dalam menyikapi perbedaan.

212; Simbol Pemersatu

Urgensi ilmu dan keikhlasan niat menjadi semakin terasa. Kejahilan umat adalah penyakit utama yang harus diterapi secara telaten oleh para dai dan pembimbing umat. Memperbaiki niat juga menjadi pekerjaan rumah yang terpenting bagi siapa saja yang berniat meniti jalan perjuangan ini. Masih banyak umat Islam, baik secara individu maupun kolektif yang lebih banyak memperjuangkan status quo, isme atau kepentingan golongan tertentu, dari pada memperjuangkan kepentingan Islam dan umat Islam secara keseluruhan. Sehingga banyak upaya menuju persatuan umat, terjegal di tengah jalan.

Kesadaran umat akan pentingnya persatuan, akhir-akhir ini semakin terpupuk oleh semangat dan slogan alumni 212. Sebuah simbol pemersatu yang bisa merekatkan jutaan manusia. Namun, harus kita sadari bahwa kepedulian yang hanya bersifat individu, atau kelompok tidak akan tuntas dalam menyelesaikan masalah. Ibarat sebuah kapal yang berlubang, maka air masuk dan kita berusaha mengeluarkannya dengan kemampuan masing-masing. Yang punya ember, bantuannya lebih besar, yang punya gayung dengan gayung yang ada, yang tidak punya apa-apa maka hanya dengan cidukan kecil tangannya.

Semua itu hanya untuk bertahan agar kapal tidak tenggelam. Sementara musuh-musuh Islam terus berusaha melubangi kapal. Yang seharusnya kita lakukan adalah memperbaiki kapal, menambal lubang dan menguatkannya, sehingga kapal beserta seluruh penumpangnya bisa berlayar meninggalkan musuh di belakang atau bahkan menghabisinya.
Saat ini, kaum muslimin tidak punya sebuah kapal yang kuat. Kita terombang-ambing di dalam sampan-sampan kecil yang minim kekuatan. Kebanyakan sampan pun masih berlubang. Kaum muslimin memerlukan satu bahtera untuk berlayar bersama di bawah satu nakhoda.

Kemana dan Dengan Siapa?

Umat Islam tidak boleh mencukupkan diri dengan hanya berkumpul dan reuni, tapi minim pembinaan. Kita butuh nafas panjang untuk bisa kembali bangkit sebagai pemenang. Namun, maksud dari tulisan ini bukan untuk meng-gembosi semangat para aktivis maupun para alumni. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanya sebagai bahan evaluasi yang bertepatan dengan genap setahun aksi 212.

Ada beberapa pekerjaan rumah yang masih belum tuntas. Pertama adalah soal model dari persatuan yang sedang kita dengungkan. Persatuan seperti apa yang hendak dicapai? Persatuan yang merangkul semua elemen tanpa tebang pilih, atau persatuan yang dibangun berdasarkan kesamaan ideologi? Opsi yang kedua sepertinya lebih tepat dan lebih selamat. Persatuan yang dibangun karena kesamaan akidah lebih tahan banting. Berbeda dengan persatuan yang dimulai dari garis politik atau karena faktor ekonomi.

Masalah lainnya adalah mau dibawa kemana kapal ini berlayar? Siapa pula pemegang kemudinya? Jawabannya masih bias dan belum jelas. Visi misi maupun goal yang ingin dituju juga harus dipertegas, agar jika ada penumpang baru yang ingin bergabung, ia tak usah was-was. Apabila mengaca pada hajat yang paling dibutuhkan umat saat ini, maka kepemimpinanlah jawabannya. Kaum muslimin butuh sosok yang bisa mengurai bejibun masalah yang sedang melanda.

Pertanyaan-pertanyaan di atas memang terdengar remeh temeh, namun ia ibarat kompas yang akan mengarahkan kemana kaki berjalan dan apa yang hendak diperjuangkan. Jika masalah ini tidak segera diurai, khawatir ujung dari usaha penyatuan ini hanya nol besar. Lebih parah lagi, hanya akan dijadikan kuda tunggangan oleh lawan. Wallahu a’lam.

Penulis: Feri Nuryadi

The post Refleksi Setahun Aksi 212: Hendak Kemana dan Dengan Siapa?   appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: