Refleksi Setahun Aksi 212: Berjaya Karena Rencana

“Saat anda gagal merencanakan, berarti anda telah merencanakan kegagalan”

KIBLAT.NET – Dalam kajian komunikasi politik, terdapat tiga tingkatan public. Pertama ialah laten public, yaitu masyarakat yang menghadapi problem sama. Selanjutnya, pada tingkatan kedua saat masyarakat tersebut menyadari bahwa mereka memiliki masalah atau aware public. Jika masyarakat yang sadar ini mengorganisasikan diri sebagai sebuah kelompok dan melakukan sesuatu, mereka disebut active public.

Jika ditinjau dari teori di atas, maka peristiwa 2 Desember 2016 (212) merupakan aksi yang dilakukan oleh active public. Mereka adalah orang-orang yang telah sadar terhadap problem yang sedang dihadapi. Tak hanya itu, didorong oleh semangat juang membela agama, public 212 bersedia mengorganisir diri bersama-sama. Jubah organisasi, kelompok, latar belakang mereka ganti dengan kebanggaan sebagai sesama muslim.

Jadilah ia aksi ‘demontrasi’ terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Betapa tidak, 7 juta orang dari berbagai provinsi berjuang untuk hadir. Membuat Jakarta penuh sesak. Padahal, pihak aparat menggunakan berbagai cara untuk menghalang-halangi mereka. Dahsyatnya, orang sebanyak itu bisa terkontrol, berbaris rapi dalam shaf-shaf, tak merusak taman, tak mengotori dan justru menebar damai. Suasana diliputi ketakdziman kepada ulama dan ukhuwah muslimin.

Sekali lagi, kondisi tersebut hanya bisa lahir dari kesadaran (aware) dan keinginan bersatu (organize). Mereka datang bukan karena ikut-ikutan, atau tanpa tujuan, apalagi untuk hiburan. Kehadiran mereka benar-benar bertujuan menuntut haknya sebagai warga negara beragama. Akhirnya, aksi bersejarah yang tadinya dituduh macam-macam justru menuai pujian. Bahkan menjadi sorotan beberapa Negara asing.

Tak mengherankan jika aksi 212 tidak terhenti di hari itu saja. Ia menjadi sebuah gerakan massa yang tak terikat oleh ruang dan waktu. Tak hanya terjadi di monas dan sekitarnya, tapi kesadaran itu diaplikasikan menjadi sebuah gerakan menuju kebangkitan. Dilakukan dari hari kehari, bulan ke bulan, hingga tak terasa mencapai setahun. Di bidang ekonomi, lahir 212 mart, bidang media social, moslem cyber army muncul tanpa komando. Mereka berjuang menangkis opini negative tentang islam, sementara di sisi lain, muncul kesadaran berpolitik umat islam.

Ini adalah momentum yang telah lama dinanti, namun juga mengundang bahaya. Dinanti karena telah berkali-kali umat islam tak berdaya menghadapi kedzoliman, namun bahaya karena mengundang perhatian lebih dari pembenci islam yang punya sumberdaya. Sehingga, jika tak istiqamah terus berakrab ria, justru menjadi malapetaka.

Di sinilah pentingnya menyusun manajemen strategis guna mencapai tujuan bersama. Perlu ada standing plan (rencana jangka panjang) agar potensi umat tak terbuang sia-sia dan momentum tetap terjaga. Manajement strategis berfungsi mengatur langkah-langkah yang perlu dilakukan umat islam. Ia mendetailkan tahap demi tahap, siapa melakukan apa (right people in the right place), bagaimana melakukan sesuatu (how to do something), dan kapan target harus tercapai (timeline).

Setidaknya, manajemen strategis yang diterapkan menyasar tiga hal paling penting; pertama, ekonomi mandiri. Salah satu hal yang menjadi tuntutan masa ini adalah ekonomi. Di tengah globalisasi, kaum yang menguasai ekonomi akan berjaya, sebaliknya yang melarat akan tertindas. Di sisi lain, kekayaan Negara yang berlimpah ruah tidak dimiliki kecuali segelintir orang. Muslim yang notabene mayoritas penduduk hanya menjadi mesin uang bagi pengusaha rakus yang justru merusak barisan kaum muslimin. Walau kini telah hadir upaya membangkitkan ekonomi keummatan, seperti gerakan 212 mart, namun belum terorganisir rapi antara satu dan lainnya.

Kedua, media massa. Informasi yang benar adalah kebutuhan mendasar setiap individu atau sebuah kelompok. Informasi menentukan tindakan sebagai respon. Berita bohong bisa menjadi alat ampuh untuk memecah kekuatan lawan, karena menimbulkan respon yang kurang tepat. Tampaknya, itulah yang disadari oleh musuh-musuh islam. Sehingga, pengelolaan isu yang dilakukan media massa mereka bertujuan menguras energy umat islam. Bahkan memainkan politik belah bambu melalui corong media. Hal itu terbukti ampuh menimbulkan sikap saling curiga antar umat islam sendiri. Akhirnya, umat islam sibuk berkonflik, sementara pemilik media tertawa.

Ketiga, kekuasaan politik. Politik merupakan sebuah cara mengendalikan orang lain untuk kepentingan politisi (orang yang berpolitik). Maka, politik bisa positif dan bisa negative. Tergantung siapa politisinya. Jika yang mengendalikan politik adalah penjahat, maka ia menjadikan politik sebagai alat untuk mengendalikan masyarakat kepada kejahatan, sebaliknya, jika politik dikuasai orang baik, ia menjadi alat ampuh mengajak manusia kepada kebenaran. Seorang muslim yang percaya segala tindakannya akan dibalas oleh Allah SWT akan berfikir berkali-kali jika sewenang-wenang dalam memutuskan sebuah perkara. Apalagi, jika perkara tersebut menyangkut hajat orang banyak. Dengan demikian, sudah sepatutnya umat islam menumbuhkan kesadaran berpolitik. Apalagi, dalam system demokrasi yang diaanut Indonesia, suara mayoritas adalah suara tuhan. Tentu, jika umat islam yang merupakan 85 % penduduk Indonesia bersatu, akan hadir politisi-politisi yang bekerja untuk kepentingan Islam.

Namun dalam menyusun manajemen strategi, perlu memperhatikan lima unsur mendasar, yaitu ; spesifik / detail, measurable / terukur, achievable / bisa dicapai, realistic / masuk akal, serta timeline / batas waktu. Orang-orang yang terlibat dalam merancang harus memiliki data akurat serta mengerti situasi kondisi umat.

Terakhir, walau bagaimanapun, ketiga hal di atas merupakan bidang paling urgen, namun lebih kepada muamalah sesama manusia. Sedangkan, tak akan berkah dan bernilai hubungan antar makhluk (hablun min an-nas) – sebaik apapun ia – jika tak memperhatikan hubungan dengan sang pencipta, Allah SWT (hablun min Allah). Hubungan baik dengan Allah SWT adalah sebuah keharusan yang tak dapat ditawar. Ia menjadi pondasi bagi setiap rencana yang disusun. Beribadah secara total adalah sumber kekuatan yang akan membuat setiap keputusan serta tindakan bernilai atau tidak.

Penulis: Muh. Faruq Al-Mundzir

The post Refleksi Setahun Aksi 212: Berjaya Karena Rencana appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: