Oleh-oleh dari Tiongkok: Kepentingan Nasional ‘First’!

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Setelah sholat subuh terus wiridan sebentar kemudian membuka handphone. Biasanya Whatsapp-an  dulu. Agak heran kenapa di  Tiongkok semua medsos  tidak bisa dibuka. Semua medsos yang biasa dipakai di Indonesia, tidak terkecuali google. Tiba-tiba ada teman menyahut, memang gak ada yang bisa medsos di sini.

Kartu paket data Tiongkok sudah terlanjur dibeli seharga 180 Yuan equivalen  Rp 360.000. Teman-teman  ternyata nasibnya sama, kecuali teman-teman yang beli paket data di Indonesia aman lah mereka. Akhirnya ada ide install program VPN, agar bisa terhubung dengan medsos di Indonesia. Alhamdulillah akhirnya bisa terhubung. Banyak komunikasi terputus dengan tanah air dalam 16 jam perjalanan yang melelahkan dan sekaligus menyenangkan. Sesampai di hotel cari punya cari, ternyata WeChat adalah perusahaan punya Tiongkok. Sementara perusahaan messaging data lainnya, sebagian besar di luar Tiongkok. Kenapa permerintah Tiongkok tidak mau kerjasama dengan yang lain?

Facebook diblokir tahun 2009 dengan alasan melindungi pasar dalam negeri Tiongkok. Instagram diblokir  karena kelompok prodemokrasi hongkong menggunakan Instagram untuk kampanye. Pemerintah tidak suka itu.

Mereka juga punya pengganti  Facebook, namanya Renren, user-nya juga banyak, 240 juta jiwa di tahun 2016. Facebook dibuat untuk segmen orang umum dan kolosal. Mereka juga punya pengganti Instagram, namanya Nice, user Tiongkok-nya belasan juta. Juga mereka punya pengganti google namanya Baidu. Itu semua kan “duit.” Mark Zuckenberg  dengan jualan iklan di facebook dapat uang USD 4.4jt/hari atau setara 59,4 Miliar Rupiah.

Google tahun ini meraup untung  987 Triliun Rupiah untuk pasar Asia, twitter juga begitu. Saking menggiurkan prospeknya, maka Xi Jin Ping tidak rela kasih pasarnya ke orang lain. Penduduknya banyak yang  harus dikasih makan, kok tergantung ke orang. Jadi tidak ada hubungannya dengan ideologi.

Pasar adalah uang, uang adalah salah satu cara menjadi sejahtera. Dengan pasar yang besar ini maka masyarakat harus disejahterakan. Bukan dijual kepada asing atau siapapun di luar Tiongkok. Teringatlah saya kepada pemimpin besar Tiongkok, Deng Xio Ping,  yang mengatakan, “Tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.” Maknanya tidak peduli sistem sosialisme atau kapitalisme yang dijalankannya Tiongkok, yang penting rakyatnya sejahtera. Lagi lagi tujuan akhir sistem ekonomi negaranya kesejahteraan rakyat.

Hari ini sistem pemerintahan Tiongkok masih sosialisme komunis. “Ruling party” hanya Partai Komunis China (PKC), tidak ada partai lain. Jalur karir menjadi penguasa dari tingkat hingga pusat hanya via PKC, sesuai tingkatannya. Berkarier di jalur perusahaan, tersedia banyak BUMN. Silakan berkarya. Dari top manjemen sampai pekerja lapangan. Lapangan pekerjaan diciptakan untuk berbagai usaha, agar bisa memenuhi pasar barang dan jasa pasar 1.3 milyar itu tadi. “Wah huge market!” [mc]

*Anthon Yuliandri, Praktisi Bisnis.

The post Oleh-oleh dari Tiongkok: Kepentingan Nasional ‘First’! appeared first on NusantaraKini.com.



from NusantaraKini.com http://nusantarakini.com/2017/12/01/oleh-oleh-dari-tiongkok-kepentingan-nasional-first/
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: