Mengingat Lahirnya Nabi Besar

(Panjimas.com) – Kabar akan datangnya “Nabi Besar” menjadi isu besar umat beragama zaman dahulu. Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 34: 10 mengatakan bahwa sosok Nabi Besar itu bukan berasal dari Bani Israil. Perjanjian baru, Kitab Wahyu 19: 10 mengatakan bahwa Nabi besar yang diistilahkan dengan “Anak Domba” itu tak mau disembah. “Aku adalah hamba,” kata dia. Sedangkan dalam Kitab Wahyu 7: 10, Nabi Besar diberi salam dan disandingkan namanya dengan nama Tuhan.

Berarti siapakah Nabi Besar yang dimaksud? Jelas sekali, kita yakin bahwa beliau adalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Keyakinan ini dasarnya sangat kuat, yakni ayat al-Qur’an berikut ini:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang umi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka ….” (Al-A’raf: 167).

Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah Nabi Besar yang sudah “dikenal” oleh umat-umat terdahulu. Beliau Nabi akhir zaman yang Allah subhanahu wa ta’ala hadirkan untuk menjadi anutan seluruh umat manusia sedunia yang hidup sejak masa diutusnya beliau hingga jelang kiamat tiba. Dus, sangat terhormat dan beruntunglah kita kaum Muslim yang nota bene adalah pengikut setia beliau.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam yang baik, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah kelahiran dan pertumbuhan beliau walau secara garis besar saja Tulisan ini mencoba menyuguhkan secara singkat kisah lahir dan tumbuhnya Muhammad bin Abdullah hingga menjadi seorang pemuda. Untuk kisah yang lebih terperinci bisa dibaca di buku-buku Sirah Nabi.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dilahirkan pada 9 Rabi’ul Awwal, permulaan Tahun Gajah. Menurut riwayat al-Baihaqi rahimahullah, pada saat beliau lahir, terjadilah sejumlah fenomena menakjubkan. Sepuluh balkon istana Kisra ambrol, api sesembahan kaum Majusi padam, dan beberapa gereja di Buhairah ambruk. Fenomena menakjubkan juga dialami Aminah, ibunda beliau. Ibnu Sa’d rahimahullah meriwayatkan bahwa ibunda Muhammad melihat cahaya yang memancar dari liang peranakannya usai bayinya keluar. Dan cahaya itu menyinari istana-istana di Syam.

Muhammad adalah putra Abdullah dan Aminah. Nama Muhammad adalah pemberian kakeknya, Abdul Muththalib. Nama itu sebelumnya tidak pernah dipakai oleh bangsa Arab. Muhammad adalah sebuah nama baru waktu itu.

Muhammad bin Abdullah, sebagaimana tradisi bangsanya waktu itu, dikhitan saat berumur tujuh hari. Setelah Aminah, Muhammad pernah disusui oleh dua ibu susu. Yang pertama adalah budak Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah. Kemudian dilanjutkan Halimah binti Abu Dzu’aib atau masyhur dengan Halimah as-Sa’diyah.

Saat menjadi ibu susu Muhammad, berbagai keajaiban dialami keluarga Halimah. Kesulitan pangan berubah kemudahan. ASI yang tak mau keluar berubah deras mengenyangkan. Begitu juga susu ontanya yang telah tua, juga susu domba-dombanya. Keledai lemas kelaparan pun jadi kuat bertenaga saat bayi Muhammad menaikinya. Luar biasa, sulit dilogika. Sungguh, Muhammad adalah bayi yatim yang penuh berkah.

Tapi, pada suatu ketika terjadilah peristiwa mengerikan yang menimpa calon Nabi itu. Ada orang mendatangi beliau saat bermain. Orang itu lantas membelah dada dan mengambil lalu mencuci hati beliau di bejana. Lalu hati itu dipasangnya kembali dan langsung saja Muhammad kecil pulih seperti sedia kala. Namun tetap saja, peristiwa mengerikan itu membuat Halimah tidak tenang dan memutusan untuk segera mengembalikan beliau ke ibu kandungnya.

Akhirnya Muhammad kembali ke pangkuan ibunda. Tapi, umur Aminah tidak panjang. Belum lama mengasuh putra tercinta, ia meninggal dunia menyusul suaminya. Setelah itu Muhammad diasuh kakeknya. Dan, saat berumur delapan tahun, Abdul Muththalib meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia berwasiat agar Muhammad diasuh Abu Thalib, dan dilaksanakanlah wasiat itu.

Abu Thalib adalah paman yang sangat sayang kepada beliau. Ia menjadi pembela terdepan bila sampai ada orang yang melukai keponakannya. Menginjak remaja, Muhammad mengisi hari-harinya dengan bekerja menggembala kambing dengan imbalan beberapa dinar. Orang mengenalnya sebagai remaja yang jujur, berakhlaq mulia. Saat beliau berumur dua puluh lima tahun, Khadijah binti khuwailid, seorang pedagang kaya dan terpandang, mendengar kabar kemuliaan akhlaq seorang pemuda bernama Muhammad bin Abdullah. Ia menemui dan meminta beliau menjalankan dagangannya ke Syam. Diterimalah ajakan itu dan jadilah Muhammad pedagang yang sangat jujur dan menenteramkan. Singkat kisah, beliau lantas dilamar dan menikah dengan Khadijah.

Wallahu a’lam. [IB]
From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: