Meneladani Kejujuran Nabi Muhammad SAW dalam Berbangsa dan Bernegara

Oleh: Musni Umar
Sosiolog, Rektor Univ. Ibnu Chaldun Jakarta

Hari ini  1 Desember 2017 bertepatan 12 Rabi'ul Awal 1439 H  kita merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang disebut Maulid Nabi dengan libur nasional.

Setiap kita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebaiknya bangsa Indonesia  yang mayoritas berpenduduk Muslim, melakukan evaluasi sudah sejauh mana telah  meneladani kejujuran Nabi Muhammad SAW.

Paling tidak ada dua alasan, kita harus meneladani kejujuran Nabi Muhammad SAW dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Pertama, prilaku jujur telah tercerabut dari bangsa Indonesia dengan tingginya tingkat korupsi di negara kita.  Pada hal secara sosiologis, bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang jujur, karena budaya yang bersendikan ajaran agama yang mengajarkan kejujuran telah  ditumbuhkembangkan disetiap orang dan suku bangsa di Indonesia.

Pembangunan yang dijalankan sejak Orde Baru dan Orde Reformasi yang berorientasi pada pembangunan ekonomi, telah mendorong masyarakat bergeser kepada hal-hal yang bersifat materi dan sangat mengagungkan harta.  Demi memperoleh materi dan kekayaan dilakukan dengan menghalalkan segala cara termasuk korupsi.

Kedua, para pejabat di semua tingkatan, harus diakui sulit  berprilaku jujur dalam mengemban amanah atau kepercayaan yang diberikan kepadanya.  Banyak pejabat yang  ingkar janji alias tidak amanah, sehingga banyak yang terpaksa  berurusan dengan aparat penegak hukum dan akhirnya dihukum dan masuk penjara.  Sekarang ini keadaan  semakin gawat karena hampir seluruh lapisan masyarakat sudah terjerembab dalam kehidupan tidak jujur terutama dalam demokrasi politik dengan merajalelanya politik uang.

Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi?  Sebagai sosiolog, saya berpendapat bahwa mahalnya biaya demokrasi politik telah menyebabkan sangat besar dana yang harus dikeluarkan untuk memenangkan pertarungan dalam memperebutkan jabatan politik. Ini terjadi karena demokrasi telah dijadikan transaksi uang antara masyarakat  dan para politisi yang ingin memperoleh dukungan suara dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota parlemen dan pemilihan Presiden dan Wakil Preside.

Akibatnya setelah menang dalam perebutan kekuasaan dan berkuasa, para  pejabat publik sangat sulit tidak  korupsi untuk mengembalikan dana yang dikeluarkan begitu besar.  Kalau tidak korupsi karena dana kampanye ditanggung para pemilik modal, maka berbagai kebijakan yang dikeluarkan adalah menguntungkan para penyandang dana, sehingga ketidakadilan semakin merajalela.

Keluar dari Krisis

Indonesia akan mengalami kehancuran jika keadaan semakin tidak bisa dikendalikan.  Pertama, masyarakat akan mengikuti prilaku pejabat yang koruptif karena pepatah mengatakan guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Kedua, kehidupan rakyat akan semakin sulit  karena semakin dibebani pajak untuk membiayai kehidupan negara, sehingga menurut  Ibnu Khaldun, negara akan lemah dan akhirnya bubar.  Indonesia tengah dalam proses seperti dikatakan Ibnu Khaldun.

Bagaimana mencegahnya?  Sesuai firman Allah dalam Alqur'an surah Al Ahzab ayat 21, bahwa Rasullah merupakan contoh teladan yang baik.

Maka bangsa Indonesia, suka tidak suka dan mau tidak mau harus meneladani kejujuran Nabi Muhammad SAW dengan melakukan lima hal.  Pertama, setiap orang tua sejak dini telah mengajarkan sifat dan sikap jujur pada anak-anak mereka. Kedua, para guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) mengemban amanah untuk memberi pendidikan kejujuran kepada anak usia dini.

Ketiga,  seluruh jenjang sekolah dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi harus ditanam kepada anak didik tentang pentingnya kejujuran. Tidak perlu ada mata pelajaran tersendiri cukup setiap guru atau dosen memberi pencerahan dan  penyadaran sekitar lima menit pada setiap mau memberi mata pelajaran.

Keempat, harus bersama dengan semua kekuatan masyarakat madani (civil society) untuk melembagakan pentingnya kejujuran bagi seluruh bangsa Indonesia.

Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/meneladani-kejujuran-nabi-muhammad-saw-dalam-berbangsa-dan-bernegara
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: