Melihat Lashkar-e-Taiba di Pakistan, Benarkah Mereka Didukung Intelijen?

KIBLAT.NET, Kabul- Sehari setelah Pakistan membebaskan Hafidz Said, pemimpin Lasykar Tayyibah atau LeT (Lashkar-e-Taiba) yang merupakan sekutu dekat kelompok jihadis global Al-Qaidah & Taliban, pemerintah Pakistan mengklaim bahwa upaya negaranya dalam memerangi para teroris “tidak ada bandingannya di dunia.”

Said dibebaskan dari status tahanan rumah setelah Pengadilan Tinggi di Lahore mempertimbangkan bahwa pembebasannya tidak akan berdampak pada masalah finansial maupun diplomatik bagi negaranya. Demikian laporan kelompok media Dawn yang berbasis di Pakistan.

Sebelumnya, pemimpin LeT ini telah menjalani tahanan rumah sejak 31 Januari. Sementara pemerintah AS telah memasukkan Hafidz Said ke dalam “blacklist” Penetapan Khusus Teroris Global, sekaligus menyediakan hadiah uang senilai US$ 10 juta bagi setiap informasi untuk menangkap dan menahannya. LeT yang kini juga dikenal sebagai Jama’atud Dakwah, beserta sejumlah lembaga amalnya sudah masuk ke dalam daftar Organisasi Teroris Asing.

Pengadilan Tinggi Lahore memutuskan untuk membebaskan Said satu pekan setelah Kongres AS, melalui UU Otorisasi Pertahanan Nasional, telah menghapus syarat bagi Pakistan untuk mengambil tindakan terhadap LeT supaya aliran uang dari Anggaran Pendukung Koalisi bisa cair untuk Islamabad.

Menteri Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa negaranya tidak mendukung kelompok-kelompok teroris dan akan terus memimpin perang melawan mereka. Pernyataannya ini diungkapkan ketika Menlu Pakistan tersebut membantah protes India atas pembebasan Said.

“Berbagai upaya, tekad, tindakan, dan keberhasilan Pakistan dalam perang melawan terorisme, melawan aksi kekerasan teroris, dan melawan para teroris itu sendiri tidak ada bandingannya di seluruh dunia,” tulis Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Lebih lanjut dikatakan, “Pakistan mengutuk dan menentang semua bentuk terorisme, baik oleh individu maupun kelompok.” Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Pakistan itu kemudian menuding India telah melakukan tindakan terorisme di dalam wilayah Pakistan dan di berbagai tempat lainnya.

Pernyataan/penyangkalan Pakistan bahwa mereka tidak mendukung dan melindungi kelompok-kelompok “teroris” dipertanyakan banyak pihak. Bulan Agustus lalu, Presiden AS Donald Trump melontarkan serangan verbal terhadap Pakistan dan mengatakan AS tidak bisa lagi diam atas fakta bahwa Pakistan menjadi surga (basis yang aman)bagi organisasi-organisasi teroris seperti Taliban dan yang lainnya yang mengancam stabilitas kawasan & sekitarnya. Tidak lama setelah Trump melontarkan kalimat pedasnya tersebut, Kemenlu Pakistan menyangkal bahwa kelompok-kelompok teroris beroperasi di wilayah perbatasannya.

Di dalam negeri Pakistan, LeT (Lashkar-e-Taiba) beroperasi secara terbuka bahkan memiliki kantor-kantor di seluruh Pakistan. Markaz-e-Taiba adalah markas atau kantor pusat LeT yang menempati sebuah areal luas di Muridke dekat Lahore. Di kantor ini, training-training ideologi diberikan kepada para kader jihadis sebelum mereka dikirim ke pusat latihan kemiliteran. Di masanya, pemerintah daerah propinsi Punjab mengalokasikan anggaran APBD untuk membiayai Markaz-e-Taiba.

LeT dinilai sangat piawai memanfaatkan lembaga-lembaga amal untuk menggalang dana. Hal ini paralel dengan kemampuan mereka menyebarkan ide-ide jihad dan merekrut anggota baru. Sejak 2010, AS telah mengidentifikasi ormas-ormas “under bow” LeT, di antaranya: Falah-i Insaniat Foundation, Jamaat-ud-Dawa, Al-Anfal Trust, Tehrik-e-Hurmat-e-Rasool, Tehrik-e-Tahafuz Qibla Awwal, dan Pelajar Al-Muhammadiyah. Mereka terus beroperasi dengan bebas di wilayah hukum Pakistan.

Organisasi jihadis pimpinan Hafidz Said ini sudah sering dikaitkan secara langsung dengan berbagai serangan teror di Asia Selatan, termasuk yang fenomenal adalah serangan di Mumbai pada bulan November 2008 dengan jumlah korban tewas 165 orang. Pemerintah AS dan India menuding Said dan beberapa anggota LeT lainnya, termasuk tokoh yang diduga sebagai perencana, pemasok dana, dan pelaksana serangan Mumbai. Mantan penasehat Presiden Obama untuk Afghanistan & Pakistan pernah mengatakan pada tahun 2012 bahwa berbagai barang bukti yang disita dari kompleks kediaman Syeikh Usamah bin Ladin menunjukkan ada keterkaitan antara Bin Ladin dengan Said dan serangan Mumbai.

Hafidz Said yang mendirikan LeT atas perintah Syeikh Dr. Abdullah Azzam, yaitu mentor Bin Ladin sekaligus salah satu pendiri organisasi Al-Qaidah, mengungkapkan apresiasi/pujiannya terhadap Usamah bin Ladin menyusul insiden penggerebekan oleh US Navy SEAL yang menewaskan pemimpin Al-Qaidah tersebut di Abottabad pada bulan Mei 2011.

Dalam orasinya Said mengatakan, “Usamah bin Ladin adalah orang hebat yang membangkitkan dunia Islam… Mati syahid bukanlah suatu kekalahan, (tetapi) mati syahid adalah kebanggaan bagi Muslim”. “Usamah bin Ladin telah memberikan pengorbanan besar untuk Islam & kaum Muslimin, dan ini akan selalu diingat (oleh dunia),” kata Said melanjutkan kemudian diikuti dengan yel-yel massa yang berdemo, “Hancurlah Amerika” dan “Hancurlah Obama.”

Pemerintah Pakistan dianggap melindungi Said meskipun kerap dituduh terkait dengan sejumlah serangan teror. Islamabad juga menolak mengambil tindakan terhadap “jaringan teror” terkait Said. Hafidz Said bukan hanya mendapat tempat di kalangan militer Pakistan maupun dinas intelijen ISI (Inter-Services Intelligence) yang memberikan dukungan langsung kepada LeT, bahkan Said juga didukung secara luas oleh masyarakat sipil Pakistan. Menurut data Deplu AS, satu-satunya tindakan keras Pakistan terhadap LeT terjadi pada tahun 2016 berupa pelarangan media untuk meliput aktifitas kelompok tersebut.

Sumber: Long War Journal
Redaktur: Yasin Muslim

The post Melihat Lashkar-e-Taiba di Pakistan, Benarkah Mereka Didukung Intelijen? appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: