Laporan Syamina: Invasi Mongol dan Keruntuhan Baghdad (1258)

KIBLAT.NET – Dinasti Abbasiyah adalah salah satu Dinasti Islam yang berdiri sejak tahun 750 M sampai dengan 1258 M. Pada masa kemundurannya, Khalifah Abbasiyah hanya berkuasa di Baghdad dan sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh berdirinya dinasti-dinasti kecil yang telah melepaskan diri dari kekuasaan atau kontrol langsung Khilafah Abbasiyah.

Menyempitnya wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah menandakan lemahnya sistem pemerintahan pusat dan politiknya. Dalam kondisi seperti ini, para khalifah mengalami kemerosotan moral, hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya sehingga mereka tidak menyadari bahaya dari musuh luar,yakni serangan Bangsa Mongol. Secara garis besar ada empat faktor yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah, yaitu:

  1. Lemahnya khalifah

Setelah kekuasaan Bani Saljuk berakhir, Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan dinasti tertentu. Para khalifah yang sudah merdeka dan berkuasa kembali wilayah kekuasaan mereka sangat sempit dan terbatas, yaitu hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit menunjukkan kelemahan politiknya.

  1. Persaingan antarbangsa

Khilafah Bani Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Setelah berkuasa, persekutuan itu tetap dipertahankan. Orangorang Persia masih belum puas dan mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula.

Selain fanatisme karaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu’ubiyyah. Sementara itu, khalifah mengangkat budak-budak dari Persia dan Turki untuk menjadi tentara atau pegawai. Hal ini mempertinggi pengaruh mereka terhadap kekhalifahan. Ketika pada masa Al-Mutawakkil, seorang khalifah yang dianggap lemah, kekuasaan dikendalikan oleh orang-orang Turki dan khalifah hanya dijadikan sebagai boneka. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, selanjutnya beralih ke tangan Dinasti Turki Saljuk.

  1. Kemerosotan ekonomi

Bersamaan dengan kemunduran di bidang politik, Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi. Penerimaan negara menurun disebabkan makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyak kerusuhan yang mengganggu perekonomian, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri. Sementara pengeluaran membengkak dikarenakan kehidupan para khalifah dan pejabat yang bermewah-mewahan. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian khilafah morat-marit.

  1. Konflik sektarian

Munculnya gerakan Zindiq, yang dilatar belakangi kekecewaan orang-orang Persia, membuat khalifah merasa perlu mendirikan jawatan untuk mengawasi kegiatan orang-orang tersebut dan memberantasnya. Gerakan ini mempropagandakan ajaran Maniisme, Zoroasterisme, dan Mazdakisme. Ketika mulai terpojok, mereka berlindung di balik ajaran Syiah sehingga banyak aliran Syiah yang dianggap ekstrem dan menyimpang. Syiah merupakan aliran teologis yang juga dikenal sebagai aliran politik yang berseberangan dengan Ahlussunnah. Keduanya, sering terjadi konflik yang kadang melibatkan penguasa. Selain itu juga terjadi konflik antaraliran dalam Islam, seperti konflik antara Mu’tazilah dengan gologan Salafi.

Dalam situasi seperti inilah Bangsa Mongol memanfaatkan momentum untuk melakukan serangan. Mereka melakukan persiapan yang matang; bukan hanya secara militer, tetapi juga melalui jalur diplomasi sehingga berhasil menanam kolaborator dari kalangan elite pejabat Khilafah Abbasiyah.

Pada akhirnya Bangsa Mongol berhasil menghancurkan Baghdad yang merupakan pusat peradaban Islam pada waktu itu dan melakukan pembantaian terhadap penduduknya. Akibat dari penghancuran ini, kota Baghdad menjadi reruntuhan dan penduduknya menjadi tersisa sedikit selama beberapa abad, dan peristiwa ini disebut-sebut sebagai akhir Zaman Kejayaan Islam.

Permasalahan lain dalam kajian ini adalah apa yang melatarbelakangi penyerangan Bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan ke Baghdad, yang mana di kemudian hari mereka justru memeluk Islam dan membangun kembali peradaban Islam yang pernah mereka hancurkan. Kajian ini menggunakan metode pendekatan sejarah yang sumbernya diambil dari literatur atau pustaka (library research) dengan menggunakan pendekatan politik untuk mengetahui kondisi Dinasti Abbasiyah masa akhir, latar belakang invasi-invasi yang dilakukan oleh Bangsa Mongol dan dampak dari pengaruh yang ditimbulkan dari serangan Mongol ke Baghdad bagi Dunia Islam selanjutnya.

Dari hasil kajian dapat diketahui bahwa latar belakang invasi yang dilakukan oleh Bangsa Mongol terhadap wilayah-wilayah Islam termasuk Baghdad adalah untuk menguasai dunia di bawah kekuasaan mereka tanpa membawa misi menyebarkan agama yang mereka anut sehingga ketika mereka berhasil menguasai wilayah Islam dan bersentuhan dengan umat Islam di wilayah tersebut justru banyak dari mereka yang memeluk Islam.

Download di sini untuk baca Laporan Syamina lebih lengkap.

The post Laporan Syamina: Invasi Mongol dan Keruntuhan Baghdad (1258) appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: