Kaleidoskop 2017: Tahun Kebangkitan Perlawanan Muslim Rohingya

KIBLAT.NET – Tahun 2017 menjadi salah satu tahun yang terkelam bagi kaum muslimin di Rohingya. Menurut laporan MSF, ada sekitar 9.000 warga Rohingya tewas akibat kekerasan rezim junta militer sepanjang tahun ini. Kendati demikian, tahun ini juga menjadi tahun kebangkitan perlawanan mujahidin Rohingya. Berawal dari serangan 9 Oktober 2016, sejumlah pejuang mendeklarasikan berdirinya sebuah gerakan perlawanan pada Maret 2017. Semula gerakan itu bernama Harakatul Yaqin. Lalu, pada Agustus 2017, mereka bertransformasi menjadi Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Serangan di bulan Agustus kemudian memancing rezim junta militer Myanmar kembali mengeluarkan wajah beringasnya. Hal inilah yang kemudian membuka mata dunia, bahwa penindasan dan persekusi terhadap etnis Rohingya butuh uluran tangan dari kaum muslimin. Bukan semata-mata bantuan internasional, bukan kata-kata dusta atas nama perjanjian damai, tetapi kepedulian ukhuwah umat.

Baca jugaGerakan Perlawanan Bangsa Rohingya: Sejarah dan Evaluasi

Berikut ini kami ringkaskan berita-berita menarik dari Tanah Arakan sepanjang tahun 2017. Mulai dari serangan mujahidin Rohingya, kekejaman biksu Budha di Myanmar, kecelakaan pesawat militer Myanmar, merebaknya flu babi, dan lainnya.

Januari 2017: Sejumlah LSM kemanusiaan Malaysia menggelar ‘Misi Flotilla to Arakan’. Rencananya diberangkatkan pada pada bulan Maret 2017, sejumlah kapal berisi bantuan kemanusiaan akan dikerahkan menuju garis pantai Arakan, yang kini diubah namanya oleh pemerintah menjadi Rakhine State. Pemerintah Myanmar menanggapi rencana tersebut dengan mengeluarkan peringatan untuk tidak secara sengaja ikut memanas-manasi situasi di negara bagian Rakhine.

Juru bicara kepresidenan, Zaw Htay, dengan arogan mengatakan, “Pertama, jangan mengeksploitasi agama. Kedua, hormatilah pemerintah (Myanmar). Yang ketiga, tinjau kembali apa tujuan sebenarnya dari rencana itu. Jika mereka bersikap semau-maunya tanpa persetujuan otoritas Myanmar, itu salah mereka, bukan kesalahan kami,” katanya sambil menambahkan bahwa pemerintah Yangon sejauh ini belum menerima permintaan resmi bagi kapal-kapal yang akan memasuki perairan Myanmar.

Di saat yang sama, Yanghee Lee, petugas khusus PBB bidang hak asasi manusia (HAM) tak diberikan akses untuk memasuki sejumlah wilayah yang dihuni etnis Rohingya di bagian utara Rakhine. Rezim Myanmar berdalih bahwa hal itu dilakukan atas alasan keamanan. Seperti dilaporkan Aljazeera, dalam perjalanannya Lee hanya diizinkan berbicara dengan orang-orang yang sebelumnya telah dipilih oleh pemerintah Myanmar.

Baca juga: Myanmar Tak Beri Akses Petugas HAM PBB Masuki Wilayah Etnis Rohingya

Februari 2017: Di pekan pertama bulan Februari, Kapal bantuan kemanusiaan Malaysia dihadang massa anti-Rohingya di pelabuhan Yangon, Myanmar pada Kamis (09/02). Sedianya, bantuan itu akan disalurkan kepada pengungsi dari minoritas Muslim Rohingya. The Nautical Aliya, kapal pembawa bantuan itu berangkat dari Malaysia dua pekan lalu, membawa 2.200 ton beras, bantuan medis dan pakaian, dengan ratusan pekerja kemanusiaan dan kesehatan. “Kami ingin memberitahu tahu mereka bahwa tidak ada Rohingya di sini,” kata seorang biksu Budha Myanmar bernama Thuseitta, yang ikut aksi itu.

Maret 2017: Nama gerakan pejuang Harakah Al-Yaqin mencuat pasca tiga serangan perlawanan pada 9 Oktober 2016. Kelompok gerilyawan ini mengaku bertanggung jawab atas penyerangan terhadap pos-pos perbatasan dekat Bangladesh, menewaskan sembilan polisi Myanmar.

“Bangsa kami telah dianiaya selama 50–60 tahun. Lantas hal itu membuat para gerilyawan memperoleh dukungan,” kata Rahim, warga Desa Dar Gyi Zar di utara Maungdaw, Rakhine. Rahim yang beprofesi sebagai seorang guru merupakan satu dari sekian pendukung Harakah Al Yaqin. Mereka membantah keterkaitan mereka dengan kelompok teroris global. Mereka mengaku bergerilya demi melawan pemerintah Myanmar, yang telah berpuluh tahun menindas penduduk Rohingya.

“Kami tidak terkait dengan kelompok teroris apapun di seluruh dunia,” ungkap pemimpin Harakah Al-Yaqin, Ata Ullah dalam rilis resminya pada Rabu (29/03), seperti dilansir Dhaka Tribune. Harakah Al-Yaqin berdiri untuk membela dan melindungi masyarakat Arakan Rohingya. Menurut Ata Ullah, membela diri dari ancaman rezim yang berkuasa, dipandang sah di bawah hukum internasional.

Baca juga: Mengenal Harakah Al-Yaqin, Kelompok Gerilyawan Muslim di Rakhine

Pada bulan itu juga, Cina dan Rusia telah mem-veto sebuah proposal Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat (17/03) yang berisi pernyataan keprihatinan atas situasi krisis yang berkembang di negara bagian Rakhine, Myanmar. Duta besar Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft, menyampaikan kepada para wartawan bahwa akibat veto Rusia dan Cina, “(Akhirnya) tidak ada konsensus yang disepakati terkait pernyataan tersebut”. Anehnya, masing-masing perwakilan dua negara itu menolak memberikan alasan ketika dimintai keterangan. Proposal pernyataan yang disusun Inggris itu di antaranya berisi “keprihatinan  atas insiden kekerasan di beberapa bagian wilayah Myanmar, dan menekankan pentingnya akses bagi bantuan kemanusiaan di seluruh wilayah tersebut”.

April 2017: Dua sekolah Islam di Myanmar akhirnya ditutup setelah muncul desakan dari sekelompok orang yang dipimpin biksu Budha. Menurut sumber polisi, sekolah tersebut dipaksa untuk ditutup karena difungsikan sebagai masjid.

“Dua sekolah ditutup untuk sementara waktu,” kata seorang perwira senior kepolisian Yangon, Jum’at (28/04), menyusul lebih dari 100 orang berkumpul dan memaksa menutup dua sekolah resmi tersebut. Dia menambahkan penutupan sekolah dilakukan setelah melakukan perundingan antara pemerintah daerah setempat dengan para tokoh Islam. “Kami melakukannya tanpa ada keputusan pengadilan karena kami ingin mencegah konflik ke depan yang tidak perlu,” katanya.

Mei 2017: Organisasi biksu ekstremis Myanmar, Ma Ba Tha mengumumkan perubahan nama setelah otoritas Budha setempat mengumumkan organisasi tersebut sebagai kelompok terlarang. Seperti diketahui, Ma Ba Tha merupakan organisasi biksu ultra nasionalis yang kerap menyampaikan ujaran kebencian kepada Islam. Atas dasar itu, otoritas Budha Myanmaar mengumumkan kelompok tersebut sebagai kelompok terlarang, dengan alasan memicu Islamofobia. Namun, peringatan dari otoritas Budha Myanmar itu tak membuat organisasi itu surut. Mereka pada akhir pekan kemarin justeru menggelar aksi yang diikuti ribuan biksu dengan mengusung spanduk besar bertuliskan Ma Ba Tha. Dalam aksi yang digelar Ahad (28/05) mereka mengumumkan nama baru, yaitu Buddha Dhamma Philanthropy Foundation atau Yayasan Buddha Dhamma Philanthropy.

Baca juga: Dinyatakan Terlarang, Organisasi Biksu Ekstremis Myanmar Ma Ba Tha Ganti Nama

Juni 2017: Masyarakat Muslim di Kota Yangon, Myanmar melakukan aksi unjuk rasa guna memprotes penutupan dua madrasah oleh pemerintah. Aksi protes pecah karena madrasah tersebut juga digunakan sebagai tempat ibadah. Dalam aksi protes ini, sekitar 100 Muslim berkumpul di depan salah satu dari dua madrasah tersebut. Dalam aksinya, massa melakukan doa dan memprotes kebijakan tersebut karena menyalahi kesepakatan yang hanya ditutup sementara.

Di bulan yang sama terjadi peristiwa yang tak kalah mengejutkan tatkala sebuah pesawat militer Myanmar bersama 120 penumpang di dalamnya dilaporkan hilang di atas Laut Andaman. Militer Myanmar mengatakan pesawat tersebut terbang antara kota selatan Myeik dan Yangon (Rangoon). Pesawat pengangkut Y8 buatan Cina, telah berulang kali terbang dalam penerbangan rutin yang singkat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa puing-puing telah terlihat di laut oleh beberapa pesawat militer atau kapal yang dikirim ke daerah tersebut. Di Myanmar telah terjadi sejumlah insiden kecelakaan pesawat terbang dalam beberapa tahun terakhir. Pada bulan Februari 2016, lima anggota awak pesawat angkatan udara tewas saat pesawat tersebut jatuh di ibu kota Naypyidaw. Beberapa bulan kemudian, tiga petugas tewas ketika sebuah helikopter militer jatuh di Myanmar tengah. Sebuah pesawat komersial Air Bagan juga pernah melakukan pendaratan darurat pada tahun 2012 dan terbakar dengan dua orang tewas.

The post Kaleidoskop 2017: Tahun Kebangkitan Perlawanan Muslim Rohingya appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.:

0 Response to "Kaleidoskop 2017: Tahun Kebangkitan Perlawanan Muslim Rohingya"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close