Demi Pragmatisme Korporasi Asing, Telkom Indonesia Tendang Partner Lokal

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

Lama tidak menulis akhirnya saya agak sedikit geregetan ingin berbicara tentang "Billing System" yaitu sistem pembayaran yang menggunakan seperangkat alat modern. "Billing System dikenal dalam istilah cek nota pembayaran lewat software". Dengan begitu Billing System bisa juga disebut sebagai alat pengelolaan sistem pembayaran ataupun penyimpanan data menggunakan software.

Manfaat Billing System begitu sangat berguna pada semua jenis usaha baik dibidang perbankan, pajak dan telekomunikasi serta usaha lainnya. "Karena dengan Billing System dapat menyimpan seluruh data-data pelanggan, nasabah maupun kewajiban pembayaran fiks line maupun multimedia terhadap PT. Telkom Indonesia". Namun saat ini yang akan saya bahas kali ini yaitu ketika Billing System ini akan diputus kontraknya secara sepihak dari perusahaan lokal yang sejak awal mengelola seluruh data pelanggan dibidang perbankan, dan telekomunikasi, mengenai sistem pembayaran komunikasi dan intenet yang ada di dalam PT. Telkom. Dengan adanya Billing System usaha telekomunikasi dapat berjalan lancar karena PT. Telkom dapat menghitung dan mencatat tarif, waktu dan kuota secara tepat.

Begitu banyak keuntungan yang dapat dihasilkan ketika PT. Telkom menggunakan Billing System dalam usahanya. Namun investasi dibidang tersebut tidaklah murah karena puluhan tahun yang lalu tidak banyak pengusaha lokal yang mau melakukan investasi dibidang ini.

Dengan digunakannya Billing System tidak ada pihak yang saling dirugikan antara pihak klien (user) dengan pemilik (owner), selain itu pula untuk pihak pemilik (owner) tidak perlu khawatir akan kecurangan yang akan dilakukan oleh (operator) dibidang telekomunikasi internet, karena semua kegiatan komunikasi baik telp, sms, wa, dan jasa warnet, maupun pemakaian kuota internet akan tercatat akurasinya pada Billing System.

Sebentar lagi, dan mungkin tidak lama lagi, andai tulisan ini tidak saya paparkan kepada segenap khalayak masyarakat indonesia, bisa jadi akan muncul tragedi penuh kelu buat sebuah perusahaan lokal yang selama 22 tahun telah menjadi partner strategis bagi telkom indonesia. Yah, sebagai sebuah entitas perusahaan lokal tersebut, "sejatinya menjadi partner mutualistis bagi perusahaan teknologi dari Prancis (SOFRECOM) dalam menyediakan fasilitas dan teknologi Billing System bagi PT. Telkom Indonesia ditingkat nasional maupun internasional".

"Muasal Konflik"

Di satu sisi, benih konflik dimulai ketika sejak 6 tahun yang lalu, ketika PT. Telkom diduga belum/tidak membayar kewajiban biaya lisensi bagi penggunaan jasa Billing System kepada Salah satu vendor lokal dibidang telekomunikasi yang ada dinegeri ini. "Estimasi jumlah tagihan dari perusahaan lokal tersebut kepada PT. Telkom senilai 1,3 Trilyun rupiah".

Di sisi lain, vendor lokal tersebut sebenarnya sudah berdarah-darah untuk menalangi kewajiban kepada SOFRECOM hingga pada batas kemampuan maksimal. "Secara kalkulatif, dana talangan yang sudah dibayarkan oleh vendor lokal tersebut kepada SOFRECOM mencapai angka fantastis yaitu ratusan milyar rupiah". Lebih karena pertimbangan menjaga nama baik PT. Telkom, perusahaan lokal tersebut beritikad baik untuk tetap memastikan bahwa Billing System di PT. Telkom tetap bisa berjalan dengan baik.

Ketidakberlangsungan kewajiban bayar dari PT. Telkom kepada vendor lokal tersebut akhirnya sampai juga kepada manajemen SOFRECOM di Prancis. Singkat cerita, petinggi SOFRECOM berupaya untuk mengakses informasi langsung dari PT. Telkom perihal masalah tersebut. Singkat cerita, "terjadilah pembicaraan pragmatis antara petinggi SOFRECOM Indonesia yang diwakili oleh salah satu direkturnya dengan oknum petinggi dari PT. Telkom indonesia yang juga diwakili oleh dua orang direksinya yaitu direktur keuangan dan direktur network and IT Solution".

Upaya Terminasi Oknum Petinggi Telkom terhadap partner lokal
Dari perkembangan diskusi antara ketiga pihak tersebut, ada upaya pemufakatan jahat dan dengan cara pragmatis yang akan ditempuh untuk menyelesaikan kewajiban bayar sebesar 1,3 Trilyun rupiah dengan skema mendatangkan keuntungan bukan untuk PT. Telkom, Vendor lokal, maupun SOFRECOM. Disinyalir muara dana dalam jumlah yang disepakati tersebut patut diduga hanya akan digunakan untuk kepentingan ketiga oknum petinggi dari dua perusahaan tersebut.

Selain itu dalam beberapa waktu kedepan ketiga oknum petinggi perusahaan tersebut telah mengagendakan pertemuan final untuk menyepakati beberapa agenda, salah satunya adalah untuk menendang atau memberhentikan peran vendor lokal tersebut dalam menyediakan jasa Billing System bagi PT. Telkom. Pragmatisme negatifnya SOFRECOM secara langsung yang akan menyediakan jasa layanan tersebut kepada PT. Telkom secara langsung. Namun praktik yang tidak umum ini sebenarnya bertentangan dengan regulasi yang mensyaratkan perusahaan asing mesti berpartner dengan perusahaan lokal dalam menyediakan jasa layanan kepada beragam korporasi yang ada dinegri ini.

"Secara Konfirmatif", pihak perusahaan atau vendor lokal yang hendak ditendang tersebut memastikan bahwa jika kesepakatan ketiga oknum petinggi tersebut terealisasi, maka dapat dipastikan bahwa Billing System tersebut akan "DIMATIKAN". Mengapa demikian?? Karena peranan perusahaan atau vendor lokal tersebut dalam menyediakan jasa layanan Billing System sudah di "DITERMINASI".

"Ragam Kerugian Krusial":
Andai saja pemufakatan jahat yang terselubung, dan sistematis tersebut tetap terlaksana dalam beberapa waktu kedepan, tentu saja dapat dipastikan adanya kerugian yang amat krusial bagi pelbagai pihak.
"Pertama", bagi PT. Telkom Indonesia berhentinya kerjasama dengan perusahaan atau vendor lokal secara sepihak dalam hal penyediaan jasa Billing System telah menjadi preseden buruk bagi keberlangsungan perusahaan tersebut dalam menjaga hubungan baik dengan para vendor atau partner lokal lainnya. Buntutnya, apabila Billing System dimatikan oleh vendor lokal tersebut, dapat dipastikan akan terjadi "Musibah Dahsyat", dalam operasionalisasi PT. Telkom, mengingat Billing System merupakan "JANTUNG" layanan publik yang menentukan hidup dan matinya operasionalisasi PT. Telkom.

"Secara eskalatif", tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja dan kredibelitas PT. Telkom akan hilang karena transparansi penghitungan pembayaran tagihan bulanan pelanggan PT. Telkom dapat menjadi kacau balau. Selain itu, Musibah dahsyat ini juga akan menohok dan menurunkan secara drastis saham PT. Telkom yang ada di Bursa Efek Indonesia maupun dibursa saham luar negeri mengingat PT. Telkom merupakan salah satu saham yang masuk kategori "saham blue chip".

"Kedua", informasi sahih yang saat ini saya terima mengenai adanya dugaan nuansa bagi-bagi kue atau bancakan uang sejumlah ratusan milyar rupiah yang akan disepakati antara Petinggi PT. SOFRECOM Indonesia dengan kedua oknum petinggi PT. Telkom sudah barang tentu akan mendatangkan kerugian bagi vendor lokal tersebut maupun bagi pendapatan negara. Mengapa demikian?? Karena perusahaan tersebut masih tetap berkewajiban untuk membayar biaya lisensi kepada SOFRECOM di Prancis.

"Ketiga", ditengah gencarnya upaya pemerintah untuk menggaungkan prinsip pemerintahan yang "Clean and Good Governance" dalam perspektif budaya Good Corporate pada seluruh perusahaan plat merah milik pemerintah, ternyata ada praktik tak santun yang bisa menjatuhkan wibawa pemerintah secara berjenjang;
1. PT. Telkom Indonesia yang sejak semula telah mendeklarasikan diri sebagai perusahaan yang "bonafid dan profitable", namun pada kenyataannya malah tercoreng oleh praktik tak santun dan tak beretika kepada vendor lokal dan diduga akan melakukan bancakan uang tak etis dengan PT. Sofrecom Indonesia.
2. Kementrian Negara BUMN yang saat ini sedang giat-giatnya dalam mengkapitalisasi kemampuan perusahaan-perusahaan BUMN untuk berkontribusi financial bagi negara, pada kelanjutannya mengalami tamparan dan stigma negatif dari ketidakmampuan dalam mengorkestrasi entitas perusahaan plat merah untuk beroperasi secara profesional, proporsional, beretika dan berintegritas.
3. Kepala Negara dalam hal ini Presiden sebagai administrator tertinggi dalam pemerintahan, yang selama ini juga menggalakan pentingnya akuntabilitas terhadap layanan publik untuk menjadi abdi negara yang baik secara pribadi maupun kelembagaan, pada hakikatnya malah dihancurkan dengan Praktik Tak Santun dari salah satu BUMN favorit dan bereputasi semacam PT. Telkom Indonesia.

Sebagai pesan penutup, Kontemplasinya untuk bisa meredam dan mengeleminasi praktik manipulatif tak santun dan cenderung akan menghancurkan eksistensi vendor lokal dinegeri sendiri yang akan dihancurkan oleh PT. Telkom, seyogianya praktik kotor ini harus bisa dihentikan dan pemerintah beserta aparatur penegak hukum bisa mengaudit secara konfrehensif Billing System yang ada di PT. Telkom.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamualaikum Wr, Wb

Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/demi-pragmatisme-korporasi-asing-telkom-indonesia-tendang-partner-lokal
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: