Zaman Milenial Rasa Kolonial

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

Sepertinya judul diatas sangat cocok untuk diangkat sebagai "sebuah bahan tulisan ataupun diskusi publik dinegeri ini", dimana tekhnologi kini maju dengan begitu pesatnya, dan pemerintahan presiden jokowi yang katanya diawal terpilih menjadi presiden akan menjunjung tinggi nilai dalam demokrasi, yang berkembang dimasyarakat. Namun kini sepertinya hal tersebut, "sangat jauh dari cita-cita revolusi mental", yang pernah menjadi jargon kampanye beliau dimasa lalu dan sangat jauh dari harapan publik.

Adalah dua orang penulis bernama William Strauss dan Neil Howe, yang secara luas dianggap  sebagai pencetus penamaan Milenial. Mereka berdualah yang menciptakan istilah ini pada tahun 1987, di saat anak-anak yang lahir di tahun 1982 masuk pra-sekolah, dan saat itu banyak media massa mulai menyebutnya sebagai kelompok yang terhubung ke sebuah era baru yaitu MILENIUM di tahun tahun 2000. Mereka berdua menulis tentang kelompok ini dalam beberapa buku, diantaranya yang berjudul Generations: The History of America's Future Generations, 1584 to 2069 ditahun 1991, dan Millennials Rising : The Next Great Generation ditahun 2000.

Kaum Millennial adalah mereka mereka generasi muda yang terlahir diantara tahun 1980'an sampai tahun 2000'an. Kaum Millennial tersebut terlahir dimana dunia menjadi lebih modern dan teknologi semakin canggih diperkenalkan kepada publik serta maju dengan begitu cepatnya tekhnologi informasi didunia seperti: gadget, dan lain sebagainya, atau bisa dikatakan kaum milenial sebagai generasi yang melek akan teknologi modern.

Secara terminologi, generasi Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y), yang merupakan kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.  Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Generasi Milenial menurut para ahli pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut juga sebagai "Echo Boomers" karena adanya semacam "booming" (peningkatan besar) tingkat populasi kelahiran penduduk di tahun 1980-an dan diakhir 1990-an.

Dengan begitu maju pesatnya dunia teknologi modern, pada akhirnya mendorong generasi yang disebut sebagai "milenialis" tersebut sangat mahfum terhadap penggunaan teknologi informasi dan membuat para generasi milenial disebut juga sebagai generasi internet, karena mereka sangat mengandalkan media sosial sebagai wadah ataupun tempat untuk mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial seperti grup WA, Instagram, Facebook, twitter, Path dan lain sebagainya telah menjadi platform pelaporan dan menjadi sumber berita utama bagi masyarakat milenial dalam konsumsi kesehariannya.

Tren penggunaan sosial media yang begitu masif tersebut sudah terbukti disepanjang 2016 dan 2017 ini melalui beberapa peristiwa penting, seperti dalam aksi bela islam 411 dan 212 serta pilkada dki jakarta beberapa waktu yang lalu. Masyarakat benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi yang utuh dan terkini dari sebuah peristiwa yang terjadi karena masyarakat telah menjustifikasi dengan menganggap, "media mainstreams sebagai alat propaganda elit penguasa saja".

Perubahan paradigma berfikir masyarakat di era demokrasi digital seperti saat ini, yang semakin kritis dalam menyikapi hampir seluruh kebijakan pemerintah sebenarnya sangatlah baik dan wajar diera keterbukaan, karena terkadang kebijakan yang dibuat oleh negara, dalam hal ini pemerintah sangat tidak populer dan dianggap ugal-ugalan oleh publik. "Seharusnya pemerintah menjadikan kritik publik tersebut sebagai bagian dari mulai berkembangnya demokrasi ke arah yang lebih baik", bukan malah mencoba membungkam aspirasi publik dengan pelbagai macam pasal karet sebagai alat pembenaran rezim saat ini untuk tetap langgeng menjalankan kekuasaannya.

Banyak sekali aroma tidak sedap dan bau busuk yang menyengat manakala rezim saat ini sepertinya berupaya untuk menciptakan "Status Quo" dan tidak mau melibatkan kontrol publik dalam menjalankan roda pemerintahan, yang berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas tentang "mau dibawa kemana perahu republik ini" oleh presiden jokowi sebagai nahkoda kapal, karena sepertinya banyak lambung kapal yang bocor, dan "kapal tersebut akan karam kedasar laut".

Masifnya penangkapan aktivis yang begitu vokal menyuarakan aspirasi masyarakat luas saat ini, hampir sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh pemerintahan kolonial saat berkuasa dan mencengkram republik ini dimasa revolusi fisik berlangsung, karena hari ini rakyat sepertinya dicekam oleh rasa takut yang begitu besar akibat ditutupnya ruang demokrasi oleh pemerintahan presiden jokowi, "melalui banyaknya aturan yang dibuat untuk membatasi kebebasan berekspresi diera milenial dengan rasa kolonial" seperti saat ini.

Kritik dari masyarakat tidak selayaknya ditanggapi dengan cara-cara yang lebay atau berlebihan oleh pemerintah, begitu juga oleh parpol pendukung koalisi pemerintahan, apalagi dengan menggunakan tangan para penegak hukum untuk merepresi kehidupan demokrasi diera milenial yang akan mengarah kepada, "pemerintahan yang otoritarian dan totaliter", diera berkembangnya tekhnolgi informasi yang begitu cepat, karena sepertinya pemerintahan jokowi tidak mampu mengikuti perkembangan zaman maupun ilmu pengetahuan dan tekhnologi dinegeri yang begitu kaya akan sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Diera milenial seperti saat ini, pejabat publik ataupun pejabat politik dinegeri ini, "selayaknya tidak berkuping tipis", dan bisa bermuka tebal dalam menghadapi kritik tertulis ataupun meme yang dibuat oleh masyarakat sebagai akibat dari kebijakan yang jauh dari harapan publik. Karena dengan begitu kita bisa melihat kwalitas demokrasi dinegeri ini sebagai proses pendewasaan politik masyarakat diera demokrasi milenial yang semakin maju, baik secara teknologi, maupun masyarakatnya yang menuju kepada masyarakat madani.

Presiden sebagai sumber hukum selayaknya memiliki pengetahuan yang konfrehensif dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu juga dengan para pembantu presiden serta orang disekeliling presiden yang sepertinya banyak sekali melakukan blunder dan offside dalam membuat kebijakan, serta tumpang tindih dalam pekerjaan, karena terkesan dimata publik "orang-orang disekeliling presiden sepertinya punya persoalan eksistensi dan cenderung carmuk", dihadapan publik maupun dimata presiden.

Kebijakan pajak yang begitu gencar diberlakukan oleh pemerintah saat ini dalam rangka mengejar pembangunan infrastruktur. Hampir mirip dengan masa kolonial dimana rakyat diperas untuk bekerja keras oleh pemerintah kolonial, dan dipajaki oleh pelbagai pungutan upeti, selayaknya dihentikan saja. Karena sepertinya kebijakan tersebut makin membuat daya beli masyarakat menurun dan publik semakin antipati terhadap seluruh kebijakan pemerintah, "karena sangat jauh dari kesan dan pesan kerakyatan".

Selain itu kebijakan pencabutan subsidi bahan bakar minyak, pencabutan subsidi listrik, kenaikan tarif tol yang diiringi oleh kenaikan harga-harga lainnya makin memperparah kesan, "yang katanya tuan adalah presiden rakyat", menjadi presiden yang bukan lagi milik rakyat karena sepertinya tuan presiden lebih banyak mengapresiasi kepentingan konglomerasi dengan berpihak membela kepentingan kaum kapitalis yang ada dinegeri ini. "Semisal kebijakan penjaminan hutang negara terhadap Lion Air, Reklamasi, hingga pada pengembangan kereta api cepat dan Meikarta'nya".

Setelah tiga tahun masa pemerintahan jokowi, publik yang cerdas sudah sangat memahami, kalau tampaknya tuan presiden masih bingung dan belum siap membuat banyak kebijakan yang terkait dengan kepentingan masyarakat luas, karena dari banyaknya kebijakan yang dibuat oleh presiden jokowi saat ini, "banyak sekali policy yang tidak memiliki keberpihakan terhadap kepentingan rakyat banyak", dan keberadaan negara tidak lagi dirasakan keadaannya oleh masyarakat banyak, sebagai akibat dari policy yang dibuat dengan cara menindas rakyat banyak dan hanya menyenangkan hati para konglomerasi yang menjadi pemodal utama saat tuan presiden berkampanye dimasa pemilihan yang lalu.

Mengutip statement mantan presiden soekarno, "bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya, karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat, dan diatas segalanya itu adalah adalah kekuasaan tuhan yang maha esa". Untuk itu belajar dari kata-kata bijak pendiri bangsa kita saatnya tuan presiden berkata jujur kepada seluruh rakyat indonesia, "Masih mampukah menjadi pemimpin diera demokrasi milenial seperti saat ini, atau menyatakan sikap legowo dengan melempar handuk dan menyerah agar cita-cita demokrasi seperti diawal reformasi bisa berjalan dengan baik dan tidak mundur seperti diera kolonial.

Meski hari ini banyak lembaga survei yang merilis tingkat kepuasan terhadap kinerja tuan presiden jokowi, sebagai rakyat yang cerdas saya paham betul bahwa hal tersebut dilakukan, "hanya untuk membentuk Framing masyarakat dalam kerangka image building tuan presiden yang telah rusak serta luluh lantak dihadapan publik ", dan survei tersebut dibuat agar mainset masyarakat secara terus menerus dijejali opini kosong dan rekayasa pencitraan hampa yang begitu manipulatif dengan desain yang terstruktur rapi ala revolusi mental yang telah gagal.

Secara pribadi ingin saya ungkapkan, "meski di rebranding dengan metodelogi apapun juga", wibawa tuan presiden jokowi telah hilang dihadapan publik akibat banyaknya janji kampanye yang tidak terealisasi hingga saat ini dan publik sudah mulai gerah dan bosan dengan gaya pencitraan yang terus menerus dilakukan melalui media mainstream pendukung rezim pemerintahan saat ini. dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang dapat menarik kembali simpati publik karena publik diera milenial lebih percaya dengan media sosial ketimbang media lainnya.

Sebagai pesan penutup, Diera milenial seperti saat ini sudah selayaknya tuan presiden bisa mengikuti perkembangan zaman yang ada dengan membuat kebijakan yang populis bagi rakyat banyak, "dengan menghentikan seluruh bentuk arogansi kekuasaan yang menjadikan tuan presiden sebagai produk yang downgrade dimata rakyat kebanyakan". Karena secara jujur saya harus katakan kalau ditahun 2019 nanti hanya ada dua kontestan politik dalam kontestasi politik menuju pilpres, maka kompetitor tuan presidenlah yang memiliki impresi dan akan dipilih oleh publik dan tuan presiden jokowi hanya akan menjadi sejarah kelam dan kenangan pahit saat memimpin negeri ini seperti sejarah diera kolonial berlangsung.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamualaikum Wr, Wb.

Tags: 
Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/zaman-milenial-rasa-kolonial
via IFTTT