Yang Mengaku Berideologi Pancasila 1 Juni 1945

Oleh: Prihandoyo Kuswanto

PEMBATALAN PERDA SYARIA BERTENTANGAN DENGAN IDEOLOGI PANCA SILA 1 JUNI 1945 .BERANILAH BICARA KEBENARAN AGAR BANGSA DAN NEGARA INI TIDAK SEMAKIN TERSESAT .
KATAKAN YANG BENAR ITU BENAR YANG SALAH ITU SALAH .

Saya heran ada yang ngotot ideologi nya Panca Sila 1 Juni tetapi kelakuan nya tidak mencerminkan Ideologi Panca Sila 1 Juni , memusuhi Islam , padahal bung Karno sangay toleran terhadap Islam , yang aneh lagi mengatakan perda-perda Syaria yang dilahirkan dan di perjuangkan oleh wakil-wakil Islam dianggap bertentangan dengan Panca Sila dan harus dibatalkan , pembatalan perda Syaria bukan saja bertentangan dengan Panca Sila justru bertentangan dengan pemikiran Soekarno pada pidato 1 Juni tentang Islam

coba kita buka Cuplikan Pidato bung Karno 1 Juni 1945 .banyak yang gagal paham terutama yang mengaku beridologi Panca Sila 1 Juni .

...."Kemudian apakah dasar yang ke - 3 ? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara " semua buat semua ", " satu buat semua, semua buat satu ".

S a y a y a k i n , b a h w a s y a r a t y a n g m u t l a k u n t u k k u a t n y a n e g a r a I n d o n e s i a i a l a h p e r m u s y a w a r a t a n , p e r w a k i l a n .

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam, - maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna, - tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan.

Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.
Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan.

Badan Perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam.

Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam.

Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60,70,80,90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam.

Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam.

Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam ? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat.

Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip no. 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya,.

Jadi jelas pembatalan Perda Syaria oleh Presiden Jokowidodo adalah tidak sesuai dengan ideologi Panca Sila 1 Juni 1045 yang di pidatokan Soekarno , kalau begitu tafsir Panca Sila 1 Juni itu menurut siapa ?

AYOK CERDASKAN DIRIMU ,AGAR KITA TIDAK MENELAN KEADAAN TETAPI BERPIHAK PADA KEBENARAN .
 

Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/yang-mengaku-berideologi-pancasila-1-juni-1945
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: