Walid As-Sinani, Teladan dalam Menyampaikan Kebenaran di Hadapan Penguasa

KIBLAT.NET – Kebenaran akan selalu bertentangan dengan kebatilan. Itu adalah sebuah sunnatullah yang tidak dapat dipungkiri. Keniscayaan ini selalu datang dan pergi setiap masa dan zaman. Ada Nabi Ibrahim simbol kebenaran berhadapan dengan Namrudz simbol kebatilan. Ada Nabi Musa berhadapan dengan  Fir’aun, ada Nabi Isa berhadapan dengan Herodes dan Nabi Muhammad berhadapan dengan tokoh-tokoh kafir Quraisy.

Begitu pula yang terjadi zaman ini. Ulama adalah pewaris para Nabi. Menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan adalah salah satu tugas utamanya. Para alim berdakwah menyebarkan kebenaran risalah Allah walau banyak hadangan. Dan kebatilan akan muncul dan menjadi tandingan di saat kebenaran disuarakan lantang.

Cercaan, hinaan, intimidasi, ancaman hingga jeruji besi dan berujung kematian adalah resiko menyuarakan kebenaran. Salah satunya adalah seorang alim yang disebut namanya di majalah Ar-Risalah Edisi 3 Shafar 1439 H. Nama ulama ini disebut pada halaman 7 dan dikatakan didalamnya ia telah dipenjara selama 23 tahun karena bersuara lantang menyuarakan kebenaran. Usut punya usut ia dipenjara karena mengkritik pemerintah Saudi dalam persoalan Ghazwul Khalij (perang Teluk) dan meminta bantuan pasukan asing (Amerika) dalam rangka perang melawan Shaddam.

Selain itu, satu hal lagi yang membuat namanya melambung adalah ketika ia mendiskusikan masalah keabsahan pemerintah Saudi menurut kacamata syariat. Atas keberaniannya ini ia dijatuhi hukuman penjara 15 tahun. Namun sampai saat ini sudah memasuki tahun ke-23 belum ada kejelasan dan ia masih dipenjara di Al-Hayir. Ulama pemberani yang terdzalimi ini adalah syaikh Walid As-Sinani hafidzahullah.

Mengenal syaikh Walid As-Sinani

Nama lengkapnya adalah Walid bin Shalih bin Hamad bin Ali bin Muhammad As-Sinani Al-‘Aamiry As-Subai’.  Dari kabilah Suba’i Berasal dari kota ‘Unaizah. Nama kunyahnya Abu Subai’. Lahir di Riyadh tahun 1385 Hijriyah. Ayahnya seorang pekerja yang mengambil bagian dalam pekerjaan bersama para mujahidin. Setelah terjadi unifikasi kerajaan Arab, ia pindah ke sebuah tempat bernama ‘Asir. ‘Asir adalah sebuah provinsi di Arab Saudi yang terletak di sebelah barat daya. ‘Asir berbatasan langsung dengan Yaman.

Walid tumbuh di sebuah keluarga yang memperhatikan pendidikan agama. Selain dari pendidikan ayahnya, ia sangat terpegaruh dalam pendidikan dari saudaranya Ahmad As-Sinani, seorang khatib yang tegas dalam memerangi kemungkaran. Dari saudaranya inilah Walid mempelajari prinsip Al-Wala wa Bara’. Bisa dibilang sejak kecil kehidupannya selalu bergelimang dengan ulumuddien. Terlebih sejak orang tuanya berpisah, Walid berada di bawah bimbingan Ahmad As-Sinani yang sangat religius.

Perjalanan pendidikan formalnya berjalan seperti pada umumnya. setelah menyelesaikan pendidikan di  Institute al-Ma’had al’Ilmi Tsanawiyyah kota Riyadh, ia pun melanjutkan kuliah di salah satu universitas Saudi fakultas Ushuluddin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena ia merasa tidak cocok dengan sistem pengajarannya.

Walid lebih cocok dengan sistem pengajaran mulazamah kepada masyayikh dan membaca literatur di perpustakaan. Kebetulan saat itu ia bekerja di perpustakaan Universitas Al-Imam, sembari bekerja ia memperkaya ilmu dengan membaca seluruh kitab induk yang ada.

Ia pun mempelajari berbagai disiplin ilmu tetapi ia lebih mengkhususkan diri mendalami ilmu aqidah, tarikh, nasab dan bahasa. Walid juga melazimi durus (kajian-kajian) syaikh Shalih al-Fauzan. Ia juga memiliki ikatan dengan mufti Saudi, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.

Di antara guru-gurunya yang memberikan pengaruh pada diri Walid adalah Syaikh Hamud At-Tuwaijiry dan Syaikh Abdurrahman Ad-Dausury, bahkan ia menghafal perkataan-perkataan gurunya. Walid pun sangat konsen pada tauhid dan risalah-risalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam ilmu bahasa, Walid menguasai ilmu nahwu dan sharaf dengan baik.

Walid dikenal berkepribadian mulia sebagaimana tabiat orang arab asli yang terkenal dengan adabnya. Jiwanya teduh, tawadhu’ dan jujur dengan apa yang ia imani dari agama Allah. Ia juga terkenal sebagai orang yang sabar, tabah sekaligus pemberani mengungkapkan argumen dalam diskusi. Walid adalah seseoranh yang selalu antusias dengan apa yang ia yakini dan blak-blakan dalam masalah amar ma’ruf nahi munkar.

Siapa yang mengenal baik Walid, maka akan mendapati bahwa ia adalah seseorang yang wara’, ringan tangan, berjiwa tenang dan tidak peduli dengan kemalangan yang menimpanya di dunia. Baginya hidup hanyalah untuk keridhaan-Nya, apapun yang terjadi padanya di dunia bukanlah masalah selama itu di jalan-Nya. Di antara hal yg lucu adalah pasca penangkapannya dia langsung tidur seperti biasa dan para perwira militer pun kaget, dan salah satu mereka berkata , “anta ra’suka fashih” maksudnya sebuah ungkapan terhadap seseorang yg tidak peduli dengan bahaya yg dihadapinya.

Perubahan Pemikiran

Sebelum terjadinya krisis Teluk pada 1990, Walid adalah salah satu pendukung dan pembela Arab Saudi. Ia mempercayai sepenuhnya legitimasi Saudi sebagai negara yang berdasarkan syariat. Namun, dukungan penuh itu  tiba-tiba hilang setelah munculnya fatwa resmi dari Ha’iah Kibar Ulama tentang permintaan bantuan kepada Amerika soal krisis Teluk. Sejumlah 500.000 ribu pasukan Amerika masuk ke Tanah Suci lantaran keputusan krusial ini. Seketika itu juga Walid berbalik arah menentang kebijakan pemerintah Saudi.

Walid menganggap kejadian ini menjadi titik balik batalnya pemerintahan Saudi yang ia dukung selama ini. Menurutnya fatwa ulama bisa disesuikan dengan keinginan penguasa bukan berdasar Al-Quran dan Sunnah lagi. Awalnya hal ini dipandang sebelah mata oleh pemerintah karena Walid hanya membicarakan hal ini pada forum-forum khusus saja. Namun, ini menjadi hal yang mengkhawatirkan ketika Walid mulai membuka suara dan berdiskusi dengan para ulama kibar soal legitimasi sebuah negara.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memanggil Walid untuk mengklarifikasi karena banyak muridnya yang memberitahukan soal ini. Walid pun datang dan berdiskusi panjang dengan syaikh Ibnu Utsaimin tentang kekafiran sebuah negara. Setelah diskusi panjang, syaikh Ibnu Utsaimin sepakat dengan kebenaran yang dikemukakan Walid secara global dan memahaminya. Namun, kebenaran itu sulit untuk direalisasikan karena takut terjadinya fitnah.

The post Walid As-Sinani, Teladan dalam Menyampaikan Kebenaran di Hadapan Penguasa appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

close