Tim Negosiator Baru Oposisi Suriah ke Jenewa Dibentuk

KIBLAT.NET, Riyadh – Konferensi oposisi Suriah di Riyadh memilih anggota versi baru Badan Negosiasi Tertinggi, yang akan duduk di meja perundingan dengan rezim Suriah di Jenewa. Draft pernyataan akhir konferensi tersebut menekankan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan elemen rezimnya harus lengser bersamaan dengan dimulainya masa transisi politik.

Kantor berita Anatolia mengutip sumber oposisi Suriah, Kamis (23/11), mengatakan bahwa badan baru tersebut mencakup total 50 anggota. Dari jumlah itu, sepuluh di antaranya perwakilan Koalisi Nasional untuk Kekuatan Revolusi dan Oposisi. Mereka adalah Nasr al-Hariri, Hadi al-Bahra, Badr Jamus, Abdul Ahad Asitevo, Abdul Ilah Fahd, Tuba Habbush, Hawass Khalil, Abdul Rahman Mustafa, Ahmed Sayed Yusuf dan Ibrahim Porow.

Enam lainnya perwakilan Badan Koordinasi Nasional. Mereka adalah Hassan Abdel Azim, Alice Mafruj, Ahmad Al-Asrawi, Safwan Akash, Nizat Taaima dan Mohammad Hijazi. Sementara perwakilan dari kelompok oposisi bentukan di Mesir yang dikenal “Platform Kairo” dipilih empat, yaitu Jamal Suleiman, Munir Darwish, Firas al-Khalidi, dan Qasim al-Khatib. Sementara perwakilan dari kelompok oposisi bentukan di Rusia, yang dikenal “Platform Moskow”, empat orang. Mereka adalah Yousef Salman, Arubah Al-Mashri, Muhannad Dilyiqan dan Sami Al-Jabi.

Perwakilan lainnya dari faksi-faksi militer di bawah naungan Free Syrian Army (FSA). Mereka berjumlah sepuluh orang. Selain itu juga ada 16 perwakilan dari oposisi independen.

Salinan draf pernyataan akhir konferensi Riyadh yang berhasil didapat Al-Jazeera mengkonfirmasi pembentukan badan pemerintahan transisi yang dapat menciptakan lingkungan netral di mana proses peralihan akan berlangsung.

Draft tersebut juga berisi ketentuan untuk pembentukan delegasi negosiasi tunggal dan tersetruktur serta bersatu dalam sikap dan referensi, yang bertujuan untuk bernegosiasi langsung dengan delegasi rezim tanpa syarat, berdasarkan jadwal yang didasarkan pada pernyataan konferensi Jenewa 1 dan resolusi internasional.

Selain itu, pernyataan bersama itu juga tertulis bahwa solusi konflik Suriah adalah politik pada tinggal satu sebagaimana resolusi PBB, dengan jaminan dari internasional yang mencakup langkah-langkah dan cara penerapannya.

Rancangan tersebut meminta pelaksanaan ketentuan resolusi Dewan Keamanan, terutama pelepasan tawanan dan tahanan, pencabutan pengepungan di wilayah yang terblokade, kembalinya pengungsi dan orang-orang terlantar, eskalasi dan penghentian pelanggaran yang dilakukan oleh rezim dan sekutu-sekutunya.

Pernyataan tersebut juga menyinggung soal rekonstruksi Suriah. Hal tersebut, bunyi dratf tersebut, tidak dapat dimulai sebelum kesimpulan kesepakatan mengenai solusi politik, dan pembentukan pemerintah transisi, yang menekankan bahwa operasi militer yang dilakukan akan memperpanjang krisis Suriah, dan menghalangi pencapaian solusi politik yang berkelanjutan.

Juru bicara oposisi Ahmed Ramadan mengatakan kepada Reuters bahwa oposisi Suriah dan pasukan revolusi mengirim surat kepada masyarakat internasional bahwa siap untuk masuk ke dalam negosiasi langsung dan serius untuk mewujudkan transisi politik di Suriah, dan memiliki deretan politik terpadu dan visi untuk masa depan Negara.

Perlu dicatat, konferensi Riyadh ini didahului dengan pengunduran diri sejumlah pejabat penting di Bandan Negosiasi Tertinggi yang dibentuk di Saudi sebelumnya. Penguduran diri itu disebut-sebut karena tekanan Negara pendukung kepada oposisi. Oposisi ditekan untuk menuruti kemauan Negara donor.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Sulhi El-Izzi

The post Tim Negosiator Baru Oposisi Suriah ke Jenewa Dibentuk appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: