Setya Novanto Versus JK - Ada Masalah Apa?

KONFRONTASI -  Wapres Jusul Kalla sepertinya tak pernah lelah menyoroti perihal Ketua DPR Setya Novanto. Sejak ditetapkan sebagai tersangka pertama kali oleh KPK awal Juli lalu sampai Novanto dirawat di RSCM Jakarta, kemarin, JK terus berkomentar.

Terkadang isinya berupa nasehat, kadang sindiran halus yang menggelitik, tapi tak jarang juga berupa kritikan pedas. Pengacara Novanto, Fredrich Yunadi sampai panas kuping mendengar berbagai komentar tersebut. Ada masalah apa sih Novanto dengan JK sebenarnya? Kenapa JK begitu rajin mengomentari kasus Novanto?

Jubir Wapres JK, Husain Abdullah mengatakan, apa yang disampaikan JK selama ini untuk memastikan supermasi hukum berjalan dengan baik. Karena salah satu yang jadi inti program Jokowi-JK adalah penegakan supermasi hukum.

"Dan salah satu kasus hukum yang terjadi pada masa pemerintah Jokowi-JK ini kebetulan kasus Pak Novanto yang juga Ketua DPR," kata Husain, tadi malam.

Sementara terkait Golkar, Husain mengatakan, selain karena ada permintaan dari elite beringin, apa yang disampaikan JK juga sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai kader dan mantan ketua umum yang tidak rela melihat partainya terpuruk dan tersandera kasus hukum seperti sekarang. Menurut dia, setiap Golkar terlilit masalah, JK selalu dimintai bantuan untuk mediasi dan memberi solusi.  

"Pernyataan atau perhatian Pak JK semua sifatnya normatif sesuai kaidah kaidah hukum atau perundang-undanganan kita," ujarnya.

Bukan karena ada masalah pribadi dengan Novanto? Kata Husain, sudah pasti bukan. Menurut pria yang akrab disapa Daeng Uceng, posisi JK seperti seperti saat ini sudah tidak punya interest politik apapun, jauh dari masalah pribadi. "Semua karena kepentingan negara dan tentu juga organisasi itu sendiri. Pak JK praktis sudah selesai dengan dirinya, sisa mengabdi saja," tegasnya.

Soal permintaan agar JK ikut turun tangan membenahi Golkar malah diminta kembali menjadi ketum? "Saya yakin Pak JK tidak akan turun sejauh itu. Kader-kader di bawahnya sudah cukup dan punya kemampuan," tuntasnya.

Jika ditelusuri, komentar JK terkait Novanto itu disampaikan di berbagai acara. Biasanya diselipkan ketika menyampaikan berpidato saat membuka atau menutup sebuah acara. Tapi terutama lebih sering disampaikan saat ditaya rekan-rekan media atau doorstop. Meski di beberapa kesempatan, JK merasa perlu mengundang rekan-rekan media untuk memberikan keterangan pers.

Apa isinya? Macam-macam. Kadang normatif-normatif saja. Tapi ada pula yang isinya sindiran. Misalnya ketika JK bercerita tentang hebatnya pemberantasan korupsi di Indonesia di acara PWI, awal bulan kemarin. Kata dia, kalau tolok ukur keberhasilan pemberantasan korupsi itu dari orang yang ditangkap, maka Indonesia gak ada tandingannya. Bayangkan saja, ada delapan menteri, 19 gubernur yang masuk penjara gara-gara korupsi. Belum lagi pimpinan lembaga negara seperti MK, KY, DPD.

"DPR hampir masuk. Hampir masuk. Artinya tidak. Kan hampir masuk," kata JK, yang disambut tawa hadirin. Saat itu, Novanto memang baru menang praperadilan melawan KPK. Atau saat Novanto kembali masuk rumah sakit setelah mengalami kecelakaan mobil. "Ya, mudah-mudahan cepat sembuh. Kan biasanya juga cepat sembuh," tutur JK, merujuk saat Novanto sakit sebelumnya.

Ada juga yang berupa kritikan. Misalnya, saat mengomentari langkah Novanto yang mengajukan uji materi UU KPK ke MK . Menurut JK, KPK tidak perlu izin presiden untuk memeriksa Novanto. Malah, JK berharap agar Novanto menaati proses hukum yang sedang berjalan. Pengacara Novanto sampai geram berbagai komentar JK tersebut.  Fredrich bilang sangat menghormati JK sebagai wapres, tapi akan lebih salut kalau JK tidak membikin kegaduhan.

Tapi tak sedikit juga JK melontarkan kritikan pedas. Misalnya saat mengomentari soal Novanto yang sempat menghilang setelah akan dijemput paksa KPK. Dia menyoroti kewibawaan lembaga jika pemimpinnya menghilang. Juga bilang, bagaimana partai maju mau jika ketua menghilang. Ia pun mengungkapkan elite partai ini pasti berdampak pada raihan parpol dalam pemilu.  Bukan sekali dua kali, JK mendorong agar Golkar melakukan perubahan kepemimpinan.

Kemarin, JK juga mengomentari terkait Novanto dan Golkar. Terutama isu soal permintaan JK agar turun gunung dan mau menjadi ketum Golkar. "Saya tidak pernah di gunung, tetap di darat," kelakarnya, usai menutup Munas ke-10 KAHMI di Medan, Sumatera Utara, kemarin.  

JK menjelaskan, dirinya tidak akan terjun Golkar untuk meredam gejolak yang terjadi karena dirinya sudah bukan pengurus lagi. Ia berkata, dirinya sudah tidak berhak mewakili Golkar. Ia pun meminta masyarakat untuk bersabar terhadap proses Novanto. "Proses hukum sudah berjalan," ujarnya mengakhiri.

Beragam komentar JK termasuk soal pergantian pemimpin Golkar ini menuai polemik di internal Golkar. Ada yang bilang wajar-wajar saja, tapi ada yang menganggap omongan JK sudah terlalu jauh masuk internal. Ketua DPD I Lampung Arinal Djunadi mengatakan, apa yang disampaikan JK sebenarnya boleh-boleh saja apalagi sebagai tokoh Golkar. Hanya saja, dia bilang DPD I Golkar masih solid. Tidak ingin berpikir tentang Munaslub. "Kami tidak ingin tergesa-gesa," kata Arinal.

Politikus Aziz Syamsuddin menyampaikan hal serupa. Dia bilang, apa yang disampaikan JK itu hanya masukan semata. Soal pergantian pemimpin, Aziz mengatakan harus diserahkan kepada keputusan jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD) Golkar. "Jadi terserah pemegang suara, yaitu DPD. Pemegangnya tingkat satu, dua pertiganya," ujar Aziz.

Soal arahan JK, ia menegaskan hingga saat ini belum ada arahan secara langsung dari JK selaku tokoh senior agar Golkar secepatnya melakukan pergantian ketum.(KONF/Rmol)

Category: 


from Tokoh http://www.konfrontasi.com/content/tokoh/setya-novanto-versus-jk-ada-masalah-apa
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: