Selamat Jalan Pak Djohan!

Oleh :  Syaefudin Simon

 

Saat itu, di suatu hari di tahun 1982-an,  saya sedang makan sambil nonton  tivi di Asrama Yasma Putra, Masjid Syuhada, Yogyakarta. Tiba-tiba, Syarkawi, teman seasrama, memanggil-manggil nama saya.
“Simon. Simon, ada tamu di depan,” kata Sayrakawi.
“Tamu? Siapa? Saya tak pernah janjian bertemu dengan seseorang.”
Begitu bertemu, sang tamu – pria berusia 40-an – langsung memperkenalkan diri.
“Saya Djohan Effendi.”
“Hah? Pak Djohan Effendi?,” kaget saya.

Jelas kaget. Karena beberapa hari sebelumnya saya mengecam Djohan Effendi yang menerbitkan buku Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib di harian Kedaulatan Rakyat. Saat itu saya menulis artikel, sampai dua kali,  perihal ketidaksukaan saya kepada pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib yang sudah terpengaruh sekularisme. Begitu juga saya mengecam editornya, Djohan Effendi dan Ismed Natsir.

“Ada apa Pak Djohan menemui saya? Apakah saya akan disidang Pak Djohan dan teman-temannya di LP3ES?,” pikir saya waktu itu.

Ternyata Pak Djohan ngajak saya jalan-jalan ke Malioboro. Ia mengajak saya makan bakmi Jawa kesukaannya di dekat perempatan Tugu, samping toko buku Gunung Agung. Usai makan bakmi, saya diajak jalan lagi ke Kateketik, Asrama Realino, dan Sekolah Seminari di Kentungan. Tentu saja, itu pengalaman pertama kali saya mengunjungi situs-situs Kristen yang saya tidak sukai. Tapi karena Pak Djohan yang mengajak, saya ikuti saja. Dalam perjalanan muter-muter di Yogya, Pak Djohan ngobrol tentang pengalaman kuliah dan berorganisasi selama di Kota Gudeg. Saya baru pulang tengah malam karena diajak mampir ke teman-teman Pak Djohan yang rata-rata beragama Kristen.
Saat itu, saya tak tahu, apa maksudnya Pak Djohan mengajak saya ke Kateketik, Asrama Realino, dan Seminari Kentungan. Sebagai aktivis masjid Syuhada, ajakan Pak Djohan jelas janggal. Sebab selama ini, saya paling suka ikut kuliah Kristologi-nya Pak Jalal Muchsin yang isinya mengecam kejanggalan ayat-ayat Injil. Atau mengikuti ceramah-ceramah mubalig Yogya yang antikristen.

Setelah pertemuan tersebut, hubungan saya dengan Pak Djohan makin akrab. Bukan apa-apa. Ternyata Pak Djohan yang tulisannya kelihatan sekuler, ternyata orangnya sangat baik. Sederhana, tdak macam-macam. Suaranya lembut, tak pernah berkata kasar, dan sangat ngemong. Makanya, ketika pertama kali ke Jakarta -- setelah  dapat panggilan kerja di Badan Tenaga Atom Nasional Pasar Jumat – yang saya lakukan pertama-tama mencari alamat Pak Djohan di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.

Saya pun mampir ke rumahnya. Ternyata keluarga Pak Djohan sangat ramah. Istrinya, Bu Djohan, orang ngapak-ngapak (Banyumas)  sehingga cepat akrab dengan saya yang asli Cirebon. Saat permisi pulang, Pak Djohan memberi buku-buku karya Mohamad Iqbal (lupa judulnya) dan Tafsir Alqur’an karya Muhammad Ali. Pak Djohan pun berpesan agar tiap hari minggu datang ke rumahnya di Jalan Proklamasi untuk diskusi dengan teman-teman dari Jakarta. Sejak itulah saya kenal dengan Denny JA, Budhy Munawar Rachman, ElzaPeldi Thaher, Jonminofri, Nazrina, Halimah, dan lain-lain. Mereka ternyata anak-anak muda mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Jakarta yang menamakan forum diskusinya Kelompok Studi Prklamasi. Pak Djohan pula yang mengajak saya ikut pengajian Majlis Reboan di Blok M dan kadang di Rumah Pak Sugiyat di Cempaka Putih.  Melalui Pak Djohan pula saya berkenalan dengan Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Masdar Mas’udi, Utomo Dananjaya, dan lain-lain.

Setelah berkenalan dengan teman-teman studi Proklamasi, ikut Majlis Reboan, dan diberi buku-buku Pak Djohan, saya mulai terbuka wawasannya tentang “Islam yang universal”.  Perlu diketahui, sebelum bertemu Mas Djohan saya sudah menulis artikel di harian Kedaulatan Rakyat, Masa Kini, dan Suara Merdeka (Semarang). Tulisan saya tentu saja khas aktivis Islam militan dari HMI dan Masjid Syuhada yang selalu membela Islam tapa reserve. Saat itu, bagi saya, Islam adalah agama terbaik, tak pernah salah, dan agama apa pun di luar Islam pasti salah!

Innaddina indallahil Islam. Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.  Al-Islaamu ya’luu walaa yu’laa alaih. Islam itu tinggi. Dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Itulah slogan dan pakem tulisan dan ceramah-ceramah saya sewaktu di Yogya.

Pak Djohan yang ramah dan lembut, ternyata berhasil “meredam” radikalisme Islam saya. Di Yogya, dulu saya mengaggumi orang seperti Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Sungkar, Jalal Muchsin, dan tokoh-tokoh militan lain. Saya pun sempat diajak bikin bom oleh seorang teman  aktivis untuk menegakkan Islam di Indonesia. Pendek kata, sebelum bertemu Pak Djohan saya adalah aktivis Syuhada militan yang berprinsip “right or wrong is my Islam”. Islam harus dibela dalam kondisi apa pun.

Setelah bertemu Pak Djohan, mata saya dibuka. Apa itu Islam? Siapa itu muslim yang sebenarnya? Apa itu Islam politik? Apa itu sufisme? Apa itu Islam modernis? Apa itu Ahmadiyah? Apa itu Syi’ah? Apa itu Wahabi? Apa itu partai Islam? Apa itu Kristen? Apa itu Hindhu? Apa itu Budha? Da apa itu perenialisme?  Pak Djohan minta saya mempelajari semua itu agar terbuka wawasannya tentang agama-agama dan spiritualitasnya di dunia. Tentang ajaran-ajaran universal dari semua agama. Jadilah saya seperti sekarang, yang melihat islam dari esensinya. Bukan dari permukaannya.

Pak Djohan adalah pribadi yang sangat sederhana. Saya pernah terkaget-kaget ketika Pak Djohan diangkat jadi Kepala Balitbang Depag, ternyata ia tidur di kantor. Sebab, tak ada rumah dinas lagi di Depag untuk jabatan aselon satu. Dan Pak Djohan menerima apa adanya. Ketika Pak Djohan jadi Mensesneg zaman Gus Dur, saya juga pernah mampir ke rumah dinasnya di Kuningan. Rumahnya besar, maklum rumah menteri, tapi para penghuninya tetap sederhana seperti dulu ketika saya awal-awal di Jakarta. Saya sempat makan sayur lodeh dan tempe di rumah dinas menteri tadi. Ketika jadi menteri? Pak Djohan tetap tak berubah. Ia tak suka protokoler. Lebih suka naik angkot, bus, atau taksi kalau terpaksa. Bahkan ketika  baru direshuffle jadi menteri, Pak Djohan pun pulang jalan kaki dari kantor Mensesneg mencari angkutan kota.  

Pak Djohan memang tak punya obsesi jabatan dan kekayaan. Bila pun jadi menteri, itu pun karena tawaran sahabat karabnya, Gus Dur, yang tak bisa ditolaknya. Kekayaan? Beliau hanya kaya hati dan hikmah. Selebihnya tak punya apa-apa, kecuali gaji pensiun  yang tak seberapa.

“Simon, tolong tulisan-tulisanmu di Facebook dibukukan. Banyak yang bagus dan akan bermanfaat untuk masa depan umat. Minimal untuk legacy kepada anak cucumu,” pesan Pak Djohan suatu ketika melalui chatting di FB.  
“Ya, Pak Djohan. Insya Allah. Sekarang sedang saya kumpulkan dan saya pilih-pilih. Yang bagus akan saya bukukan,”  jawab saya dalam batin sambil tersenyum.

Selamat jalan Pak Djohan. Terimakasih atas bimbinganmu sehingga saya bisa membuka mata lebih jauh untuk melihat dunia dan agama yang lebih indah; lebih berwarna dan lebih  beraroma. Semoga Tuhan menempatkan ruhmu di sorga. Rest in Peace, Guru!  

Dari muridmu, Syaefudin Simon

Category: 


from Politik http://www.konfrontasi.com/content/politik/selamat-jalan-pak-djohan
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: