Sejarah Akan Terus Berulang: Di Mana Kita Berpijak ?

Oleh: Osa Kurniawan Ilham

 

Berbicara tentang sejarah yang berulang tampaknya tidak akan lengkap kalau kita tidak mengenal lebih dalam wilayah di mana kita berada sekarang ini. Wilayah yang sudah menjadi habitat manusia Indonesia selama ribuan tahun ini rasanya menarik untuk dikenal dan dipelajari karena suka atau tidak suka situasi dan kondisi wilayah inilah yang membuat sejarah panjang Nusantara dan Indonesia tercipta. Mengutip istilah Jerman, wilayah inilah yang menjadi "Leben Sraum" atau menjadi tempat tinggal kita selama ini.

Tahukah Anda bahwa Bung Karno pernah menceritakan sebuah negara antah berantah yang ternyata kurang lebih mirip dengan situasi Nusantara ini. Dalam peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Istana Merdeka tahun 1964, Bung Karno pernah berpidato seperti ini:

 

"Kemarin aku baca Ramayana, saudara-saudara, Ramayana. Di dalam kitab Ramayana itu disebut satu negeri, namanya Utara Kuru. Utara Kuru, artinya lor-nya negara Kuru. Kuru artinya Kurawa. Disebutkan dalam kitab itu bahwa di negeri Utara Kuru tidak ada panas yang terlalu, tidak ada dingin yang terlalu, tidak ada manis yang terlalu, nggak ada pahit yang terlalu. Segalanya itu tenang, tenang. Ora ono panas, ora ono adem. Tidak ada gelap, tidak ada terang yang cemerlang. Adem tentrem mbanyu ayu sewindu lawase. Di dalam kitab Ramayana itu sudah dikatakan, hmm negeri yang begini tidak bisa menjadi negeri yang besar. Sebab tidak ada oh up and down, up and down. Perjuangan tidak ada".

 

Apakah Indonesia-kah yang dimaksud dengan negeri Utara Kuru itu ? Untuk menggambarkan Indonesia dengan mudah, Bernard HM Vlekke (dalam bukunya Nusantara: Sejarah Indonesia) menggunakan analogi sebagai berikut. Kepulauan Indonesia, konon wilayah daratnya adalah 2 juta kilometer persegi, hampir 3 kali lebih besar dari wilayah negara bagian Texas di AS. Kalau menghitung luas wilayah total dengan lautnya, dari Sabang sampai Merauke, jarak dari barat ke timur adalah hampir 5.000 km, sama dengan jarak dari San Fransisco di pantai barat AS ke Kepulauan Bermuda. Sementara jarak dari utara ke selatan kurang lebih 2.000 km. Sehingga total wilayah Indonesia kurang lebih adalah 10 juta kilometer persegi atau kira-kira 2,5 juta kilometer persegi lebih luas dibanding wilayah darat AS tanpa Alaska. Di sebelah barat terdapat pulau besar bernama Sumatera, yang hanya dipisahkan oleh selat sempit (yang di beberapa titik hanya berjarak 30 km) bernama Selat Sunda dengan sebuah pulau besar di wilayah selatan yang bernama Pulau Jawa.

Di bagian utara terdapat pulau besar yang bernama Pulau Kalimantan, sementara di sebelah timur terdapat Pulau Papua yang ditakdirkan menjadi pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland di bumi belahan utara. Antara Kalimantan dan Papua terdapat gugusan pulau-pulau yaitu Sulawesi dan Maluku yang ditakdirkan Tuhan menjadi kepulauan rempah-rempah yang kelak sangat mewarnai sejarah modern Indonesia. Di sebelah selatan gugus pulau ini terdapat Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) yang tersebar bak untaian zamrut antara Jawa dan Australia. Kepulauan Indonesia sekilas seperti jembatan alam yang menghubungkan benua Asia dengan benua Australia. [caption id="attachment_187558" align="aligncenter" width="300" caption="Paparan Sunda dan Paparan Sahul (sumber:https://rovicky.wordpress.com/2006/09/14/indonesia-barat-timur-dalam-eks...) "][/caption] Bukalah peta Indonesia. Lihatlah Indonesia bagian barat. Laut yang memisahkan benua Asia, Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan adalah laut dangkal yang tidak lebih dalam dari 100 meter.Tampaknya Sumatera, Jawa dan Kalimantan dulunya menyatu dengan Benua Asia, karena itulah sekarang kita menamai wilayah ini sebagai Paparan Sunda. Setelah periode Glasial berakhir pada ribuan tahun lalu, beberapa gunung es yang besar mulai meleleh hingga permukaan laut naik mencapai 60 meter sehingga tanah-tanah rendah menjadi terendam air laut dan kemudian membentuk Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Jan Huygen van Linschoten dalam buku Itinerario juga mengisahkan cerita yang beredar luas di kalangan para penjelajah pada abad ke 16 bahwa Semenanjung Malaya dan Sumatera dulunya membentuk satu benua Asia yang luas. Sekarang lihatlah peta Indonesia bagian timur.

Di sebelah timur terdapat laut Arafura yang dangkal memisahkan Pulau Papua dengan Australia. Kelihatan sekali bahwa dulu Laut Arafura adalah sebuah daratan yang menghubungkan Papua dengan Australia. Kita menamainya sekarang sebagai Paparan Sahul. Karena permukaan laut yang naiklah maka Papua terpisah dengan Australia oleh Laut Arafura. Sekarang lihatlah peta Indonesia bagian tengah. Terlihat nyata di situ bahwa Paparan Sunda dan Paparan Sahul dipisahkan oleh laut dalam dengan kedalaman lebih dari 3.000 meter sampai 6.000 meter. Dan uniknya di laut dalam inilah muncul Pulau Sulawesi (yang kemudian tampak menyambung dengan Kepulauan Filipina), Pulau-pulau di Nusa Tenggara, Pulau Halmahera dan Kepulauan Maluku. Kentara sekali bahwa gugusan pulau di bagian tengah ini bagaikan pemisah antara Indonesia bagian barat dengan bagian timurnya. Karena itulah kondisi flora dan fauna di pulau-pulau Indonesia bagian barat, bagian tengah dengan pulau-pulau sebelah timur terdapat perbedaan yang cukup nyata. Hal ini kelak diteliti oleh Wallace di abad ke 18. Hubert Forestier dalam disertasinya mengutip penelitian Gibbons (J.R.H) dan Clunie (F.G.A.U) tentang "Sea level changes and Pacific prehistory" dalam Journal of Pacific History mengungkapkan hal yang sama dengan hal di atas bahkan lebih teliti lagi memperkirakan ada 4 tahapan kepulauan Nusantara mencapai bentuknya seperti sekarang ini.

Diperkirakan pada tahap pertama, tepatnya 16.000 - 20.000 tahun yang lalu, beda permukaan Paparan Sunda dan sahul dengan permukaan air laut masih sekitar 130 meter. Kemudian sekitar 14.000 tahun yang lalu permukaan laut naik sekitar 30 meter. Sekitar 10.000 tahun yang lalu, beda permukaan Paparan Sunda dan Sahul dengan permukaan air laut tinggal 50 meter sampai kemudian wilayah Nusantara mencapai bentuknya seperti sekarang sejak 4.000 tahun yang lalu. Karena itulah diperkirakan sejarah modern Nusantara dimulai sejak Kala Holosen yaitu 4.000 - 5.000 tahun yang lalu dimana pulau-pulau terbentuk seperti sekarang ini. Dalam bukunya yang sama, Bernard HM Vlekke secara menarik juga mengungkapkan bahwa kondisi pegunungan di Indonesia juga sangat menarik. Lihatlah kembali peta Indonesia. Dari Asia pegunungan itu turun ke selatan dalam beberapa barisan yang sejajar. Barisan pertama dari wilayah Semenanjung Indocina membentuk Semenanjung Malaya bagian selatan lalu ke selatan melalui Pulau Bangka dan Belitung (konon kedua pulau ini adalah sisa puncak pegunungan yang tidak terendam laut saat permukaan laut naik) lalu ke Kalimantan. [caption id="attachment_187565" align="aligncenter" width="300" caption="Indonesia Ring of Fire (sumber: https://en.wikibooks.org/wiki/The_Geology_of_Indonesia)"][/caption] Barisan kedua adalah turun dari Myanmar lalu ke bagian utara Semenanjung Malaya lalu membentuk Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera kemudian berbelok ke arah timur di mana di titik belok tersebut terdapat Gunung berapi Krakatau. Kemudian barisan ini terus terbentuk di pulau Jawa sampai ke timur mendekati Benua Australia. Tapi anehnya gugusan gunung berapi dari Asia itu tidak berbelok ke Australia tapi malahan berbelok ke utara melewati Sulawesi dan Halmahera.

Uniknya juga, kondisi flora dan fauna di Sulawesi dan Halmahera agak berbeda dibandingkan Asia maupun Australia sebagaimana dilansir oleh Wallacea kelak. Jadi inilah Leben Sraum Indonesia, wilayah yang akan menjadi habitat manusia Nusantara (kelak Indonesia). Berada di garis khatulistiwa, wilayah ini ditakdirkan mendapatkan curah hujan yang berlimpah terkadang mencapai 400 cm per tahun. Bahkan Bogor pernah berpredikat mengalami badai guntur terbanyak di dunia, yaitu 322 kali setahun (menurut Vlekke). Tidak ada perbedaan temperatur yang signifikan sepanjang tahun. Tidak ada beda temperatur yang signifikan antara musim hujan dengan musim kemarau. 75 tahun sejak tahun 1866, stasiun meteorologi Jakarta (yang tertua di daerah khatulistiwa) mencatat bahwa temperatur tidak pernah naik di atas 35 derajat Celcius dan tidak pernah lebih rendah dari 18 derajat Celcius. Hanya sekarang data tersebut tentu saja sudah cukup berubah karena pemanasan global temperatur sekarang bisa mencapai 38 derajat Celcius. Bila urusan temperatur tidak banyak ada perubahan sepanjang tahun, maka penderitaan di daerah ini adalah karena tingkat kelembaban yang sangat tinggi sehingga memaksa manusia Nusantara untuk berkeringat sepanjang hari kecuali kalau sedang musim angin. Ini kelak sangat mempengaruhi penampilan (fashion) dan gaya hidup (life style) manusia Nusantara. Temperatur yang monoton, curah hujan tinggi, lembab dan kondisi tanah yang subur karena letusan gunung berapi berakibat pada suburnya wilayah ini.

Dan inilah kelak yang mengundang hasrat para imigran (baca: nenek moyang kita) datang ke wilayah ini membangun pusat peradaban baru dan kemudian mewarnai sejarah modern Indonesia. Cocok sekali dengan lagu Nusantara karya Koes Plus "Bukan lautan, hanya kolam susu. Air dan tanah itu menghidupimu. Tiada angin tiada topan kau temui. Orang bilang tanah kita tanah surga, bahkan tongkat dan kayu pun akan menjadi tanaman". Bahkan ada sebuah buku baru yang mengangkat hipotesis bahwa Indonesia-lah yang dikatakan benua Antlantis yang hilang itu. Karena belum membaca buku ini, jadi saya belum bisa berkomentar banyak. Kembali ke pertanyaan awal sehubungan dengan pidato Bung Karno. Apakah Indonesia adalah negeri Utara Kuru tersebut ? Kalau demikian, apakah Indonesia memang ditakdirkan tidak akan menjadi negara besar karena kondisi alam yang sangat memanjakan tersebut, seperti yang diramalkan oleh kitab Ramayana ? Ataukah kita mampu menjadi negeri besar kalau melakukan perjuangan yang melebihi batas kewajaran, seperti petuah Bung Karno tersebut ? Tampaknya kita perlu merenungkan lebih dalam untuk menjawab pertanyaan nakal ini. Sumber literatur: 1.Niniek L. Karim, Soekarno di Wilayah Hyperreal, Kompas Edisi Khusus 100 tahun Bung Karno, hal 65, 1 Juni 2001. 2.Bernard H.M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2008. 3.Hubert Forestier, Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2007.(Jft/KOMPASIANA)

Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/sejarah-akan-terus-berulang-di-mana-kita-berpijak
via IFTTT