Saat Al-Quran Menggema di Yankee Stadium

Oleh: Imam Shamsi Ali

 

Walaupun telah 16 tahun berlalu peristiwa 9/11 masih terngiang di telinga,seolah nampak di depan mata. Mungkin inilah wujud kekuatan media membangun persepsi dunia. Sebuah peristiwa besar bisa menjadi kecil, dan sebuah peristiwa kecil bisa diframe menjadi besar.

Apapun realitanya, peristiwa 9/11 adalah peristiwa besar. Dikatakan besar karena mampu merubah wajah hubungan internasional hampir dalam semua dimensinya. Hubungan politik dan diplomasi, ekonomi, bahkan budaya dan agama sekalipun.

Ketika terjadi 9/11 itu saya diminta kota New York untuk mewakili saudara-saudara kita, komunitas Muslim dalam berbagai perhelatan dan acara kota/negara. Termasuk ketika Presiden GW Bush mengunjungi Ground Zero pertama kali. Saya dan seorang Imam Afro American, Ezekiel Pasha, bersama beberapa pemimpin agama kota New York menjadi pendamping presiden.

Tapi barangkali yang paling berkesan saat itu adalah ketika Amerika mengadakan doa bersama,  yang lebih dikenal dengan memorial service, di lapangan baseball Yankee. Acara yang diinisiasi oleh pemerintah New York itu dihadiri oleh petinggi-petinggi Amerika dan kota New York. Hadir sekitar 70 ribu orang dilapangan yang masyhur itu. Saya kembali diminta menjadi wakil komunitas Muslim untuk membacakan doa secara Islam.

Karena beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk tidak membaca doa. Tidak pula menyampaikan pidato singkat. Justeru saya memilih membacakan beberapa ayat Al-Quran. Saya memilih ayat-ayat dari tiga tempat di Al-Qur’an. Satu, ayat tetang universalitas Islam. Dua, ayat tentang keadilan. Tiga, ayat-ayat tentang pertolongqn Allah dan kemenangan.

Pilihan ayat-ayat itu tentu dengan pesannya sendiri-sendiri. Pilihan pertama untuk menyangkal stigma yang mengatakan bahwa Islam itu adalah agama orang-orang Arab. Pilihan kedua untuk menyampaikan pesan bahwa kekerasan-kekerasan dunia, termasuk serangan 9/11, disebabkan oleh ketidak adilan dunia kita. Dan pilihan ketiga untuk membangun optimisme dan harapan bahwa sekuat apapun rintangan, harapan itu selalu ada. Dan kemenangan itu adalah sesuatu yang dijanjikan kepastiannya.

Yang saya ingin sampaikan kemudian adalah cerita yang pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu. Tiga bulan setelah acara itu seorang wanita menelpon saya.

Wanita: is this Imam Shamsi Ali?
Saya: yes, it’s me
Wanita: my name is Cynthia, but now I am Tahira? Are you the one who read the Quran at Yankee?
Saya: yes I am!

Singkat cerita Cynthia atau Tahira ini bercerita bahwa ketika saya melantungkan ayat-ayat Al-Quran itu dia adalah seorang Kristen. Namun di saat mendengarkan ayat-ayat itu lewat CNN dia meneteskan airmata tanpa sadar atau paham kenapa. Dia kemudian keluar dari rumahnya dan mencari tahu apa yang dibacakan itu.

Seseorang di jalan memberitahu kepadanya bahwa itu adalah bukunya orang-orang Islam (Muslims book). Dia kemudian ke perpustakaan dan meminjam buku orang Islam. Ternyata yang dia pinjam adalah Al-Quran.

Singkat cerita lagi dia baca Al-Quran itu tiga bulan berturut-turut. Dan katanya lagi setiap membaca Al-Quran hatinya jadi tenang dan tidur nyenyak di malam hari. Dengan pengalaman itu beliau kemudian akhirnya memeluk agama Islam. Allahu Akbar wa  lillahil hamd!

Video bacaan itu dapat diakses di sini: https://youtu.be/_2LEFAAnWoI

Surabaya, 11 Nopember 2017

* Presiden Nusantara Foundation

Saudaraku, bantu wujudkan pesantren pertama di Amerika Serikat. Caranya klik berikut dan donasi semanis hati saja: https://kitabisa.com/pesantrenamerika

Category: 


from Tokoh https://www.konfrontasi.com/content/tokoh/saat-al-quran-menggema-di-yankee-stadium
via IFTTT