Maslahat Dakwah Bukan Segalanya

KIBLAT.NET – Ada seorang ustadz yang mempunyai jadwal rutin mengisi kajian di sebuah institusi ribawi. Ketika ditanya, mengapa dia “nekat” dan “berani” mengisi di situ, padahal kemungkinan besar isi amplopnya bersumber dari harta riba. Ustadz itu pun dengan tegas menjawab, “Maslahat dakwah akhi…”

Bagi ustadz tersebut, tersampainya pesan dakwah ke telinga para penghuni gedung-gedung menjulang lebih penting ketimbang meributkan keharaman isi amplopnya yang belum pasti haram.

Bagi ustadz tersebut, kesediaan mereka mendengarkan nasehat-nasehat keislaman yang mendamaikan lebih utama ketimbang mempermasalahkan pekerjaan mereka sebagai front man yang menjamin roda-roda sistem ribawi tetap berputar pada porosnya.

Namun mari kita lupakan ustadz tersebut, mari kita membahas mengenai maslahat dakwah yang dibicarakan olehnya.

Suatu ketika Rasulullah SAW berdakwah di hadapan para elit kaum Quraisy. Beliau tentu sangat mengharap akan sambutan positif dari mereka, keberpihakan mereka kepada Islam tentu akan menjadi kemajuan yang sangat besar.

Di tengah suasana seperti itu, datanglah Ibnu Ummi Maktum seorang buta yang kala itu telah memeluk Islam. Maksud kedatangannya adalah untuk bertanya mengenai ajaran Islam. Namun karena dianggap datang pada suasana yang kurang tepat, Rasulullah SAW pun menolaknya sambil bermuka masam.

Maka Allah SWT pun menegur perilaku Rasulullah SAW dengan menurunkan surat ‘Abasa. Klimaks teguran terdapat pada kata “Kalla” yang berarti sekali-kali janganlah berbuat demikian. “Kalla” merupakan kata yang mengandung unsur hardikan serta teguran yang amat keras.

Allah SWT ingin mengingatkan Rasulullah SAW agar tidak kehilangan orientasi dalam dakwahnya. Allah SWT ingin mengingatkan kembali bahwa tujuan diutusnya Rasulullah SAW adalah untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan keadilan.

Mengabaikan seseorang yang benar-benar membutuhkan ilmu demi orang-orang kafir yang belum tentu menerima apa yang disampaikan bukanlah perilaku seorang nabi. Memastikan seorang Ibnu Ummi Maktum memahami perkara agama adalah lebih penting ketimbang “mengemis” keberpihakan para elit Quraisy.

Dan Allah SWT juga ingin menyampaikan bahwa keberlangsungan manhaj (cara) dakwah yang benar lebih penting ketimbang eksistensi seribu orang namun produk dari manhaj dakwah yang salah.

Karena apa yang sering kita namai maslahat dakwah sejatinya hanyalah bagian dari persangkaan manusia saja. Maslahat dakwah seringkali hanya sebuah produk pemikiran serta perenungan dari sudut pandang kita yang serba terbatas, sementara kita mengetahui Allah SWT adalah Maha Melihat lagi Maha Mendengar.

Jika bermodal sudut pandang kita yang terbatas ini, akan sulit bagi kita untuk menerima kebenaran sepuluh ayat dalam surat An Nisa’ yang menyatakan bebasnya seorang Yahudi dari sebuah tuduhan, dan menetapkan dakwaan tersebut kepada Thu’mah bin Ubairiq, seorang penduduk Madinah yang memeluk Islam.

Akan sulit juga bagi kita menerima penolakan Rasulullah SAW terhadap Abu Jandal bin Suhail dan Abu Bashir di gerbang kota Madinah pasca perjanjian Hudaibiyah sebagai sebuah maslahat dakwah.

Karena itu penting bagi kaum muslimin khususnya para da’i untuk bersikap rendah hati, menyadari keterbatasan dirinya, dan mengakui sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Al Qur’an maupun Al Hadits pasti berujung pada kemaslahatan.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu, bapak, dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (An Nisa’ : 135)

Ayat tersebut berkaitan dengan perintah untuk adil ketika memberikan persaksian. Imam Jalaluddin As Suyuthi menjelaskan bahwa seseorang ketika memberikan kesaksian janganlah mengikuti hawa nafsunya, berpihak kepada si kaya untuk mencari muka ataupun berpihak kepada si miskin karena merasa kasihan.

Karena itu sekali lagi, penting bagi kaum muslimin khususnya mereka yang digelari sebagai ustadz maupun da’i untuk memastikan bahwa setiap ibadahnya sudah benar-benar sesuai dengan syariat Allah SWT serta bersih dari segala bentuk penyimpangan walau seberat biji dzarrah.

Baik itu ibadah-ibadah “kecil” semisal dzikir selepas shalat, shalat, puasa, infaq, dan sedekah, ataupun ibadah-ibadah “besar” semisal membangun masjid, sekolah, dan pesantren, maupun ibadah “utopis” semisal mendirikan khilafah.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

The post Maslahat Dakwah Bukan Segalanya appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: