Kejanggalan Kebakaran Mapolres Dharmasraya di Mata Pengamat Terorisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Kebakaran yang terjadi di Mapolres Dharmasraya menyisakan sejumlah kejanggalan. Menurut pengamat terorisme, peristiwa yang sempat disebut sebagai aksi teroris itu hanyalah tindak kriminal biasa.

Pengamat terorisme Musthafa Nahrawardaya mencatat sejumlah kejanggalan dalam peristiwa yang terjadi pada Ahad (12/11/2017) dini hari lalu itu. Indikasi kejanggalan itu terlihat dari informasi yang disampaikan pihak berwajib terus berubah-ubah.

“Yang pertama informasi yang kami terima hanyalah pembakaran, kemudian ditemukan ada anak panah dan busur, lalu ditemukan kertas pesan bertuliskan pesan jihad. Agak siang hari muncul lagi (informasi) ditemukan logo ISIS di lengan pelaku,” kata Mustofa kepada Kiblat.net melalui sambungan telepon, Selasa (14/11/2017).

“Kenapa tidak diumumkan pada saat pertama kali, bersamaan,” imbuhnya.

Dia mempertanyakan terkait penemuan logo ISIS yang dinyatakan polisi dan baru diumumkan belakangn. Menurutnya, keberadaan logo semestinya sudah bisa diketahui sejak awal. Tapi informasi tentang itu selalu berkembang, dan sehinagga menimbulkan tanda tanya besar.

Aksi pembakaran yang kemudian dinyatakan sebagai aksi teroris juga dinilai janggal oleh Mustofa. Jika memang pelakunya benar-benar jaringan teroris, mestinya pelaku memiliki jaringan dan punya niat untuk membuat suasana teror yang berakibat korban secara masif.

“Yang tentu tidak dengan cara membakar, kalau membakar itu kan dapat diketahui dari api kecil,” ujarnya.

Mustofa pun tak sepakat pembakaran Mapolres Dharmasraya itu merupakan aksi teroris. “Kalo teroris saya kira terlalu jauh, karena sifat dari terorisme itu adalah dia menginginkan korban yang massif, yang massal, banyak membuat orang mati, mengagetkan,” terangnya.

Kejanggalan lain yang dicatatnya adalah tak adanya korelasi antaraa cara penyerangan dengan barang bukti yang diungkap polisi. Peristiwa pembakaran dengan barang bukti busur dan anak panah dinilai Mustofa sebagai sesuatu yang tidak nyambung.

Seperti diketahui, Kapolri sudah menyatakan bahwa penyerangan tersebut adalah tindak terorisme. Tetapi Mustofa menilai kesimpulan itu terlalu awal, meskipun yang diserang adalah kantor polisi.

“Karena kantor polisi itu tempat orang-orang pekerja yang mereka itu adalah memberantas kejahatan dan musuh polisi itu banyak sekali, tidak hanya teroris. Kalau perbuatan pelaku ini saya yakin bukan perbuatan teroris, ini perbuatan kriminal biasa,” simpulnya.

Mustofa lantas mengkritisi pendapat yang mengatakan kasus tersebut merupakan modus baru terorisme. Dia menilai penyebutan dengan kata “modus baru” merupakan hal yang terlalu dipaksakan. Menurutnya, jika semua aksi kemudian disebut sebagai modus baru terorisme, maka semuanya nanti bisa masuk ke terorisme. “Ciri-ciri terorisme adalah selalu adanya jaringan, dan bermotif ideologi,” ungkapnya.

Pernyataan Kapolda Sumatera Barat, Irjen Polisi Fakhrizal menyebut peristiwa di Mapolres Dharmasraya sebagai serangan teroris dengan indikasi ada kata-kata thaghut dan Allahu Akbar turut disoroti Mustofa. Kalimat takbir dan kata-kata Thagut sebagai indikator terorisme dinilainya tidak lazim.

“Siapa yang bisa mempertanggungjawabkan bahwa itu adalah tulisan pelaku, kan tidak dijelaskan apakah nanti akan dicek oleh tim investigasi, dibandingkan dengan tulisan tangan pelaku,” pungkas Mustafa.

Reporter: Qoid
Editor: Imam S.

The post Kejanggalan Kebakaran Mapolres Dharmasraya di Mata Pengamat Terorisme appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

close