Islam adalah Totalitas: Jangan Mau Islammu Diamputasi Rezim?

Oleh: Andi Firmansyah

Islam beribadah itu akan dibiarkan, Islam berekonomi akan diawasi, Islam berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya (M. Natsir)

Islam seperti apa yang dibiarkan oleh rezim ini ? Islam yang sudah diamputasi, Islam yang sudah dibonsai menjadi sekedar ritual. Islam yang diamputasi menjadi sekedar shalat dan haji akan dibiarkan.

“Islam yang mana yang dilarang ? Islam yang ini nggak dilarang kok”. | Islam yang telah diamputasi dan disesuaikan selera penguasa maka akan dibiarkan.

Islam yang diamputasi sekedar ber-rakaat2 di Masjid akan dibiarkan. Islam tidak seperti agama lain, ia adalah sebuah sistem yang universal (komprehensif, totalitas, dan integral), mencakup berbagai aspek kehidupan. Tak sekedar mengatur ritual rakaat2 panjang di Masjid.

Islam adalah aqidah, ibadah, akhlaq, da’wah, jihad dll. Aqidah adalah pondasi, buahnya adalah akhlaq dan ibadah, semua ini disebarkan via da’wah, dan gangguan terhadap da’wah dilawan dengna jihad.

Jika Islam diibaratkan manusia; manusia yang dibiarkan hidup adalah manusia dengan tangan dan kaki diamputasi seluruhnya, dengan leher pun dilumpuhkan. Jika Islam yang dibiarkan adalah sekedar shalat, maka Islam menjadi seperti tubuh manusia yang diamputasi menyisakan kepalanya dan badan saja. Islam yang dibiarkan hidup tapi tak berdaya.

Padahal Islam berbeda dengan yang lainnya. Islam adalah ibadah, politik, ekonomi, hukum, sains, pendidikan, jihad dll. Islam tidak seperti Kristen yang dibatasi oleh segala sesuatu yang ada di dalam tembok Gereja, kemudian di luar tembok Gereja urusan liberalisme, humanisme dst.

Islam adalah segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar tembok2 Masjid. Shalat bagian dari Islam, tidur bagian dari Islam, masuk kamar mandi baca doa bagian dari Islam, politik, hukum, ekonomi, sains, da’wah, jihad dll juga bagian dari Islam. Sehingga perlawanan terhadap penjajahan dari kerajaan Katolik Portugis dan kerajaan Protestan Belanda adalah jihad, dan itu bagian dari Islam.

Dan inilah penyakit utama yang paling berbahaya menyerang umat Islam, “pengamputasian Islam” atau sekularisme.

Jika Islam diibaratkan obat yang mengandung 10 zat, maka sekarang kandungan obat ini dipretelin satu per satu tersisa 2 zat saja. Maka obat tidak bekerja.

Islam sejatinya adalah satu2nya obat bagi carut marutnya negeri ini dan seluruh bumi, tapi diamputasi, dijauhkan, sehingga banyak yang susah sembuh.

Sehingga setiap ada yang membawa Islam yang utuh, maka ia akan dicap sebagai radikal. “Akan dicabut seakar2nya”.

Dulu saya berpikir bahwa Islam adalah membaca Yasin setiap malam Jum’at dan itu saya kira adalah puncaknya keshalihan. Karena setiap malam Jum’at membaca surat Yasin, maka saya hafal surat Yasin dan dulu saya menganggap itu adalah puncak keshalihan seseorang. Saya dulu berpikir seluruh semesta definisi Islam sudah masuk dalam ritual membaca Yasin setiap malam Jum’at.

Sejatinya, Musuh2 Islam berkehendak bahwa Muslim hanya boleh ber-Islam dengan Islam yang sudah diamputasi ini. Mereka berkehendak Muslim menjalankan Islam yang teramputasi ini maka tercipta Muslim lemah dengan pribadi2 yang teramputasi. Sehingga tercipta dan lahir produk2 “Muslim tapi membenci hukum Islam”, “Muslim tapi benci da’wah”, “muslim tapi benci jihad” dst. Muslim yang dengan syahdunya bilang “semua dikembalikan pada Allah”, tapi kenyataannya politik, hukum, ekonomi tidak dikembalikan pada Allah. Itulah produk sekularisme. Muncul juga Muslimah yang shalatnya rajin tapi membenci jilbab, karena menganggap jilbab bukan bagian dari Islam. Muncul juga Muslim yang puasanya rajin, tapi benci banget sama syariah Islam. Sehingga lahir lah generasi Muslim yang lemah, generasi Muslim yang hanya mengisi ruang2 Masjid, tapi kosong dalam ruang politik dan ekonomi.

Mereka melemahkan Islam dengan melemahkan generasi Muslimnya. Generasi Muslim yang teramputasi Islamnya.

Kalau ada yang nanya “Islam yang mana ?”, Islam terkesan bermacam2 karena ada variasi amputasi.

Ada Muslim yang menjalankan ritual saja, kemudian hal seperti ini dianggap representasi untuk seluruh definisi Islam. Ada kelompok Muslim yang hanya mau mengajak kebaikan, tapi menolak untuk mencegah kemungkaran. Kemudian ini dianggap represntasi definisi Islam. Ada juga yang menganggap Islam adalah mendirikan sekolah dan rumah sakit, kemudian ini dianggap sudah memenuhi seluruh definisi Islam. Ada juga kelompok Islam yang fokus pada politik saja, ekonomi saja, tauhid saja, dan masing2 dianggap memenuhi seluruh definisi Islam.

Jadi Islam itu yang mana ? Yang shalat dan Yasin saja ? Yang politik saja ? Yang ekonomi saja ? Yang tauhid saja ? Itu bagian Islam, tapi bukan seluruh Islam.

Jadi Islam yang mana ? Islam yang shalat tanpa berpolitik ? Islam yang puasa tanpa berekonomi ? Yang haji tanpa da’wah ?

Seperti kalau ngomong rawon itu yang mana ? Yang pakai daging tanpa toge ? Atau yang pakai toge tanpa daging ? Atau toge daging tapi tanpa kluwek ?

“Mas, tukang rawon yang ini gak dimusuhi dan gak dilarang kok”. | Coba check deh, rawonnya gak pakai daging.

Virus “mengamputasi Islam” ini yang disebarkan ke seluruh dunia Islam dengan nama “sekularisme”, ini yang sekarang diasong oleh rezim pemerintahan kita.

Kalau kita kumpul2 untuk sholawat atau baca Yasin bareng pas malam Jum’at, ini akan dibiarkan. Tapi kalau kita ngumpul2 membahas menegakkan syariah Islam di negeri ini, maka akan dilarang dan dilabeli radikal.

Kalau kita bikin acara penyambutan haji, biasanya akan dibiarkan. Tapi kalau kita kumpul2 untuk mencari donasi membantu pejuang Palestina, maka akan dicap teroris.

Jika kita shalat maka dibiarkan, tapi jika kita berpolitik sejurus kemudian datang label “politisasi agama” atau “partai sapi”.

Islam dipaksa untuk dibonsai kemudian ditaruh di pojok sempit ruangan. Islam menjadi sekedar membaca Yasin setiap malam Jum’at.

Saudara Muslimku, jangan mau dibodohi, jangan mau Islammu diamputasi, sehingga shalat tapi anti hukum Islam, anti politik Islam. Ini berbahaya.[]

Tags: 
Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/islam-adalah-totalitas-jangan-mau-islammu-diamputasi-rezim
via IFTTT