Ini Pahlawan Guru 2017, Nurmaya Sidabutar, ‘Oemar Bakrie’ Perempuan

KO0NFRONTASI -  SEPEDA mini tua warna pink yang sudah agak kusam, berdiri ditunjang standar tegak di rumah Nurmaya Sidabutar di bilangan Kebon Nanas, Kota Tangerang. “Dengan sepeda inilah setiap hari saya menggowes ke sekolah,” ucap ibu empat anak ini membuka kisah.

Saat ini, pengajar di kelas tiga di SDN 04 Cikokol Kota Tangerang ini, mengaku adalah tahun-tahun terakhir pengabdiannya di dunia pendidikan. Suka-duka wanita 58 tahun ini sebagai pengajar telah dilaluinya bersama sepeda tuanya. Kesenangannya menggowes sepeda diakuinya sudah kebiasaan sejak tinggal di kampungnya, di Samosir, Sumatera Utara.

“Di kampung kan bertani, saya biasa mengangkut hasil tani dengan sepeda,” kenangnya. Kesukaannya bersepeda ria, dilanjutkannya di Tangerang, setelah dia menjadi seorang guru. Dia mengaku tidak peduli dengan pandangan orang. Walaupun dia sempat disebut sebagai Oemar Bakrie-nya perempuan.

Nurmaya ke Tangerang, selepas pendidikan sekolah guru atau SPG, sekitar tahun 1980. Awalnya dia bekerja di perusahaan textile yang cukup besar di Tangerang, kala itu. Sekitar setahunan kemudian, kesempatan menjadi guru PNS terbuka di Tangerang.

JADI GURU

Ia pun melamar dan diterima, dan pertama kali mengajar di SDN di Gerendeng, Tangerang. “Saat itu gaji saya di pabrik tiga kali lebih besar dibanding sebagai guru,” kenangnya, tapi itu tak mengendurkan semangatnya mengajar.

Nurmaya pun bercerita, saat menerima gaji rapelnya sebagai PNS, ternyata begitu besar. “Setelah berapa lama saya dipanggil karena ternyata terlalu banyak, akhirnya saya harus mengganti dengan potongan gaji,” kisahnya sambil tertawa.

Sekarang saya sudah siap-siap dengan usaha baru, saya mau berbisnis setelah pensiun,” ucap ibu yang akrab dipanggil ‘mama tua’ oleh warga di sekitar rumahnya. Nurmaya mengaku, ingin sesuatu yang baru usai mengajar lebih dari 35 tahun.

“Kebanggaan saya sebagai guru adalah ketika siswa kita bisa diterima di sekolah favorit tanpa menyogok,” katanya.

Oleh karena itu dia sangat berusaha agar siswanya selalu mampu menyerap pengetahuan yang diberikannya. Sepanjang karier mengajarnya, hampir semua sekolah dasar di Kota Tangerang, pernah disinggahinya sebagai guru.

Nurmaya pernah memperoleh penghargaan saat memenangkan lomba peraga mata pelajaran di kampus Universitas Atmajaya, beberapa tahun silam. Sebagai seorang guru kesenian, dia juga piawai memainkan beberapa alat musik.

Bercerita tentang sepeda mini tuanya, diakui dia menunggang sepeda bukan karena tak mampu membeli kendaraan bermotor. Saat ayah dari anak-anaknya masih ada, bahkan di keluarganya memiliki sejumlah mobil. “Tapi saya tetap besepeda ke sekolah,” katanya.

Saat ini pun di rumahnya ada kendaraan sepeda motor. Akan tetapi Nurmaya selalu senang menggowes sepeda. “Pertama, kita tidak menyumbang polusi, kedua kata orang bersepeda menyehatkan jantung, dan berat tubuh kita terkontrol,” tuturnya.

Mungkin berkat menggowes itu membuat kesehatan Mama Tua tetap terjaga hingga kini. Tetap sehat ya Mama Tua. Ilmu yang telah Anda tularkan menjadi jariah yang amat berharga. (Jft/PKT)

Category: 


from Tokoh https://www.konfrontasi.com/content/tokoh/ini-pahlawan-guru-2017-nurmaya-sidabutar-%E2%80%98oemar-bakrie%E2%80%99-perempuan
via IFTTT

close