Gus Nur Sampaikan Syariat, Tharikat, Hakekat

KARANGANYAR (Panjimas.com) – Ribuan Jamaah menghadiri Kajian Gus Nur di Masjid At Taubah Sugih Waras, Sonorejo, Gondangrejo, Karanganyar yang digelar takmir dan remaja Masjid demi menggalang dana renovasi Masjid tersebut, Kamis (9/11/2017).

Junaidi Purwanto, Camat Gondangrejo dalam sambutannya mengatakan bahwa menuntut ilmu sudah harus menjadi kebutuhan bagi setiap orang yang beriman.

“Menuntut ilmu itu bukan sekedar kewajiban tetapi sudah menjadi kebutuhan, itu benar. Tiga perkara yang bakal di tinggal mati harta, keluarga dan jabatan maka hanya amal yang bermanfaat,” ucapnya.

Lebih lanjut, Gus Nur pria kelahiran 1974 mengawali kajiannya dengan mengajak Jamaah yang memiliki masalah segera mengungkapkan dan mencari solusi untuk keluar dari masalah tersebut.

“Ternyata kuncinya sukses, itu dimulai dari sekarang. Coba sekarang siapa yang disini berada di titik nadir, ngenes, hari ini maka jika sabar dan ikhlas terus, itu awal akan sukses dan dimulai hari ini,” ujar penulis buku Merubah Nasib Dalam 11 Hari itu.

Malam itu Gus Nur lebih banyak mengupas tentang ilmu syareat, hakekat dan tharikat. Pendakwah dalam kubur itu mengawali dengan perkenalan perjalanan dakwahnya.

“Saya sekarang sudah tinggal di Palu, punya Pondok gratis, tis, tis. Padahal wajib sebulan 11 juta coba Ustadznya 7 yang tak gaji 6 gajinya 1 juta, terus tukang sapu. Intinya 11 juta sebulan,” kata Pimpinan Ponpes Karomah 13 Palu, Sulawesi.

Gus Nur mengatakan bahwa syariat bukan harga mati tetapi harus diupgrade jadi tharikat (dijalani). Dan tharikat saja tidak cukup harus ada yang lebih tinggi hakekat.

“Syariat itu apa? kalau diringkas itu Al Quran dan Hadits. Berarti hidup kita harus pegang Quran dan Hadits, negara kalau tidak pegang syariat bisa hancur,” jelasnya.

Dia melanjutkan untuk menjadi orang yang beriman tidak cukup memegang syariat, namun harus diamalkan menjadi tarekat.

“Hadits mulut orang berpuasa baunya seperti minyak kesturi dihadapan Allah. Itu syariat, dipraktekkan coba cium mulutnya orang berpuasa ya nggak ada bau kesturi. Jangan menelan hadits mentah-mentah, naik derajat menjadi tarekat,” ucapnya sambil tersenyum.

Kemudian, tiga ilmu disampaikan Gus Nur yang dicuplik dari Surat Al Fatir ayat 29, barang siapa orang yg membaca Al Quran dan sedekah baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi maka dia sedang bersama dengan Ku dan tidak akan pernah merugi.

“Tambah tua tambah rugi ini ilmunya yaitu baca Quran, dirumah harus ada baca Quran. Hidup itu seperti kertas membangun api habis terbakar. Cari di rumah itu yang bisa baca Quran, nggak ada suami ya istri, gak ada anak ya cari pembantu yang bisa baca Quran, begitu,” paparnya.

“Sholat, nggak usah dibahas udah jelas. Yang ketiga sedekah, nah intinya begini matematikanya Allah jika bersedekah maka dilipatkan 700 persen. Masalahnya sedekah kalian itu sia-sia, maka sedekahlah radikal, yakni kalau dirumah beras habis uangnya tinggal 52 ribu, sedekahlah semuanya,” tandas dia.

Usai sesi tanya jawab, Gus Nur mengajak Jamaah memaksimalkan sedekah yang dia sebut sebagai sedekah Radikal untuk menggalang dana renovasi Masjid At Taubah. [SY]

 


From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT