Gairah dan Marwah PDIP Dipastikan Kembali Redup di Pilkada Jabar dan Jatim

KONFRONTASI -  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah kalah dalam laga pilkada di dua daerah strategis di Pulau Jawa, yakni DKI Jakarta dan Banten. Jika tak Berbenah dan evaluasi, disebut-sebut kekalahan PDIP akan kembali terulang di kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim). Kedua provinsi ini merupakan lumbung suara yang perlu diperhitungkan dalam Pemilu 2019.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai ajang Pilgub Jatim 2018 akan menjadi pertaruhan sejumlah parpol untuk merebut suara. Ia memprediksi parpol seperti PDIP akan total untuk merebut kursi Jatim 1.

"Jatim ini kota terbesar setelah Jakarta. Jatim juga merupakan lumbung suara yang perlu diperhitungkan dalam Pemilu 2019," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Siti menambahkan wilayah Jawa Timur kental dengan suara Nahdliyin sehingga beberapa partai akan merebut potensi ini. Ia memandang, PKB yang punya kedekatan dengan Nahdliyin diunggulkan jika mengusung kadernya maju ke Pilgub Jatim.

Menurutnya, kekalahan di Jakarta, Banten, dan Bangka Belitung membuat PDIP akan jeli menyiapkan strategi serta kader yang diusung. Pengalaman di DKI ini, kata dia, akan menjadi evaluasi partai berlambang moncong putih tersebut. "Kejelian dalam mengusung calon akan menjadi penentu penting dalam memenangkan pilkada," tuturnya.

Diprediksi Keok

‎Direktur Pusat Kajian Survei Opini Publik (PKSOP), Ziyad Falahi‎, mengungkapkan, PDIP tentu belajar dari pengalaman saat mengusung Ahok di DKI dan Rano Karno di Banten yang tingkat elektabilitasnya yang sangat tinggi namun berujung pada kekalahan. Menurutnya, semestinya PDIP dapat memenangkan kedua laga pilkada tersebut. Namun, kenyataannya PDIP tumbang dan gagal berkuasa di dua provinsi tersebut.

Ia menilai, ada perbedaan antara Pilkada Jatim dengan Pilkada DKI Jakarta yang mengusung kader PDIP yakni Djarot Saiful Hidayat sebagai Cawagub berpasangan dengan Ahok sebagai Cagub. Juga, Pilkada Banten yang mengusung Rano Karno yang juga kader PDIP.

Sementara di Pilkada Jatim, PDIP justru tak mengusung kadernya sendiri. Koalisi PDIP-PKB gagal melahirkan koalisi nasionalis-santri. Pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas adalah pasangan santri-santri.

Padahal, lanjut dia, Jatim adalah basis tradisional PDIP yang sangat kuat, dengan meraih kursi tertinggi 19 kursi di DPRD Provinsi hasil Pileg 2014, yang dapat mengusung kadernya sendiri berpasangan dengan salah satu calon yang beredar.

"Sebagai catatan, menurut hasil survei independepen yang kami buat terkait sikap kader dan massa akar rumput PDIP di Jawa Timur, menampilkan data kekecewaan, penolakan dan pembelahan secara diam-diam," tutur Ziyad di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Karena itu, marwah PDIP sebagai partai kader berbasis massa, akan kembali dipertaruhkan jika tak kembali mengusung kadernya sendiri maju dalam laga Pilkada di Jabar. “Hal ini justru mengecewakan kader dan basis akar rumput dari PDIP seperti yang terjadi di Jatim,” ujar Ziyad.

Pengamat politik yang menyelesaikan magister pascasarjana di UI ini mengatakan, untuk menjaga marwah sebagai partai kader sekaligus untuk merawat basis konstituen dari PDIP, sangat menarik jika pimpinan PDIP mempertimbangkan mengajukan kadernya sendiri maju di pilkada.

Hal berbeda dikatakan  pengamat politik Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memprediksi perjuangan PDIP untuk Pilgub Jawa Timur akan berat. Pasalnya, akan bersaing dengan PKB yang punya kedekatan di kalangan Nahdliyin. 

"NU yang dominan di Jawa Timur. Ini tak akan mudah dan jadi perjuangan berat. Tapi, PDIP akan total, mati-matian rebut Jawa Timur," lanjut Arya.

Harus Berbenah

Kekalahan PDIP di DKI dan Banten harus menjadi pelajaran bagi PDIP. "Ini harus dijadikan pelajaran berharga bagi PDIP," ujar Musni Umar, Rektor Universitas Ibnu Chaldun, yang juga pengamat politik sosial, di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Lebih jauh, Musni menyarankan PDIP segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk menghadapi Pilkada selanjutnya. Seperti Pilkada Jawa Barat dan Jawa Timur pada 2018 mendatang. Karena menurutnya, kalau tidak ada evaluasi dikhawatirkan akan terjadi tsunami politik yang dapat menenggelamkan PDIP.

"Inti dari evaluasi yang dilakukan, PDIP harus mendengarkan suara kader-kader dan masyarakat pendukung mereka (PDIP)," jelasnya.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto membenarkan bahwa ajang Pilkada Serentak 2018 merupakan momentum memenangi Pemilu Serentak 2019. Diakuinya ada tiga daerah yang diandalkan PDIP dalam Pilkada serentak 2018 yaitu yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

"PDIP di Jawa Barat kan bisa kami usung sendiri. Kami punya 20 kursi sehingga kami bisa mencalonkan sendiri karena rakyat memberikan kepercayaan kepada kami. Untuk di Jawa Timur, kami juga sudah mendapatkan 19 kursi, kurang 1 kursi," lanjut Hasto di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/11/2017).  (KONF/TERBIT)

Category: 


from Tokoh https://www.konfrontasi.com/content/tokoh/gairah-dan-marwah-pdip-dipastikan-kembali-redup-di-pilkada-jabar-dan-jatim
via IFTTT

close