Di Balik Alexis (Bag 2): Menjelajahi Lantai Maksiat

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya

KIBLAT.NET, Jakarta- Pintu lift terbuka, penampakan pertama di lantai 7 Hotel dan Griya Pijat Alexis adalah sebuah sofa yang cukup untuk duduk 3 orang. Sedangkan di kiri lift ada sebuah gerai cashier yang tidak dijaga siapapun. Bahkan ada 3 kursi di susun terbalik di bawah tulisan cashier yang tertempel di dinding.

Di sisi kanannya, ada tangga menuju lantai atas yang masih satu ruangan. Terlihat pula billboard berisikan iklan minuman keras bermerek Corona Extra. Disampingnya ada sebuah meja kecil layaknya resepsionis.

Melewati meja mirip resepsionis itu, Kiblat.net mulai masuk ke sebuah lorong dengan suasana lampu temaram. Yang tak kalah menariknya, sebelum memasuki lorong itu, pengunjung terlebih dahulu dengan akah melihat pengumuman peringatan bahwa dilarang menggunakan kamera di seluruh area lantai tujuh.

Lantai 7 Alexis, dok/Kiblat.net

 

Makin ke dalam, ada ruangan dengan kaca besar yang di kedua sisinya masing-masing empat wastafel, serta ada puluhan looker. Di sana sudah tersusun rapi kimono dan celana pendek dengan berbagai ukuran. Biasanya digunakan oleh pelanggan lantai tujuh yang akan pijat maupun SPA. Setelah lorong locker, belok kanan mulai terlihat cahaya matahari dari roof top.

Kamar Mandi yang Benar-benar Umum

Ketika Kiblat.net mulai mendekati tangga, di kanan lorong rupanya ada kamar mandi umum -tidak ada tulisan untuk laki-laki maupun perempuan- yang terbuka. Di dalamnya ada 6 toliet dengan kaca tebal sebagai pintunya dan ada 2 urinoir tanpa sekat.

Menaiki tangga, dengan pencahayaan dari sinar matahari yang menembus kaca-kaca di rooftop Hotel Alexis, terpampang bilik pijat dengan hordeng berwarna hitam dan emas. Ada kasur dan bantal-bantal kecil di setiap biliknya. Tak kurang ada 10 bilik menghadap tangga.

Diseberang bilik pijat, tepatnya di kanan tangga, terdapat 7 kursi malas ukuran dewasa menghadap sebuah aliran air dari pancuran kecil yang terbuat dari batu alam.

Setelah menaiki tangga sepenuhnya, beberapa pohon kecil yang cukup rindang, menaungi 2 kolam renang berukuran kecil dan 1 kolam berukuran sedang sedalam setengah meter. Semuanya difungsikan untuk berendamnya para pelanggan.

Lantai 7 Alexis, dok/Kiblat.net

Di dekat kolam renang berukuran sedang itu terdapat sebuah tangga, yang ketika kita naik ke atasnya, bisa melihat pemandangan Jakarta dari balik kaca. Tak jauh dari kolam pula, ada dua ruangan tembus pandang yang bertuliskan ruangan steam dan sauna.

Lina dan Fadjri mulai menjabarkan prihal lantai tujuh kepada wartawan. Di lantai tujuh, kata meraka, terdapat 26 kamar yang difungsikan untuk pijat dan SPA. Kami pun diajak memasuki salah-satu kamar bernomer 701.

Suasana di dalamnya didesain agak gelap alias remang-remang. Menurut Lina dan Fadjri, masing masing kamar memiliki ranjang queen size, sebuah tv lcd 42 inch dan hampir setengahnya dilengkapi fasilitas bathub. Di dekat kasur terdapat gantungan baju.

Lantai tujuh Alexis, disebut-sebut sebagai tempat dijalankannya bisnis esek-esek di ibukota Jakarta. Isu ini mencuat setelah mantan Gubernur Ahok menyebutnya sebagai surga dunia. Isu itu semakit kuat setelah adanya laporan kepada Gubernur Anies Baswedan yang berujung pada distopnya perpanjangan izin operasi Alexis.

Minimnya dokumentasi aktivitas di lantai atas disinyalir atas larangan menggunakan kamera. Hal itu menaruh kecurigaan bagi wartawan saat itu. Fadjri pun berdalih bahwa lantai tujuh ini merupakan lantai ‘private’. Menurutnya, kamera dapat merusak suasa privasi di lantai ini.

Untuk tarif, tak ada kejelasan. Hingga akhir pembicaraan, Lina tak mengungkap itu kepada wartawan. Kami lantas berusaha menanyakan kepada karyawan hotel, namun mereka lebih memilih tutup mulut. Akan tetapi, Alexis memang menyediakan ‘pelayan’ hotel dari luar negeri.

Jadwal operasi turut dipertanyakan oleh seorang wartawan. Namun, lagi-lagi Lina tak bisa menjawab. “Jam operasionalnya buka dari jam berapa sampai jam berapa gitu, saya juga gak tau, nanti coba saya tanyakan.”

Hampir satu jam mengelilingi setiap sudut lantai 7, Lina dan Fadjri seolah-olah mendesak wartawan untuk menyudahi safari SPA room ini. Dalihnya, di lantai dua nanti akan ada konferensi pers lanjutan.

Sama halnya ketika naik ke lantai 7, untuk turun ke lantai 2 pun harus menggunakan lift yang ramai oleh wartawan. Padahal, di salah-satu sudut di antara kamar SPA, Kiblat.net menemukan sebuah tangga emergency yang memang sengaja terkunci rapat, sehingga tidak memungkinkan kami menggunakannya. Sampai di lantai 2 lagi, baru disadari ada sebuah lemari pendingin yang berisi minuman beralkohol yang di setiap tutupnya ada tiga digit angka.

 

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Syafi’i Iskandar

The post Di Balik Alexis (Bag 2): Menjelajahi Lantai Maksiat appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: