Beginilah Korelasi antara Konflik Kekerasan dengan Korupsi

KIBLAT.NET – Sebelum kita melihat lebih dalam bagaimana korupsi bisa menyebabkan konflik dan ketidakstabilan, pertama kali kita akan melihat bagaimana institusi lemah dan konflik bisa memicu korupsi. Hampir semua negara yang masuk dalam kategori sangat korup ternyata juga memiliki institusi politik, administrasi, dan ekonomi yang lemah. Dampaknya, tidak banyak batasan formal terhadap perilaku korup.

Institusi-institusi yang penting untuk menangkal atau memberi hukuman pada perbuatan korupsi pun seringkali tidak punya kapasitas untuk melakukannya.Institusi negara yang lemah seringkali adalah konsekuensi dari konflik sipil dan kerusakan fisik, terjadinya banyak pengungsian, dan menguatnya struktur informal.

Konflik kekerasan menciptakan sebuah lingkungan di mana pemerasan tersebar luas, partisipasi dalam perbuatan korup dianggap sebagai pilihan rasional setiap individu. Mereka yang menyuap melakukannya demi mendapatkan akses makanan, kesehatan; sedang mereka yang menerima suap melakukannya sebagai salah satu dari sedikit peluang mendapatkan penghasilan. Jika tingkat kepercayaan antara kelompok cenderung rendah, sebagaimana yang umum terjadi di lingkungan yang mengalami konflik, melindungi kepentingan kelompok etnis, suku, atau anggota keluarga melalui penyuapan adalah respon yang rasional untuk menghadapi kesulitan yang sedang berlangsung.

Hubungan antara korupsi dan terorisme telah lama dikenal. Meskipun bukan merupakan satu-satunya kontributor terjadinya destabilisasi sebuah negara, korupsi bisa memberikan dampak yang sangat besar. Ia bisa menguras sumber daya publik dan meruntuhkan kepercayaan publik pada pemerintahnya. Mulai dari korupsi kecil-kecilan dari pejabat kelas rendah hingga suap yang melibatkan pemimpin politik, korupsi akan melemahkan sebuah negara.

Korupsi berpotensi meningkatkan risiko konflik, dan konflik juga berpotensi meningkatkan risiko korupsi. Keduanya memiliki hubungan simbiosis yang bisa mengancam perdamaian dan stabilitas di negara yang sudah dikepung oleh kekerasan.

Banyak penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara korupsi di satu sisi, dengan ketidakstabilan politik dan konflik kekerasan di sisi lain. Baca juga: Laporan Syamina Korupsi Memicu Terorisme

Pada tahun 2011, dalam laporannya yang berjudul World Development Report on Conflict, Security, and Development, Bank Dunia menyatakan bahwa “Korupsi memberikan dampak buruk dua kali lipat terhadap risiko kekerasan, dengan memicu keluhan dan menurunkan keefektifan lembaga nasional dan norma sosial. Laporan dalam OECD Development Cooperation Directorate tentang korupsi dan pembangunan negara juga menyatakan bahwa “Korupsi merupakan inti dari kerapuhan. Beberapa bentuk korupsi bisa secara fundamental mendelegitimasi negara.”

Dalam berbagai survei yang dilakukan di negara yang mengalami konflik, ditemukan bahwa korupsi adalah salah satu perhatian utama dari masyarakat. Dalam survei yang dilakukan oleh Integrity Watch Afghanistan misalnya, separuh responden menganggap korupsi sebagai salah satu penyebab meluasnya ekspansi Taliban. Di Afghanistan maupun di Kosovo, korupsi diidentifikasi oleh para responden sebagai tantangan utama negara mereka.

Korupsi menjadi pusat narasi dari Arab Spring, dan permintaan untuk mengatasi masalah tersebut menjadi salah satu pusat dari aspirasi para demonstran.

Data di tabel berikut juga menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara korupsi dengan konflik kekerasan: negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi (yang ditunjukkan dengan rendahnya skor dalam Transparency International Corruption Perception Index atau skor Control of Corruption Bank Dunia) lebih memungkinkan untuk mengalami konflik kekerasan. Sebelas dari 20 negara paling korup di dunia mengalami konflik kekerasan, yang seringkali berlangsung bertahun-tahun.

Menurut data dari Deklarasi Jenewa tentang Kekerasan Bersenjata dan Pembangunan, 11 dari 20 negara yang ada di dalam tabel mengalami angka kematian melalui kekerasan yang sangat tinggi, dengan nilai lebih dari 10 per 100.000. Dua negara (Irak, Venezuela) memiliki angka kematian lebih dari 40 per 1000.000, baik kematian akibat konflik, terorisme, kriminal, maupun kekerasan negara terhadap masyarakat sipil.

Tabel Negara-negara terkorup dan pengalaman mereka terhadap konflik dan operasi perdamaian

Sumber: Transparecy International

Meski kita bisa melihat adanya korelasi yang kuat antara korupsi dan konflik, kita belum bisa menyimpulkan siapa yang menyebabkan siapa, ataukah keduanya adalah fenomena dari penyebab yang sama, seperti institusi negara yang lemah. Namun demikian, keempat fenomena—yaitu korupsi, konflik, ketidakamanan, dan institusi negara yang lemah—adalah saling tergantung sama lain.

 

Penulis: Tim Syamina
Editor: Fajar Shadiq

 

 

The post Beginilah Korelasi antara Konflik Kekerasan dengan Korupsi appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: