Alkisah di Latuharhari: Mengharu-Biru-kan Perasaan !

Oleh: Natalius Pigai

 

Hari ini minggu tanggal 12 Desember sudah genap 5 tahun saya melaksanakan tugas sebagai Komisioner Komnas HAM RI 2012-2017. Hari Jumat, 10 November  2017, momentum terpenting dalam hidup saya karena satu tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan dan pembela orang2 kecil, kaum miskin, dan para pencari keadilan di negeri ini telah usai. Tidak mudah menjadi pembela orang2 teraniaya karena harus berhadapan dengan para elit kekuasaan, pemenang modal dan Pejabat yang sering bertindak bak monster leviathan yang menerkam warganya.

Bekeja di Komnas HAM ibarat kita berada di sebuah kapal mengarungi samudra, menantang badai dan melawan arus. Begitu banyak suka dan duka kita jalani ditempat ini di latuharhari, begitu banyak pula pelajaran dan manfaat yang aku terima, aku berikan dan juga kami berbagai.

Sejak masuk di kantor ini, aku telah menemukan persoalan utamanya yaitu: tidak memiliki nomenklatur organisasi yang baik, tata kelola dan sistem kerja yang kurang baik, fasilitas yang tidak memadai serta keuangan yang kecil. Karena itulah komitmen awal kepada staf adalah 3S: sama2 Pintar, Sama2 Sehat  dan Sama2 Kenyang: 1) pintar pengetahuan & ketrampilan. 2) Sama2 sehat baik fisik juga sehat secara rohani, mentalitas dan moralitas. 3) sama2 kenyang adalah mewujudkan staf yang sejahtera untuk memenuhi kebutuhan hidup layak.

Di Komnas HAM, impianku hanya satu yaitu menjadi ketua Komnas HAM dan bukan wakil ketua karena aku mau melakukan perubahan. Namun tidak pernah tecapai karena selalu kalah suara bahkan kalah 1 suara dalam pemilihan. Meskipun tidak pernah menduduki jabatan sebagai ketua, namun telah berusaha semaksimal mungkin mengirimkan pelatihan investigasi bertaraf internasional oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui sebanyak 22 Staf. Demikian pula kirimkan seorang staf profesional penyelidik belajar penyelidikan di pusat investigasi Amerika Serikat. Selanjutnya menyekolahkan hampir 30 staf di Pusat Pelatihan penyelidikan Reserse dan kriminal (Reskrim) Mabes Polri di Mega Mendung, Bogor. Demikian pula distribusih penanganan ribuan kasus tiap tahun secara merata untuk seluruh staf penyelidikan terus dibudayakan. Itulah sebagian kecil legasi.

Akhirnya dengan usaha yg sedikit ini telah membantu meningkatkan produktifitasnya kerja, kualitas dan integritas moral para staf yang menjadi kekuatan besar dalam penyelesaian 8.000 berkas dan penanganan atas 6.000 kasus tiap tahun. Apapun
kata orang pasti berbeda, namun  harus tegaskan bahwa selama 5 tahun ini Komnas HAM adalah salah satu lembaga yang disegani di Republik ini.

Aku tidak pernah menemukan budaya kerja staf pemantauan dalam 20 tahun perjalanan karier saya di berbagai lembaga pemerintah. Melawan arus, menantang badai. Mengarungi laut, melewati pulau dengan Sampan2 kecil,  sungai2 yg cakram dan riam, melewati bukit, gunung2 dan tebing2 terjal dan mematikan.

Bekerja tidak mengenal waktu pagi, sore, siang dan malam. Aku teringat kita tidur 3 hari 3 malam di mobil, berangkat hari Senin ke medan,…
Soekarno-Hatta adalah bandara paling menguntungkan, paling cash-rich. Kok malah mau dijual — cara berfikir keblinger dan konyol. Menyedihkan, ternyata Nawacita dan Trisakti hanya jadi slogan,, bukan jadi referensi kebijakan. Semakin menjauhkan diri dari cita2 kemerdekaan.(KONF/RMOL)

Category: 


from Politik https://www.konfrontasi.com/content/politik/alkisah-di-latuharhari-mengharu-biru-kan-perasaan
via IFTTT

close