Aksi Solidaritas Mahasiswa Indonesia Peringati 13 Tahun Tragedi Takbai

KIBLAT.NET – 13 tahun pasca tindakan kekerasan di Tak Bai, Thailand Selatan, tragedi pembantaian yang brutal, akar dari kasus tangkapan enam warga sipil atas tuduhan pemberontak, sehingga menjadi punca api demonstrasi ribuan warga Patani di depan Kantor Polisi Takbai, 25/10/2004. Tragisnya, kejadian tersebut menewaskan warga Patani sebanyak 86 dan ratusan orang yang hilang tidak tahu nasibnya, dampak dari pembubaran demonstrasi oleh aparat Thailand.

Tragedi tersebut mengobarkan konflik antara warga Patani dengan pemerintah Thailand semakin membara dan tak usai berhenti. Menurut Human Rigth wacth melaporkan bahwa konfilk Patani tersebut sudah mengorbankan nyawa warga sipil 6,800 orang sejak tahun 2004-2016.

Peneliti Wahid Institute, Ahmad Suaedy menjelaskan akar kekerasan di Patani terjadi karena konsep nasionalisme yang belum selesai. Pemerintah Thailand belum bisa menerima keberagaman di Thailand Selatan yang berbasis muslim.

“Ketika identitas dan Bahasa Melayu tak diakui, orang-orang Patani selalu kalah berkompetisi dengan masyarakat Thailand,” jelas Suaedi dalam diskusi Peringatan 13 Tahun Tragedi Tak Bai: Memahami Konflik Di Balik Tragedi Kemanusiaan di Patani (Thailand Selatan) pada Senin (30/10/2017), di Jakarta. Seperti dikutip oleh Anadolu.

Demikian, pada moment yang sama, Ikatan Pemuda Patani se-Indonesia (IPPI) Yogyakarta melakukan aksi damai memperingati 13 tahun teragedi Takbai, di kawasan nol KM, tepat depan benteng Vredeeburg, Kota Yogyakarta, Sabtu (28/10).

Aksi tersebut dimulai dengan kempenye dan roadshow membagi buletin kepada warga masyarakat yang lalu lintas di simpang empat Nol-Kilometer. Selain itu, IPPI berkesempatan mengikuti rangkaian aksi damai yang digelar oleh HMI dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, yang dimulai pukul 10.00 sampai 13.00 WIB.

Menurut Syukri, keordinatur IPPI mengatakan bahwa Kampenye para mahasiswa Patani di depan gedung kantor Pos Indonesia, Kota Yogyakarta. dijalani dengan lancar, Kebiasaan tanggal 25 Oktober adalah hari meperingati peristiwa Takbai tersebut, namun tanggal 28 Oktober menjadi momentum yang lebih tepat untuk mengadakan kegiatan, dikarenakan hari Sumpah Pemuda bagi bangsa Indonesia. Di titik nol KM sebagai tempat strategis untuk beraksi, sehingga aspirasi penderitaan rakyat Patani tersampaikan para aktivis dan mahasiswa dan masyarakat Indonesia.

“Upaya yang akan kita lakukan pada hari memperingati peristiwa Takbai adalah dengan memberikan buletin kepada warga yang lalu lintas di lampu merah nol KM, namun kita memilih hari sumpah pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 2017 sebagai hari pelaksanaan, yang dimana menjadi momentum yang lebih tepat, apalagi pada hari tersebut berbagai organisasi mahasiswa akan mengadakan aksi salah satunya HMI cabang Yogyakarta, harapan semoga kita dapat bersolidaritas dengan mereka,” tegas Syukri, disela-sela acara, Sabtu, (28/10)

Semeatara itu, Menurut Arifin, Keordinatur HMI cabang Yogyakarta menyatakan sekilas hari sumpah pemuda. Kata Arifin, sejarah kepemudaan pada masa itu memang dibangun oleh banyaknya golongan daerah yang hadir, mulai dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Maluku, Jong Celebes dan lain-lain. Penanaman sikap nasionalisme, pada waktu itu, dibentuk atas dasar pemahaman keberagamaan. “Nah, melalui Aksi Hari Sumpah Pemuda inilah sebagai nilai dari perjuangan-perjuangan yang dilakukan pemuda dulu,” ujarnya, seperti dikutip Serikatnew.

“Saya sangat bangga bisa melakukan aksi bersama kader-kader HMI Cabang Yogyakarta. Dengan aksi ini, kita juga ikut andil dan memberikan sumbangsih yang berarti kepada Indonesia secara umum, yang sadar akan peran dan fungsinya sebagai tulang punggung sekaligus asset Bangsa Indonesia,” sebut Alfin.

Pada hari yang sama, koordinator IPPI bertemu dengan Kordinator Lapangan HMI, Muazzim, mulai berdialog oleh IPPI dengan menceritakan terkait dengan peristiwa Takbai sehingga mengadakan aksi tersebut, disambut dengan baik oleh perwakilan HMI sehingga pada sesi terakhir aksi diminta perwakilan IPPI untuk berorasi.

Menurut Muh. Usman, perwakilan IPPI saat menyampaikan orasi menegaskan bahwa meskipun Berbeda organisasi, tanah air dan bangsa, namun antara dua golongan aksi pada hari tersebut mempunyai tujuan yang sama mengembalikan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Ia menegaskan bahwa tragedi takbai merupakan peristiwa yang tidak pernah dilupakan oleh masyarakat Patani, dimana kemanusaian warganya dirobek dengan sebrutal-brutal, lantasnya perjuangan kemanusiaan dan kebebasan di Patani (Thailand Selatan) harus didukung dan solidaritas Internasional seperti Isu Palestina,

“Pada 25 Oktober 2004 peristiwa yang berlaku di luar peri kemanusiaan, peristiwa yang boleh dikatakan sebagai cetusan api konflik berdarah sampai hari ini belum lagi selesai. Kami berharap suara kami dapat didengankan oleh masyarakat Internasional, seperti orang Indonesia mengenal Palestina, kami berani mengatakan bahwa Patani adalah Gaza Asia tenggara. Kami juga berharap kita dapat bersolidaritas bersilaturrahmi sampai kapan pun”.

Selain itu, Aksi tersebut diakhiri dengan penyanyian lagu mars mahasiswa Patani “Ayuhai Pemuda” sehingga dapat membangun semangat spirit perjuangan, dan tantangan-tantangan yang terjadi sekarang bisa terus diupayakan melalui generasi-generasi yang produktif dan dinamis, oleh karena itu, Momentum hari Sumpah Pemuda Indonesia berhak menjadi roda perjuangan pemuda Patani untuk membela haknya. (Tunas/Husasan)

The post Aksi Solidaritas Mahasiswa Indonesia Peringati 13 Tahun Tragedi Takbai appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: