Akhirnya Setya Novanto Masuk Penjara: Pandangan Politikus Senior Golkar

Oleh: Musfihin Dahlan (Politisi Senior Partai Golkar)

Menjelang Munaslub Golkar tahun 2014, saya diundang makan siang olh seorang pengusaha. Pengusaha ini banyak mengerikan proyek-proyek APBN. Dalam pembicaraan ngalor ngidul, ujung-ujungnya pengusaha ini minta saya mendukung Setya Novanto. Dan ia juga meminta saya menjadi salah seorang anggota tim sukses.

Yang menarik, Saya diminta khusus menjadi komunikator antara Setya Novanto dgn Akbar Tandjung dan faksinya. Juga disediakan anggaran yang dibutuhkan utk menyukseskan Novanto. Anggaran tidak dari Setya Novanto, melainkan dari kantung Sang Pengusaha.

Saya tahu, Akbar Tandjung sejak Awal tdk setuju Setya Novanto menjabat posisi strategis di Partai Golkar maupun di DPR. Krn Itu dia menentang dan menyatakan ketidaksetujuannya, sewaktu Ketum Partai Golkar menunjuk Setya Novanto sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar. Dan sikap Akbar tsb disampaikan kepada Aburizal dan Novanto. Begitu pula ketika Aburizal menunjuk Setya Novanto sebagai Ketua DPR, Akbar Tandjung sekali lagi menyatakan sikapnya: ia tidak setuju.
Menjelang Munaslub, Akbar secara terbuka mendukung Airlangga Hartato, alih-alih mendukung Setya Novanto. Walaupun Setya Novanto, beberapa kali menemui Akbar Tandjung utk minta restu.

Sewaktu saya tanya, apa yang menjadi alasan pengusaha ini, begitu terlibat untuk mensukseskan Setya Novanto memimpin Partai Golkar. Secara singkat saya rangkum dari dialog kami:

Pertama, Setya Novanto org baik, banyak “menolong” pengusaha; Kedua, Setya Novanto seorang mualaf, yang sekarang taat sholat; Ketiga, sudah naik haji dan umrah.

Mendengar ungkapan ini saya hanya tersenyum dan menarik nafas. Setya Novanto memeluk Islam, Karena menikah dgn istrinya yang sekarang Destri Tagor, yang beragama Islam. Sebelumnya Novanto adalah pemeluk Katolik.

Setelah bicara panjang lebar, Saya menyatakan terimakasih atas tawaran sebagai anggota Tim Sukses. Namun Saya sampaikan Saya tdk bersedia. Pertimbangannya, selain krn sosok Novanto, melainkan demi kebaikan dan kebesaran Partai. Jika Partai Golkar dipimpin oleh Setya Novanto, citra Partai akan menurun dan akhirnya ditinggal konstituen.

Saya sampaikan, Citra diri Novanto yang ada di benar publik, adalah pelaku bisnis pasar gelap (walaupun belum tentu benar). Tetapi Itu sdh melekat dan susah diubah. Dan juga setelah menjabat Ketua Fraksi dan Ketua DPR, Setya Novanto sendiri tdk berupaya membangun citra positif tentang dirinya. Banyak pernyataan-pernyataannya yang dipersepsi oleh publik melindungi para pecundang yang memainkan proyek APBN. Jadi kesimpulannya: Citra Novanto akan menjadi beban Partai Golkar.

Setya Novanto kemudian menang dalam Pemilihan Ketum Partai Golkar pada Munaslub di Bali. Kemenangannya kombinas kekuatan finansial dan dukungan kekuasaan. Selama Munas, Forum persidangan ibarat ruang orkestra, dgn lagu yang sama. Hanya satu dua orang yang bersuara beda. Bahkan, ketika Akbar Tandjung, menyampaikan pendapatnya, serta metta disanggah dgn kasar oleh kader muda Golkar yang nota bene pernah dibesarkan olh dia. Forum Itu menyedihkan sekali, utk sebuah Munas Partai Besar, yang seharusnya menjadi forum pertukaran gagasan utk memberi kontribusi bagi kebaikan bangsa dan negara.

Karena Itu, sewaktu ada senior yang mengusulkan Saya tetap masuk menjadi salah seorang Pengurus DPP Partai Golkar dibawah Ketum Novanto, Saya menolak. Saya memilih di luar struktur. Saya tidak ingin ikut menenggelamkan Partai Golkar krn ditinggal konstituennya.

Apa yang saya khawatirkan, dan Akbar Tandjung khawatirkan, secara pasti terbukti. Rating Golkar dlm setiap jajak pendapat, terus menerus menurun. Demikian pula citra DPR yang semakin tdk dipercaya oleh rakyat.

Setelah Setya Novanto ditetapkan sbg tersangka korupsi e-KTP, dukungan kepada partai Golkat makin tergerus tajam.  

Sekarang Setya Novanto sudah tersangka dan ditahan di Rutan KPK. Drama yang dilakukan, dengan berbagai akrobat politik dan hukum, mencapai antiklimaks. Berujung di penjara.

Namun dampaknya terhadap Partai Golkar kian parah. Yang paling memprihatinkan, tingkat kesadaran politik pengurus DPP dan DPD yang sampai saat belum berani mengambil sikap. Ini tentu bukan sekedar pertimbangan menjaga keutuhan Partai, tetapi lebih dari itu, dalamnya utang budi kepada Novanto, sehingga menanggalkan akal sehat.

Kita akan lihat, babak berikutnya drama Partai Golkar. Apabila kasus Setya Novanto tidak diambil hilmahnya, dan budaya transaksional masih diteruskan, bisa diperkirakan pengganti Setya Novanto, masih dari arus utama para oligarki yang menabur kekuatan uang. Ini tdk akan mengubah citra Partai Golkar. Dan Golkar akan makin dijauhi olh konstituen Pemilihnya. Wassalam.

Tags: 
Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/akhirnya-setya-novanto-masuk-penjara-pandangan-politikus-senior-golkar
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: