100 Lebih Korban Serangan Udara di Somalia, Transparansi Operasi AS Dipertanyakan

KIBLAT.NET, Mogadishu – AS mengklaim telah membunuh kurang lebih 100 pejuang Al-Shabaab di Somalia dalam sebuah serangan udara pada Selasa (21/11/2017). Serangan itu menargetkan sebuah kamp Al-Shabaab, 25 mil barat laut Mogadishu pada pukul 10.30 waktu setempat.

“Pasukan AS akan terus menggunakan semua tindakan yang berwenang dan tepat untuk melindungi orang Amerika dan untuk menonaktifkan ancaman teroris,” kata Komando Afrika AS (AFRICOM).

“Operasi anti-terorisme di Somalia dilakukan bersama Misi Uni Afrika di Somalia (AMISOM) dan Pasukan Keamanan Nasional Somalia (SNSF),” imbuh pernyataan itu.

AFRICOM tidak menyebutkan apakah ada korban sipil di dalamnya. Tidak jelas apakah serangan itu menggunakan sebuah pesawat tak berawak bersenjata (drone) atau pesawat militer. Hal ini sebagai indikasi bahwa operasi pembunuhan yang dilakukan AS diselimuti kerahasiaan dan kurangnya transparansi.

“Pentagon menegaskan bahwa tidak ada warga sipil yang terbunuh dalam serangan ini. Kami tahu bahwa tanpa banyak informasi dari darat, klaim tersebut harus dinilai dengan skeptis sesungguhnya,” kata Chris Cole, Direktur Drone Wars UK.

Presiden AS Donald Trump telah mengesampingkan aturan dalam operasi serangan di luar negeri. Ia bahkan memberikan kewenangan lebih kepada Central Intelligence Agency (CIA) dan kekuatan militer AS di Somalia, meskipun dengna mempertimbangkan titik-titik panas atau medan tempur di negara tersebut.

“Serangan terbaru di Somalia ini terjadi dalam konteks serangan yang sangat signifikan dalam serangan mematikan di Somalia dan Yaman tahun ini di bawah Trump. Kekhawatiran tentang serangan ini diperkuat oleh laporan bahwa Trump telah melonggarkan peraturan mengenai serangan di luar negeri, mengurangi pengamanan yang dirancang untuk melindungi warga sipil. Perubahan ini disertai kerahasiaan yang meningkat: Aturan tersebut belum diungkapkan,” kata Alex Moorehead, ahli hukum internasional di Columbia Law.

“Pertanyaan sulit harus diajukan kepada militer AS setelah peraturan rahasia yang baru, peningkatan pemogokan, korban dalam skala seperti itu, dan laporan baru-baru ini menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana militer AS mencatat korban sipil,” lanjut Moorehead.

Ia menekankan bahwa militer AS harus menjelaskan dengan jelas tindakan apa yang diambil untuk melindungi warga sipil. Hal itu untuk memastikan bahwa semua korban yang tewas adalah target yang sah.

AS menempatkan sekitar 500 personel di Somalia, termasuk tentara yang berperang di sisi pasukan Somalia. Pesawat tak berawak AS dan pesawat tempur ditempatkan di Djibouti, Somalia utara, tempat AFRICOM mengkoordinasikan misinya di seluruh negeri.

Pada tanggal 25 Agustus, sepuluh warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan kontra-terorisme AS-Somalia di Bariire, Somalia selatan. Penduduk desa berlari untuk bersembunyi di bawah pohon pisang menghadapi serbuan pasukan AS-Somalia. Pejuang Al-Shabaab, yang menjadi sasaran serangan justru tidak berada di desa yang diserang.

Di tempat lain, pesawat tempur yang tidak dikenal membunuh militan ISIS di Somalia timur laut pada Agustus. Namun AS tidak mengklaim bertanggung jawab.

Di Somalia, AMISOM mengumumkan akan menarik sekitar 1.000 tentara pada akhir tahun. Hal itu dilaukan pasca serangan paling mematikan di Somalia yang membunuh sekitar 350 orang bulan lalu. Ada persepsi bahwa misi yang didukung PBB tersebut ingin menyelamatkan jejaknya.

Pemerintah Inggris telah mengerahkan resimen khusus dari 85 personil militer untuk berlatih dan bekerja dengan Misi Uni Afrika di Somalia. Namun, tidak jelas apakah Inggris mematuhi aturan ketika melakukan serangan pesawat tak berawak atau serangan udara di Somalia.

Dua warga Inggris yang kewarganegaraannya dilucuti, Bilal Al-Berjawi dan Mohamed Sakr tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Somalia pada tahun 2012. Tidak jelas apakah pemerintah Inggris memberikan informasi lokas, karena Al-Berjawi terbunuh setelah melakukan panggilan telepon ke istrinya di London untuk mengucapkan selamat kepadanya atas kelahiran putra pertama mereka. Kebijakan drone Inggris diselimuti kerahasiaan tanpa kerangka kerja yang jelas.

“Kebijakan baru ini oleh pemerintah Trump harus membuat mitra Uni Eropa lebih berhati-hati dalam rangka berbagi intelijen dengan AS, karena ini dapat digunakan untuk pembunuhan yang ditargetkan. Operasi semacam ini juga dapat memperkuat preseden penggunaan kekuatan mematikan di luar area konflik bersenjata, yang sebelumnya ditetapkan oleh pemerintahan Obama yang sekarang dapat diikuti negara lain. Ini menjadi keprihatinan serius bagi organisasi masyarakat sipil di Uni Eropa dan AS,” kata Wim Zwijnenburg, Pemimpin Proyek Perlucutan Senjata Kemanusiaan untuk organisasi perdamaian Belanda PAX yang juga memimpin Forum Eropa untuk Armed Drones.

“AS tampaknya telah membatalkan persyaratan bahwa kelompok dan/ atau individu harus mengajukan ancaman berkelanjutan dan terus-menerus ke AS. Ini membuka jalan untuk serangan yang lebih mematikan, apakah dengan pesawat terbang berawak, pesawat tak berawak atau serangan komando, di daerah-daerah di luar permusuhan yang tidak aktif, tanpa transparansi, pengawasan dan pertanggungjawaban,” lanjut Zwijnenburg.

Untuk memperkuat mekanisme transparansi dan akuntabilitas, penting bagi AS untuk membuka semua data mengenai serangan tersebut, penilaian kemungkinan korban sipil dan mengklarifikasi kerangka kebijakan hukum dalam operasi serangan. Menurut Bureau of Investigative Journalism, Amerika Serikat telah membunuh sekitar 510 orang Somalia dan melukai 54 lainnya sejak 2007.

Sumber: Middle East Monitor
Redaktur: Ibas Fuadi

 

The post 100 Lebih Korban Serangan Udara di Somalia, Transparansi Operasi AS Dipertanyakan appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: