‘Pribumi’ di Zaman Nabi

KIBLAT.NET – Saat Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya hijrah dari Mekkah, mereka disambut baik oleh pribumi Madinah. Para pribumi memberikan rumah, harta, lapangan kerja bahkan jodoh bagi para pendatang, Nabi dan para sahabatnya.

Indahnya hubungan pribumi dan pendatang itu direkam dalam sejarah, yang kemudian akrab kita kenal dengan persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Mengapa mereka bisa begitu ramah bersahabat dan saling bersaudara?

Sebagai pendatang, Nabi Muhammad SAW memberikan keuntungan yang besar. Pribumi Madinah (suku Auz dan Khazraj) sebelumnya selalu berperang. Dengan hadirnya Nabi SAW, mereka hidup rukun dan damai dalam agama baru, yaitu Islam.

Pendatang itu juga mampu membebaskan pribumi dari jerat perbudakan orang-orang Yahudi saat itu di Madinah. Yang paling agung, ajaran yang dibawa pendatang itu membawa kehidupan yang lebih baik bagi mereka, baik dunia maupun akhirat.

Di dunia mereka disatukan dalam indahnya persaudaraan. Tak boleh ada cela, tak boleh ada maki. Sementara di akhirat, dengan mengimani ajaran pendatang itu, mereka dapat selamat dari ancaman siksa api neraka. Pendatang yang dipimpin Nabi Muhammad SAW itu membawa ajaran yang melarang membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, mencuri, berzina, riba dan berbagai tindak kejahatan yang merugikan kehidupan mereka.

Pendatang itu mengajari mereka kecintaan terhadap akhirat dan bagaimana bersikap yang benar terhadap dunia. Ajaran pendatang itu mengajak mereka keluar dari hamba dunia, untuk kemudian mempersiapkan diri demi kehidupan kekal di akhirat.

Besarnya manfaat yang diperoleh dari pendatang itu, membuat pribumi sangat mencintai pendatang. Bentuk kecintaan mereka di antaranya:

Pribumi sanggup seiya-sekata bersama-sama pendatang dengan dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam perang Badar, di mana awalnya mereka tidak siap untuk berperang, kaum pribumi diwakili Sa’d bin Muadz menyatakan kesetiaannya kepada apapun yang diperintahkan Nabi SAW.

“Wahai Rasulullah, Allah telah mengutusmu, dan kami telah mengimani itu. Engkau memerintah, dan kami akan taat. Engkau melarang, kami akan menahannya. Wahai Rasulullah, kami telah memberikan baiat kepadamu bahwa kami akan selalu setia bersamamu, apapun keadaannya.”

Demi Allah, jika engkau menyebrangi lautan, kami akan ikut bersamamu. Hari ini adalah hari di mana Allah menunjukkan kepadamu bahwa kami (pribumi) adalah lelaki sejati, dan kami akan selalu pegangi ucapan kami. Demi Allah, kami akan taat bila engkau memerintahkan kami untuk ikut berperang.”

Pada perang Hunain, pribumi Madinah juga rela tidak mendapatkan bagian apapun dari rampasan perang, sementara orang lain yang baru masuk Islam diberi harta yang banyak oleh Nabi SAW.

Memang awalnya mereka sempat mengeluh. Namun Nabi SAW dengan bijak menjelaskan kepada mereka bahwa harta itu diberikan agar orang-orang yang baru masuk Islam itu semakin kuat imannya.

Adapun kepada pribumi Madinah, Nabi SAW tidak memberikan apa-apa karena Nabi yakin iman mereka telah kuat. Nabi SAW juga menyebutkan kecintaaannya kepada pribumi Madinah, dan akan tetap tinggal bersama mereka.

Akhirnya kaum pribumi Madinah sadar. Mereka menyatakan ridha, pulang “hanya “ membawa Nabi SAW sementara orang lain membawa tumpukan harta. Mereka menangis dan menyesal karena sebelumnya telah mengeluh.

Kaum pribumi sangat mencintai para pendatang yang hijrah dari Mekkah. Rumah mereka bagi agar bisa ditinggali pendatang. Demikian juga harta, mereka berbagi bersama para pendatang.Bahkan yang punya istri lebih daripada satu, pribumi menawarkan kepada pendatang untuk memilih mana yang disukai, nanti akan diceraika agar dapat dinikahi oleh pendatang.

Di sisi lain, pendatang juga tidak kemaruk. Mereka juga tahu diri. Abdurrahman bin Auf, misalnya tidak mau bergantung pada pemberian pribumi. Ia hanya minta ditunjukkan pasar, agar ia bisa berdikari dan mencari uang sendiri.

Begitulah, sebenarnya saat Islam masuk Madinah, tak ada lagi istilah pribumi dan pendatang. Istilah Anshar dan Muhajirin hanya untuk membedakan “siapa” telah “berperan apa.” Selebihnya, mereka menjadi umat yang satu, kaum Muslimin.

Indahnya kehidupan pribumi dan pendatang di atas hanya terjadi pada masa Islam. pribumi membuka dua tangannya, memberikan segala yang diperlukan pendatang.

Pendatang pun tahu diri, tidak mentang-mentang pribumi bersikap baik hati, kemudian kemaruk dan ingin menguasai tanah dan harta pribumi. Tidak ada invasi berkedok investasi. Kedua belah pihak sama-sama tulus. Semua keindahan itu hanya ada dalam bingkai Islam.

Penulis: Mas’ud Izzul Mujahid
Editor: Arju

The post ‘Pribumi’ di Zaman Nabi appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT