Muhammadiyah Terlalu Dewasa Diajari Tentang Kemajemukan

JAKARTA, (Panjimas.com) – Dalam acara Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan mengusung tema, “Islam, TNI dan Kedaulatan Bangsa”, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hajriyanto Y. Tohari mengatakan, Muhammadiyah itu sangat patriotis dan nasionalis, artinya sangat mencintai negara dan bangsa Indonesia.

Hajriyanto memberikan contoh, yaitu Pendiri Muhammadiyah sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia KH. Ahmad Dahlan. Menurutnya, KH. Ahmad Dahlan adalah seorang yang patriotis dan juga seorang yang cinta tanah air.

“Ketika ia mendirikan Hizbul Wathon pada tahun 1920-an itu perpaduan Hizbul Wathon dengan Muhammadiyah. Beliau menamakannya Hizbul Wathon (dan) tidak menamakannya dengan Hizbullah seperti yang ada di Lebanon dan juga tidak Hizbul Islam, tapi Hizbul Wathon itu tentara tanah air,” kata Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y. Tohari, di aula KH. Ahmad Dahlan, Menteng, Jakarta Pusat, Jum’at (6/10/2017).

Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengusung tema “Islam, TNI dan Kedaulatan Bangsa”, turut dihadiri oleh Prof. Dr. Haedar Nasir, Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, Prof. Salim Said, Drs. Hajriyanto Y Tohari dan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, sebagai pembicara.

Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), lanjut Hajriyanto, beliau berpidato dengan mengatakan, Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) adalah memberikan pertolongan kepada orang-orang yang sengsara tanpa melihat latar belakang perbedaan suku, bangsa dan agama.

“Alhasil, Muhammadiyah itu dari awal sebagaimana yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan di samping mengajarkan Islam yang berkemajuan dia juga mengajarkan kemajemukan, kebhinekaan dan patrotisme,” tuturnya.

Oleh karena itu, Muhammadiyah terlalu dewasa untuk diajari orang-orang sekarang tentang kemajemukan. “Kamu (kalian) itu lahir tahun berapa, mau mengajari Muhammadiyah. Muhammadiyah lahir tahun 1912 dan dari awal KH. Ahmad Dahlan itu sangat menjunjung tinggi kemajemukan, patriotis dan cinta tanah air,” sindirnya kepada orang yang menuding Muhammadiyah anti kebhinnekaan.

“Orang lahirnya tahun 60-an kok ngajari Muhammadiyah.” pungkasnya. [DP]
From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT