Kajian Berandal di Masjid An Nikmah, Dihadiri Jamaah Mantan Preman

SOLO, (Panjimas.com) – Bersama Rasakan Dasyatnya Amal (Berandal) tahab dua, kajian jamaah tablik di Masjid An Nikmah Solo dipenuhi mantan preman dan anak jalanan, Ahad (22/10/2017).

Ustadz Ruli, panitia acara menjelaskan bahwa taubat adalah pintu diterima amal kebaikan meski banyak dosa dan maksiat masa lampau. Dia menceritakan kisah pedagang kehilangan hartanya.

“Satu saat ada pedagang pulang tidur dibawah pohon. Unta bersama dagangannya yang diikat di pohon hilang. Kecapean mencari untanya dan sebua dagangannya hilang akhirnya di pohon tadi tidur. Hingga terbangun kaget luar biasa seluruh unta dan dagangannya kembali hanya saja tidak terikat. Sampai saking gembiranya salah ngomong, ya Allah bahwa engkau hambaku aku tuhanmu,” ujarnya.

hambanya bertaubat. Yang dulu nyekek kartu sekarang nyekek tasbih, tapi taubat ada syaratnya. Satu menyesal, kedua pergi memperbaiki diri. Makanya kalau benar taubat perintahnya kumpul bersama orang sholeh,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu peserta kajian Berandal asal Yogyakarta, Iyan, seorang  pembuat Tatto artis di Bali. Sejak 2007 menggeluti

Ustad Ruli mengatakan bahwa Allah lebih gembira kepada hambanya yang bertaubat. “Allah ingin melihat mentatto tubuh orang merasa hidupnya bermasalah. Dunia miras, narkoba dan free sex menjadi kehidupan hariannya.

“Satu setengah tahun lalu mau nikah ke Jogja, ada masalah dengan pacar. Saat ngopi saya diatangi 3 orang jamaah tablik, padahal saya risih melihat pakaian begini,” kata Iyan mengawali kisah hijrahnya.

Iyan tidak tertarik meski sempat 3 hari ikut program di Masjid. Kembali ke Bali menggeluti dunia Tatto, dia suatu ketika bermimpi kematian saat tertidur dalam kondisi mabuk. Dari mimpinya ketakutan Iyan memuncak dan ingin behijrah, namun bingung siapa yang menuntunnya.

“Saya kepikiran nemui 3 orang yang dulu. Suatu ketika jual produk kecantikan online, di Jogja minta kirim. Lokasi COD sama seperti waktu saya ngobrol dulu. Orang yang pesen itu ternyata istri Dewa Ramadhan seorang yang nemui saya dulu. Saya temuin beliau ikut program 3 hari, pertama hanya makan tidur hari kedua ngerasa ada perubahan. Selesai tiga hari saya nangis-nangis, habis itu saya nyadar,” ungkapnya. [SY]

 

 


From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT