Al Chaidar Lakukan Penialain Terhadap Peristiwa Samalanga

KONFRONTASI - Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe Al Chaidar menilai seharusnya peristiwa Samalanga yang terjadi pada Selasa malam 17 Oktober 2017 lalu tersebut tak perlu terjadi. Kamis 19 Oktober 2018.

“Ya, seharusnya tak perlu terjadi hal seperti ini,” katanya.

Meski kasus pembakaran tiang Masjid Taqwa dan satu balai milik Organisasi Muhammadiyah di Desa Sangso Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, tersebut kini telah menuai kecaman berbagai pihak, namun menurut Al Chaidar kasus tersebut terjadi lebih disebabkan adanya masalah komunikasi.

Ya, hanya masalah komunikasi. Communication is root all of the problem. Saya melihat ada insensitivitas- (sikap kurang peka-Red) di panitia atau pengurus Muhammadiyah di Aceh,’’ ujar pengamat terorisme itu.

Katanya, masyarakat kampung di Aceh sangat mudah untuk dipahami. Masjid Muhammadiyah bisa dibangun dimana saja, asalkan panitia atau pengurus bisa mengambil hati mereka. Dikatakan Al Chaidar, ada banyak masjid Muhammadiyah yang sudah berdiri selama ini dan tidak menjadi persoalan.

Peristiwa seperti yang terjadi di Samalanga merupakan kasus biasa, menurutnya kasus tersebut sebagai ungkapan kekecewaan sesaat.

“Masyarakat di Aceh agak berbeda dengan masyarakat di Medan. Di Medan, setiap ada masjid yang mau digusur atau dirobohkan, apalagi kalau dibakar, mereka akan bereaksi secara luar biasa militannya. Sementara di Aceh perebutan masjid dan juga pembakaran masjid adalah dinamika biasa, itu sebagai ungkapan kekecewaan atau kemarahan sesaat,” jelas penulis buku Aceh Bersimbah Darah itu.

Saat diminta tangapanya terkait sikap toleran masyarakat Aceh dirinya menyatakan bahwa masyarakat Aceh masih sangat toleran terhadap perbedaan-perbedaan.

“Ya, masyarakat Aceh sangat toleran sebenarnya. Namun semua toleransi itu ada batasnya. There is a limit to tolerance. Batas-batas toleransi itu sangat jelas kok. Masyarakat kampung yang biasa diasuh oleh mazhab Syafii dan Maturidiy sangat toleran dengan aliran yang berbeda,” ujar dosen yang sedang melakukan studi tentang benturan antar Mazhab sesama suni di Aceh tersebut.

Namun, dirinya juga tidak memungkiri bahwa kasus tersebut di picu oleh konflikkepentingan para pemimpin local yang tidak ingin ditingalkan oleh kontituenya dalam pemilu.

“Konflik kepentingan ada juga sedikit, dimana para pemimpin lokal lebih memihak kepada penganut Syafii karena mereka tidak mau ditinggalkan konstituen yang pemilih mereka dalam pimilu,” pungkas sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia.(KNF/ACEHNEWS)

Category: 


from Politik https://www.konfrontasi.com/content/politik/al-chaidar-lakukan-penialain-terhadap-peristiwa-samalanga
via IFTTT