5 Fakta Penting tentang Raqqah, Bekas Ibukota ISIS di Suriah

KIBLAT.NET, Raqqah – Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengumumkan mengakhiri operasi mengusir Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS) di Raqqah pada Selasa (17/10). Pengumuman itu dikeluarkan setelah milisi yang didukung AS itu berhasil mencapai ibukota ISIS dan mengibarkan bendera mereka.

“Operasi militer di kota Raqqah telah selesai dan dilanjutkan operasi penyisiran untuk menghilangkan sel-sel tidur ISIS, jika ada, dan membersihkan ranjau,” kata juru bicara milisi SDF, Thalal Salaw, Selasa. Ia menbahkan bahwa pengumuman resmi perebutan Raqqah akan dikeluarkan beberapa jam ke depan.

Raqqah menjadi pusat perhatian karena dianggap sebagai ibukota defacto ISIS di Suriah. AS sengaja mengincar kota ini sebagai strategi untuk melumpuhkan jaringan ISIS. Jika wilayah-wilayah kiblat ISIS jatuh, hal itu dapat memukul moral pasukan pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi itu.

Terlepas dari itu, ada sejumlah fakta menarik terkait Raqqah. Berikut fakta-fakta tersebut:

Provinsi pertama yang dibebaskan oposisi Suriah

Raqqa adalah provinsi di Suriah pertama yang direbut oleh pejuang Suriah setelah pecahnya revolusi di awal tahun 2011.

Pada bulan Maret 2013, faksi-faksi militer oposisi, termasuk Jabhah Nusrah (yang saat ini sudah berubah nama), Jabhah Islamiyah dan Ahrar Syam, menyatakan kontrol penuh atas wilayah ini.

Gubernur Raqqah dan Sekretaris Partai Ba’ats (partainya Bashar Assad) berhasil ditawan. Patung Hafidz Assad, ayah Bashar Assad, di kota tersebut dihancurkan beramai-ramai. Seluruh tahanan politik dibebaskan.

Namun belum genap setahun, organisasi Daulah Islamiyah (ISIS) masuk Raqqah dan mengumumkan kota tersebut menjadi ibukotanya di Suriah. Hal itu terjadi pada Januari 2014.

Basis Utama ISIS di Suriah

Setelah masuk Raqqah, ISIS mengumumkan kota tersebut sebagai “ibukota Khalifah”. Sejak saat itu, ISIS mengukuhkan keberadaannya di Suriah dan memiliki wilayah luas di Negara tersebut.

Saat itu, jubir ISIS Abu Muhammad al-Adnani, mengumumkan pembentukan “Khilafah” dan mengukuhkan Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai “Amriul Mukminin.” Kemudian disusul dengan pernyataan dihapusnya garis perbatasan Iraq dan Suriah dan menjadi wilayah “Khilafah” yang satu.

Beberapa hari kemudian, militer Assad menarik diri dari markas Brigade ke-17 dan Brigade ke-93 di utara Raqqah. Penarikan diri itu juga terjadi di bandara militer Al-Thabqah. Praktis, daerah-daerah pentin gitu jadi wilayah ISIS.

Kontrol ISIS di Raqqah pun dijadikan alasan koalisi pimpinan AS masuk Suriah. Internasional bertaruh di kota ini dengan mendukung milisi Kurdi baik dengan senjata berat, ringan dan pendaan.

Terletak strategis 

Raqqah dilalui Sungai Efrat sehingga menjadikannya salah satu wilayah penghasil hasil bumi tertua di Suriah. Dari arah timur, Raqqah berjarak sekitar 160 km. Sementara dari Iraq, Raqqah hanya berjarak 200 km.

Setidaknya ada tiga bendungan Efrat di kota tersebut. Bendungan paling besar dikenal dengan nama Bendungan Efrat. Bendungan ini hancur oleh serangan koalisi dan milisi Kurdi selama operasi militer. Bendungan besar lainnya bernama Bendungan Al-Thabqah. Dua bendungan ini sebelumnya menjadi sumber air dan pembangkit listrik bagi warga Raqqah dan Aleppo.

Sementara bagi milisi Kurdi, posisi Raqqah sangat strategis. Pasalnya, kota tersebut menghubungkan wilayah-wilayah kontrol Kurdi di ujung timur laut Suriah dengan daerah-daerah yang baru direbutnya, seperti Manbij dan desa-desa sekitar.

Raqqah sempat menjadi Ibukota Khalifah Harun Al-Rasyid

Kota Raqqa mencapai puncak kemakmurannya selama kekhalifahan Abbasiyah. Pada tahun 722, khalifah al-Mansur memerintahkan pembangunan kota Rafiqah di dekat kota Al-Rigga. Kedua kota bergabung kemudian.

Antara tahun 796 dan 809, Khalifah Harun al-Rashid menjadikan Raqqah ibu kota khilafah kedua, setelah Baghdad. Wilayah ini dugnakan untuk persimpangan jalan antara Byzantium, Damaskus dan Mesopotamia. Harus Ar-Rasyid dibangun istana dan mesjid.

Pada tahun 1258, bangsa Mongol menghancurkan kota-kota Rafiqah dan Raqqa, serupa dengan yang mereka lakukan di Baghdad.

Raqqah tertua di Suriah

Raqqah berdiri tahun 244 atau 242 sebelum Masehi yang sebelumnya bernama Celenikos. Menurut ahli sejarah, kota ini menjadi pusat ekonomi dan militer. Kota ini pun menjadi kota paling bersejarah di Suriah.

Di dalamnya banyak peninggalan bersejarah, seperti Dinding Kuno Raqqah dan Benteng Jakbar. Namun sebagian peninggalan tersebut hancur akibat konflik.

Kini, kota bersejarah itu sudah berada di tangan milisi Kurdi berkat dukungan koalisi AS. Sejauh mata memandang, hanya terlihat kehancuran. Sengitnya serangan jet koalisi dan milisi Kurdi membuat kota itu terlihat seperti kota mati. Butuh dana jutaan dolar untuk membangunnya kembali.

Sumber: enabbaladi.net
Redaktur: Sulhi El-Izzi

 

The post 5 Fakta Penting tentang Raqqah, Bekas Ibukota ISIS di Suriah appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT