Pagar Makan Tanaman

Bismillahir Rahmanir Rahim

Beberapa waktu lalu Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) Drs. Anas Sandi mengeluarkan pernyataan kontroversial. Anas menyatakan tentang:

1. Bolehnya atheis (tidak bertuhan) dengan alasan Tuhan tidak memaksa manusia untuk beragama dengan dalil Surat Al Baqoroh: 256
2. Bolehnya murtad selama tidak mengganggu ruang sosial. Dicontohkannya seperti orang yang murtad dengan tidak memprovokasi orang lain untuk anti agama.

Pernyataan pejabat UKP PIP tentu saja keliru dan menyesatkan ditinjau dari berbagai sisi di antaranya:

1. Tinjauan etika keilmuan. Sebagai orang yang bukan ahli agama (Ulama ahli Tafsir), Anas telah melanggar salah satu prinsip keilmuan yakni adab terhadal otoritas keilmuan. Para ulama adalah yang paling berhak untuk memahami syariat sesuai dengan kompetensinya yang khas di bidang agama terutama tafsir dari ajaran-ajaran agama. Bukan seorang Anas yang dari pijakan argumentasinya nampak jelas bukan seorang ahli agama. Setidaknya, sebagai awam semestinya Anas terlebih dahulu berkonsultasi dengan ahlinya terkait tafsir ayatul Qur'an sebagaimana Allah perintahkan dalam An Nahl: 43

2. Tinjauan syariat Islam. Kalimat "Laa ikraha fiddien" dalam ayat ke 256 surat Al Baqarah telah dijelaskan maknanya oleh para ulama ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, At Thabari, Ash Shabuni dan lainnya bahwa makna "tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam" adalah karena sudah jelas mana kebenaran dan mana kebathilan sebagaimana Allah tegaskan dalam kalimat berikutnya setelah kalimat tsb "qad tabayyanar rusydu minal ghayyi." 

Kebenaran Islam sudah jelas dan kebatilan selain Islam juga sudah jelas. Sehingga manusia yang berhati bersih dan lapang akan mudah untuk memilih Islam sebagai keyakinannya. Karena menurut Ibnu Katsir, tidak ada manfaat masuk Islam dalam keadaan terpaksa.

Sehingga makna "Laa ikraha fiddien" samasekali bukan bermakna Allah tidak memaksa manusia untuk beragama tapi Allah menetapkan bahwa kebenaran Islam itu sudah teramat jelas perbedaannya dari kebatilan keyakinan selain Islam. Kalimat tersebut sangat jelas menunjukkan keharusan berislam (beragama) dengan tegasnya Allah membedakan antara orang-orang yang mendapatkan petunjuk dengan orang-orang yang tersesat pada ayat-ayat selanjutnya.

Terkait murtad, Islam telah dengan sangat tegas menetapkan hukum murtad sebagai dosa teramat besar dan kekufuran yang nyata. Ancaman sanksi berat sekali berupa kekal di Neraka bagi orang yang murtad dari Islam. Silahkan cek Al Qur'an; 4:137-139, 2:217, 3:90-91,106,177, 5:54, 16:106, 22:11, 47:32.
Islam sebagai satu satunya agama yang benar dan pilihan Allah (2:132) menjadikan pemeluknya berada pada satu satunya jalan kebenaran yang tidak ada kebenaran lain selain Islam. Disebabkan itulah maka Allah berulang-ulang menekankan umat Islam agar jangan sampai wafat kecuali wafat dalam keadaan memeluk agama Islam.

Pernyataan bolehnya murtad asalkan tidak mengganggu ruang sosial menyesatkan dan tidak sesuai dengan fakta. Pada kenyataannya orang murtad dari Islam dan memilih keyakinan di luar Islam, mereka cenderung membenci dan memusuhi Islam. Karena meninggalkan kebenaran berarti berpihak kepada dan berada di dalam kebatilan. Dan kebatilan selamanya tidak akan rela kepada kebenaran. 

Begitupula atheisme, tidak bertuhan atau anti tuhan, tak terbantahkan menampakkan permusuhannya kepada orang yang bertuhan dan kepada Tuhan serta mengajak yang lain untuk mengikuti pula pilihan keyakinannya.

3. Tinjauan falsafah dan konstitusi negara. Sila pertama Pancasila "Ketuhanan yang Maha Esa" menyatakan dengan sangat tegas dan jelas bahwa ideologi bangsa ini berketuhanan. Bukan hanya berketuhanan tapi berketuhanan dengan Tuhan yang Maha Esa (Tauhid). pernyataan Anas bertentangan secara mutlak dengan Pancasila. Tidak pancasilais. Bahkan anti Pancasila. Istilah mengatakan "Pagar makan tanaman". Sebagai yang ditugaskan 'menjaga' Pancasila semestinya Anas memiliki kedalaman pemahaman yang benar-benar Pancasilais. Namun  pernyataannya boleh atheis dan murtad, jelas Anas telah menista Pancasila.

Pasal 29 ayat 1 UUD 1945 menyebutkan bahwa dasar negara adalah ketuhanan yang Maha Esa. Bagaimana mungkin seorang pejabat Negara yang ditugaskan untuk mengawal dan memelihara Pancasila bisa bertentangan dengan dasar negara.

Khatimah, mengutip sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam; "Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, nantikanlah kehancurannya." (Bukhari);
Seyogyanya demi keselamatan bangsa, hendaklah kita semua belajar untuk tidak lagi mengulang kesalahan dengan menempatkan orang pada tugas yang tidak dipahami dan dikuasainya.

Allahu A'lam
~~~~~

Wildan Hasan
Pusat Studi Islam Bunyan Auladiya Indonesia

 

Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/pagar-makan-tanaman
via IFTTT

close