Myanmar, Genosida Paling Senyap di Dunia


Ini adalah genosida/pembantaian paling senyap di dunia. Begitu senyap, sehingga ketika Anda mendengar berita tentangnya, kemungkinan besar Anda hanya mendapat penjelasan paling sederhana.

Berdasarkan Konvensi Jenewa PBB, definisi genosida meliputi unsur mental dan fisik yang berarti: “Berniat untuk menghancurkan secara keseluruhan atau sebagian dari bangsa, etnis, ras atau agama termasuk membunuh warganya”; “Menyebabkan kerugian fisik atau mental yang serius terhadap suatu kelompok masyarakat”; “Dengan sengaja membuat kondisi yang membawa kerusakan fisik secara keseluruhan atau sebagian”; “Mencegah kelahiran di dalam suatu kelompok masyarakat”; “Memindahkan anak secara paksa ke kelompok masyarakat yang lain”.

Berdasarkan setiap definisi diatas, bisa dipastikan bahwa pemerintah Myanmar sedang melakukan genosida terhadap 1,3 juta populasi Muslim Rohingya – yang sebagian besar diabaikan oleh masyarakat internasional, terlepas dari pengakuan PBB bahwa telah terjadi peningkatan frekuensi di Myanmar dalam kasus pembunuhan massal, penculikan, penyiksaan, pemerkosaan massal, pemukulan brutal, penghancuran tempat tinggal, dan deportasi paksa.

Laporan PBB tahun 2017 ini tentang “tindakan keras” Myanmar terhadap negara bagian Rakhine di utara menggambarkan kekerasan tersebut sebagai kemungkinan “kejahatan terhadap kemanusiaan,” dan bahwa “skala dari tindakan ini menimbulkan reaksi kuat masyarakat internasional,” namun masyarakat internasional, khususnya para pemimpin dan media Barat terus mengabaikan pemusnahan Muslim Rohingya yang sistematis di Myanmar.

“Kekejaman yang menghancurkan dimana anak-anak Rohingya ini telah mengalami hal yang tak tertahankan – kebencian macam apa yang bisa membuat seorang pria menusuk bayi yang menangis karena susu ibunya. Dan bagi sang ibu untuk menyaksikan pembunuhan ini saat dia diperkosa oleh pasukan keamanan yang harus melindunginya,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad Al Hussein.

Kekejaman itu termasuk pembantaian bayi dan anak kecil dengan pisau; penghancuran pasokan makanan secara sengaja, dan pembakaran serta penjarahan seluruh desa. Dari 101 wanita Muslim Rohingya yang diwawancarai oleh PBB, lebih dari separuh mengatakan bahwa mereka telah diperkosa atau diserang secara seksual.

Sattar Islam Nirob adalah pengungsi Muslim Rohingya berusia 28 tahun yang saat ini berada di salah satu dari tiga kamp pengungsi yang didirikan di dalam perbatasan Bangladesh. Dia dan keluarganya berlindung di kamp pengungsian Kutapalong, yang sekarang menampung 13.766 pengungsi Muslim Rohingya di samping 65.000 orang pengungsi yang baru datang “membuat kamp pengungsian” disebelahnya, kata Nirob.

Nirob mengatakan bahwa serangan baru-baru ini yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar mendorong jumlah Muslim Rohingya meningkat dengan cepat menuju perbatasan Bangladesh. Dia memperkirakan bahwa kemarin ada lebih dari 3000 orang yang menunggu, lebih tepatnya memohon, agar mendapat status sebagai pengungsi, sementara dia memperkirakan 1.200 lainnya telah ditangkap oleh petugas patroli perbatasan Bangladesh karena berusaha menyeberang tanpa izin.

Baru-baru ini, pasukan keamanan Banglades secara paksa mengirim kembali 90 Muslim Rohingya yang mencoba melarikan diri dari Myanmar, dan kemudian mulai menembakkan mortir dan senapan mesin ke mereka, menurut Al Jazeera.

Tetapi bahkan ketika beberapa dari ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya “beruntung” bisa masuk ke negara tetangga Bangladesh, kamp pengungsi yang menunggu mereka hanya bisa digambarkan sebagai tempat yang “mengerikan”.

Nirob menceritakan kondisi di dalam kamp Kutapalong, sambil meneteskan air mata, bahwa dia menyaksikan bayi yang kelaparan dan mengalami dehidrasi sampai mati karena kekurangan air dan persediaan susu darurat. Pengungsi lain menggambarkannya seperti jalan “beraspal dengan kotoran,” dan “gubuk penuh lumpur serta tenda sesak yang diikat sedemikian erat satu sama lain sehingga tampak seperti saling bertumpukan.” Ini adalah rumah Nirob selama dua tahun terakhir.

Dia terlalu takut untuk kembali ke Myanmar hanya untuk menghadapi kematian, penyiksaan, atau hukuman penjara.

Ketika Nirob ditanya, apakah dia merasa tidak punya harapan lagi? Nirob mengatakan bahwa dia terus berharap kepada masyarakat internasional, dengan mengatakan, “Jika pemerintah dunia dan PBB dapat bekerja sama untuk menekan Myanmar, ini akan sangat memperbaiki situasi bagi semua pengungsi Rohingya.”

Meskipun Nirob tetap optimis dalam menghadapi kekejaman yang tak terlukiskan, nampaknya usaha untuk menekan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian, telah gagal. Aung San Suu Kyi tidak hanya mencegah PBB menginvestigasi pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, tapi juga memfitnah Muslim Rohingya sebagai “teroris” dan pendukung terorisme.

Jelas, masyarakat internasional harus berbuat lebih banyak untuk menghentikan pembantaian sistematis Myanmar dan pengusiran Muslim Rohingya. Dengan tidak melakukan apapun sama artinya menolak campur tangan saat kehidupan Muslim terancam.



Sumber: www.ahtribune.com

from Muslimina http://muslimina.blogspot.com/2017/09/myanmar-genosida-paling-senyap-di-dunia.html
via IFTTT

0 Response to "Myanmar, Genosida Paling Senyap di Dunia"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas